Wednesday, 7 November 2018


You Never Walk Alone

            Hidupku sempurna bahkan jika ada kata melebihi dari itu aku akan mengungkapkan nya. Apapun yang aku mau aku bisa mewujudkannya. Di sekolah aku popular, wajahku tampan, aku pintar dan aku ramah. Banyak orang yang menyukai sikap maupun wajahku. Kedua orang tua ku bekerja, mereka berdua sama-sama sukses. Orang tua ku selalu memberikan apapun yang aku minta. Aku tidap pernah kesulitan financial, bahkan aku sering mentraktir teman-teman sekolahku. Sebenarnya aku bangga bisa memiliki kehidupan seperti ini, tetapi masih ada satu hal yang sangat mengganjal hatiku.

            Dibalik kehidupan ku yang nyaris sempurna, sebenarnya ada satu hal yang mungkin akan mengejutkan semua orang. Selama aku sekolah TK sampai aku SMA, aku selalu mengaku kalau aku adalah anak tunggal. Kedua orang tua ku pun selalu bilang kalau mereka hanya memiliki satu anak. Bahkan di data keluarga hanya ada ayah, ibu dan aku. Padahal pada kenyataannya aku memiliki seorang adik perempuan yang jaraknya hanya 3 tahun lebih muda dariku.

            Adik ku bukan lah seorang dengan keterbelakangan mental. Adik ku sempurna, memiliki wajah yang cantic dan tubuh yang indah. Hanya karena perlakuan ayah terhadapnya membuat dia menjadi seperti sekarang. Adik perempuan ku bernama Kim Tae Hee, setiap hari tae hee hanya dikurung dikamar seharian. Tidak boleh ada yang berbicara dengan nya. Bahkan asisten rumah tangga ku hanya boleh memberikannya makan lalu pergi. Aku dan ibu sama sekali tidak bisa melawan ayah, dia sangat keras. Jika aku ketauan berbicara dengan tae hee maka tae hee akan disiksa oleh ayah

            Semua yang di lakukan taehee selalu salah di mata ayah. keseharian taehee hanyalah berdiam di kamar sambil memeluk kedua kakinya. Tae hee selalu merasa cemas dan takut, sejak kecil jika tae hee menangis maka ayah akan memukulnya. Hal seperti itu adalah hal yang tabu untuk ku. Meskipun aku tidak pernah melihat langsung ketika ayah sedang memukuli tae hee tapi hatiku selalu sedih saat mendengar suara tangis tae hee.

            Setiap hari aku berangkat ke sekolah menggunakan mobil, aku sudah di belikan ayah mobil sejak awal masuk SMA. Padahal aku tidak pernah meminta ayah untuk membelikannya. Aku juga menjadi ketua osis di sekolah, hal itu membuatku menjadi semakin memiliki banyak teman. Walaupun aku tidak pernah memilih berteman dengan siapapun, tapi aku meiliki satu sahabat namanya Kwon Eunbibanyak orang mengira kami berpacaran padahal kami hanya sebatas teman saja. Aku merasa nyaman dengan eunbi terutama jika sedang membahas masalah pribadi. Aku dan eunbi berbeda kelas tetapi kelas kita hanya bersebelahan.

            Eunbi anak yang ceria dia juga pintar banyak yang suka pada eunbi, satu hal yang membuatku mengagumi nya adalah eunbi sangat lah dewasa. Eunbi selalu bisa memberikan ku solusi jika aku sedang mengalami masalah. Aku tidak inginpacaran dengannya karena aku takut kehilangannya. Untungnya eunbi tidak seperti wanita pada umumnya yang memaksa untuk meiliki status. Eunbi juga sanagat nyaman seperti ini. Aku sering mengantar eunbi pulang bahkan orang tua eunbi juga sudah kenal padaku.

            “taehyung” sapa seorang wanita dari sebrang jalan
            “ummm selamat pagi putri cantik” ucapku seraya menghampiri eunbi
            “aiisshhh ayo kita ke kelas” eunbi menarik lenganku
            “bagaimana latihan voly mu kemarin, ku lihat-lihat kulit mu semakin hitam sekarang” aku menggoda eunbi sambil menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala
            “doakan aku ya bisa masuk kedalam tournament nasional tahun ini” eunbi tersenyum manis padaku, senyum yang selalu membuatku rindu
            “nanti kalau kau bisa ikut dan menang kau harus traktir aku di sevel ya, aku mau makan mie remyeon sampai muntah” ketika bersama eunbi aku akan berubah menjadi humoris padahal orang lain melihatku sangatlah berwibawa
            “hanya ramyeon?, padahal tadinya aku ingi mentraktir makan Samyang sampai lidahmu menjadi tipis” eunbi menjulurkan lidahnya lalu berlari meninggalkan ku
            “heiii mau kemana kau, kenapa aku di tinggalkan” aku berteriak memanggil eunbi
            “hari ini aku ujian jadi aku duluan ya” eunbi melambaikan tangan lalu berlari

            Jam istirahat aku biasa menunggu eunbi di taman sekolah, karena selalu aku yang keluar kelas lebih dulu. Aku dan eunbi biasa makan bersama teman-teman yang lain di kantin. Hampir setiap hari eunbi selalu membawa bekal. Ibunya sangat perhatian padanya. Karena dulu ketika eunbi SMP dia pernah keracunan makanan dan sejak saat itu eubi selalu membawa bekal dari rumah. Tak jarang eunbi membawakannya untuk ku, dia bilang itu tanda terimakasih dia untuk ku karena sering mengantar nya pulang.

            “bagaimana tadi ujian mu” siang ini aku mengantarkan eunbi pulang
            “bagus” jawabnya singkat lalu masuk ke dalam mobil
            “aku tau kau tidak pernah mengecewakan dalam hal ujian” aku dan eunbi pun pulang bersama
            “iya termasuk ujian hidup hahaha” eunbi tertawa lepas
            “manusia seperti mu mana pernah mengalami ujian hidup yang besar, kau cantik, pintar, orang tua mu berkecukupan, siapapun mau menjadi teman mu, lalu apa ujian hidup untuk seorang kwon eunbi” tanyaku mengernyitkan dahi
            “kau berbicara dengan diri sendiri ya” ledeknya
            “kau tidak pernah tau eunbi kalau aku memiliki masalah yang jauh lebih besar dari pada yang kau lihat” batinku

            Sesampainya di rumah aku biasa menengok taehee di kamarnya. Aku tidak berani berbicara dengan nya, karena ayah sudah memasang cctv di kamar taehee. Biasanya aku hanya menengoknya dari jendela
            “bi apa taehee sudah makan siang ini” tanyaku pada salah satu asisten rumah tangga yang bekerja sebagai pengurus taehee. Aku memiliki 2 asisten rumah tangga yang satu khusus mengurus taehee dan yang satu untuk mengurus rumah
            “sudah tuan, tapi siang ini taehee makannya hanya sedikit, bibi takut jika harus membujuk taehee, bibi tidak tega kalau taehee di pukul oleh ayah” wanita paruh baya itu sangat sabar mengurus taehee, dan aku sangat bertrimakasih padanya
            “taehee kau harus makan yang banyak ya, kakak sayang padamu, maaf kakak bukan tidak mau berbicara dan bermain padamu tapi kakak lebih sayang padamu, kakak tidak ingin kau disiksa oleh ayah” aku hanya bisa melihatnya dari luar jendela kamarnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Di usianya yang ke-13 tahun bahkan taehee tidak bisa berbicara sama sekali. Taehee hanya berani pada ibu dan juga bibi won, selebihnya taehee takut pada siapapun terutama aku

            Setiap malam aku hanya makan malam bertiga, tidak ada taehee, dia benar-benar diasingkan. Rasanya ingin ku pergi ke kamar taehee dan makan malam bersama nya. Ibu ku sudah tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan ayah. ibu bekerja pun karena paksaan ayah, supaya ibu tidak bisa dekat dengan taehee, tapi karena naluri ibu dan anak ibu dan taehee tetaplah dekat
            “taehyung bagaimana sekolahmu hari ini” suara ayah memecahkan keheningan suasana mala mini
            “baik yah” ucapku singkat
            “bagaimana kabar eunbi, apa dia jadi ikut tournament nasional tahun ini” ibu mulai ikut dalam percakapan
            “doakan saja ya bu, semoga eunbi bisa lolos tournament tahun ini” aku cepat-cepat menyelesaikan makanmalamku, karena aku ingin segera kembali ke kamar

            Hampir setiap malam aku selalu mendengar suara taehee menangis kencang, entah karena ayah yang sedang menyiksanya atau hanya taehee yang selalu merasa sedih. Pernah aku melihat ibu yang sedang menangis di dapur karena mendengat taehee yang sedang merintih kesakitan karena di pukul ayah. Aku bingung kenapa ayah memperlakukan ku berbeda dengan taehee. Padahal taehee juga anak ayah, apalagi taehee itu anak permpuan aku takut jika taehee dewasa dia akan terus seperti ini.

            Minggu ini ayah ada jadwal ke luar kota dari kantornya selama satu minggu. Hal yang pertama di tanya ayah adalah aku ingin di bawakan oleh-oleh apa. Padahal bukan itu yang aku inginkan, aku hanya ingin ayah cepat pergi karena aku dan ibu ingin bersama taehee. Sebelum berangkat ayah berpesan pada seluruh orang di rumah bahwa jangan ada satupun orang yang mengajak taehee berbicara ataupun yang lainnya.

            Tanpa perduli perkataan ayah aku pergi ke kamar taehee dan mengajaknya untuk makan malam bersamaku. Agar tidak terlihat cctv aku tidak menyalakan lampu, aku ajak taehee ke dekat jendela luar lalu kubuka hordengnya agar kami mendapatkan cahaya dari langit malam
            “taehee ayo kita makan, kakak bawa dua makanan untukmu” aku sengaja membeli cheese burger untuk ku dan taehee, karena aku tau selama ini taehee hanya memakan makanan organic saja seperti sayur sayuran dan biji-bijian
            “eohhhh” taehee terlihat ketakutan melihat aku, dia berjalan mundur dan menajuhi ku, taehee teriak dan membuat bibi won dan ibu masuk ke dalam kamar
            “tahee jangan takut itu kakak, kakak taehyung” ibu memeluk taehee erat sambil memperkenalkan diriku. Sakit sekali rasanya adik kandung ku sedniri tidak tahu siapa aku
            “noooooooo” taehee teriak karena dia merasa terancam dengan banyak orang di kamar nya. Taehee takut jika nantinya ada ayah yang akan meukuli nya
            “taehee jangan takut kakak tidak akan mencelakai mu seperti ayah, ayo kita makan” aku masih terus mencoba untuk membujuk taehee
            “taehyung sebaiknya biar taehee makan dengan ibu ya” ibu menyuruhku untuk keluar karena kalau aku terus disini maka taehee tidak akan mau makan

            Sambil menunggu ibu selesai makan dengan taehee aku menunggu di meja makan. Akhirnya aku hanya makan malam sendirian, tapi bibi won ikut duduk di depan ku, sengaja bibi won ingin menemaniku makan malam ini.
            “bibi sedih tuan, nona taehee tidak kenal dengan tuan taehyung padahal tuan itu kakaknya sendiri, tapi bibi masih bingung kenapa ayah memperlakukan kalian berdua itu sangat berbeda” bibi won sudah menjadi pengasuh taehee sejak dia umur 2 bulan, sejak ibu mulai bekerja kembali karena tuntutan ayah, taehee mulai dirawat oleh bibi won. Saat kecil aku tidak mengerti kenapa aku selalu dipisahkan oleh taehee, bahkan sampai seusia ini aku masih belum menemukan jawabannya
            “aku juga tidak tahu, aku fikir bibi yang sejak dulu merawat taehee tahu kenapa kami selalu dipisahkan, aku sedih karena tidak bisa bermain dan hidup bersama adik ku sendiri” tiba-tiba selera makan ku hilang karena membahas soal ini
            “kau harus sabar ya tuan, suatu saat pasti taehee akan kenal dan dekat dengan tuan taehyung” ucap bibi won

            Hari ini penentuan apakah eunbi bisa ikut tournament voly atau tidak. Aku selalu berdoa agar dia mendapatkan apa yang dia mau. Aku berharap ini bisa menjadi jalan bagi eunbi untuk menggapai cita-cita nya. Aku tidak bisa seperti eunbi aku hanya bisa mensupport dia.
            “bagaimana hari ini, apakah kau mendapat berita baik dari tournament itu” tanyaku memulai percakapan sore itu dengan eunbi
            “yaassshhh aku mendapatkan nya kali ini, terimakasih ya pasti ini semua berkat doa mu juga” eunbi memeluk ku karena saking senang nya, sedang aku tidak bisa berbuat apa-apa selain terdiam dan juga merasa senang
            “aku tau kau tidak pernah mengecewakan ku” ucapku
            “doakan aku ya setelah ini aku bisa menang” eunbi terlihat sangat bahagia, bagaimana tidak tournament ini sudah dia impikan sejak masuk SMA dan baru tahun ini eunbi berhasil lolos ke tournament ini
            “iya aku selalu mendoakan yang terbaik untuk mu eunbi cerewet” aku mencubit pipi eunbi lalu berlari meninggalkannya
            “yaaakkkkk taehyung” eunbi cemberut lalu berlari mengejar ku
            “eunbi bagaimana kalau sore ini kita makan ramyeon dulu di sevel sebrang apotek” ajak ku yang langsung menarik lengan eunbi
            “kau yang bayar ya” eunbi tertawa
            “iya untuk mu hari ini special , karena kau boleh tambah rumput laut” aku masih terus menarik tangan eunbi agar dia mau ikut aku makan ramyeon sore ini
            “hanya itu?” tanya nya dengan wajah yang membuatku gemas
            “oke tambah minum, tapi hanya air putih ya” aku tertawa
            “aiisshhh tidak seru, tambah coklat boleh ya” eunbi merengek seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu kepada orang tuanya
            “iya boleh tapi tidak boleh banyak ya nanti kau batuk” aku terus menggoda eunbi yang semakin membuat eunbi menajdi kesal dengan tingkah ku

            Sore ini aku habiskan sore ku dengan eunbi, kami berdua makan ramyeon dan beberapa snack di sevel tempat biasa kami berdua makan. Sebenarnya tujuan ku mengajak eunbi kesini adalah untuk menceritakan tentang masalah keluarga ku yang selama ini aku sembunyikan. Rasanya aku sudah tidak tahan dengan kelakuan ayah, aku harus menceritakan semuanya kepada orang lain untuk mengurangi beban fikiran ku
            “eunbi ada sesuatu hal yang ingin aku ceritakan padamu” aku merasa sangat canggung ingin mengungkapkan semuanya. Padahal aku sedang tidak ingin mengungkapkan cinta pada eunbi
            “jangan bilang kau ingin menyatakan cinta padaku, aishhh caramu sangat tidak romantic, tapi aku harap kau tidak ingin berbicara itu” eunbi yang masih sibuk dengan ramyeon nya
            “kenapa kau dari dulu tidak pernah berubah, kau selalu saja merasa PD tingkat dewa” sifat eunbi yang seperti ini tidak pernah berubah
            “hahahaha maafkan aku tapi kau bicara seperti orang yang sedang ingin menyatakan cinta sih” eunbi malu dan pipinya memerah
            “sebenarnya aku memiliki seorang adik perempuan” aku
            “kau jangan bercanda, aku tau dirimu, aku tau keluarga mu, bahkan aku hafal kapan orang tua mu ulang tahun” eunbi
            “aku serius eunbi” aku sedikit menaikan nadi bicaraku, dan membuat eunbi kaget karena baru pertama kali eunbi melihat aku seserius ini
            “maksudmu apa sih aku tidak mengerti” eunbi terlihat mulai serius dengan percakapan kami
            “iya jadi sebenarnya aku memiliki seorang adik perempuan yang jaraknya 3 tahun lebih muda dari pada usiaku, ini dia” aku menujukkan satu satunya foto ku dengan taehee yang aku punya
            “kau serius?” eunbi terlihat kaget melihat foto taehee, yang tidak seperti orang normal, memang taehee terlihat seperti anak keterbelakangan mental karena prilaku ayah selama ini terhadapnya
            “si cantik ini nama nya Kim Taehee, sejak kecil dia selalu dikurung oleh ayah, tidak boleh ada yang berbicara padanya. Mangkanya di usia dia yang sekarang taehee terlihat seperti anak usia 1 tahun” aku sudah berkaca-kaca ketika berbicara tentang taehee
            “kenapa kau baru berbicara sekarang, kenapa selama ini kau menyembunyikan semua ini dariku, aku fikir kau sudah cukup terbuka pada ku selama ini” aku melihat wajah eunbi yang kecewa terhadapku, tapi sejujurnya eunbi tidak tahu apa alasan ku menyembunyikan cerita ini pada nya
            “maaf kan aku, hanya kau orang yang tau tentang taehee, kalau ayah tau ada oarng lain yang tau ini pasti dia akan melampiaskan kemarahannya pada taehee, maka dari itu aku masih ragu untuk menceritakaan ini padamu
            “apa yang terjadi dengan ayahmu, bukan kah dia sosok yang sangat baik, dia selalu menanyakan kabarku dan bersikap lembut tiap kali kita bertemu” eunbi
            “iya ayah memang baik pada semua orang, tapi tidak dengan taehee, aku merasa taehee seperti bukan anak ayah, tapi aku yakin taehee pasti anak ayah. karena aku selalu merasa dekat dengan taehee” tak terasa air mataku sudah berjatuhan
            “aku mungkin tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan tapi aku harap kau pasti bisa menemukan jawaban dari maslah mu ini” eunbi memeluk ku, aku merasa sangat nyaman, ini alasan kenapa aku berani menceritakan semuanya pada eunbi karena dia selalu bisa menjadi dewasa saat bersamaku
            “jangan sampai ada orang lain tau ya tentang masalah ini” aku yakin semua ceritaku pasti akan aman ketika aku bercerita ke eunbi
            “aku kaget sangat sangat kaget apa yang kau ceritakan sama sekali berbeda dengan kehidupan mu selama ini, kau tidak memiliki dua kepribadian kan?” eunbi selalu saja melontarkan kata-kata jahat seperti itu
            “kalau kau tidak percaya ayo kita kerumah ku sekarang” ku Tarik lengan eunbi yang sedang duduk menuju ke rumahku. Bukan apa-apa aku hanya ingin meyakinkan eunbi dengan semua ceritaku, aku tidak ingin eunbi mengangap semua ini hanya rekayasa

            Aku pun membawa eunbi kerumah, malam ini ibu sedang lembur jadi di pastikan ibu pulang malam. Aku ingin sekali eunbi bertemu dengan taehee, aku juga ingin memperkenalkan orang yang selama ini cukup berpengaruh terhadap hidupku yaitu eunbi
            “bibi aku pulang” suara ku memenuhi ruang tamu yang ruangannya cukup besar
            “iya sebentar” terdengar sura seorang wanita paruh baya yang datang menghampiri suaraku
            “bibi taehee belum tidur kan?” tanyaku cukup antusias dan berhasil membuat bibi bingung dengan perkataan ku
            “iya belum ttt tt ttaappiii kau mau kemana tuan” bibi won mengejarku yang berjalan menuju kamar taehee
            “bibi aku mohon jangan ceritakan ini pada ayah atau ibu, aku hanya ingin mengenalkan taehee pada eunbi saja” aku menghentikan langkahku dan memelas mohon pada bibi won. Karena bibi won sudah sangat sayang padaku akhirnya bibi won ikut dalam rencanaku kali ini
            “taehee” sura pelan bibi won sambil membuka pintu kamar taehee. Yang terlihat dari ujung pintu hanya taehee yang sedang duduk sambil memeluk kedua kakinya yang dilipat
            “taehee ini kakak, lihat kakak bersama kakak eunbi, ayo ini kenalan dengan kakak eunbi” aku mengajak eunbi masuk ke kamar taehee
            “hai taehee” ucap eunbi lembut seraya mengelus kepala taehee, dan dibalas dengan tolakan dari tahee
            “ayooo jangan takut ini kakak eunbi teman dari kakak taehyung” bibi won memberikan pengertian terhadap taehee agar tidak takut dengan orang yang baru ia lihat
            “khaaaa khaaaaaa khaaaaaa” iya taehee hanya bisa berbicara kata “kha” yang berarti pergi. Karena rasa takutnya pada orang yang baru dia lihat
            “taehee tidak boleh seperti itu kakak eunbi itu orang baik bukan orang jahat” aku juga terus memberika pengertian terhadap taehee
            “taehee sayang nanti kita main Barbie bersama ya dengan kakak eunbi” aku melihat eunbi menangis saat berbicara dengan taehee, aku juga ikut merasakan kesedihan eunbi. Aku melihat kondisi adik ku yang seperti ini sambil terus terbayang kejahatan yang sudah ayah lakukan pada taehee selama ini
            “ayo bersalaman dengan kakak eunbi” tangan bibi won mengarahkan tangan taehee untuk berjabat tangan dengan eunbi sebagai awal dari perkenalan mereka
            “haaaiiii nama ku kwon eunbi” eunbi masih tersenyum sambil berjabat tangan dengan taehee
            “namaku kim taehee” ucap bibi won mengajarkan taehee untuk berbicara
            “eeuummm maaf aku jadi sedih” eunbi menyeka air matanya
            “eunbi, tuan maaf sepertinya kalian harus keluar karena kalau kalian terlalu lama disini taehee akan semakin merasa tertekan dan nanti malam dia pasti akan mengamuk” bibi won
            “baiklah terimakasih bi, daaaa taehee aku pulang dulu ya” eunbi memeluk hangat taehee
            “selamat tidur adik kecil ku” aku mengelur kepala adik kecilku
           
            “maaf kan aku taehyung aku jadi sedih seperti ini” terlihat jelas eunbi yang mencoba untuk tidak menjatuhkan air mata saat bertemu taehee
            “sekarang kau tau kan bagaimana kondisi keluarga ku yang sebenarnya, maaf kalau aku selama ini sudah menyembunyikan semuanya dari mu” aku
            “aku tau perasaan mu sekarang, tidak mudah memang berada di posisi seperti ini, aku masih tidak habis fikir kenapa di rumah ini terasa memiliki dunia yang berbeda” eunbi masih menyeka air matanya yang terus berjatuhan
            “this is me, this is my family, mungkin kejadian seperti ini hanya akan kau lihat di film saja, tetapi ini semua nyata di hidupku” pandanganku kosong menatap kedepan
            “aku harap kau akan selalu kuat dan terus menyanyangi taehee” senyum eunbi terlukis di wajah cantiknya
            “sampai kapan pun aku akan selalu sayang pada taehee, oiya ini sudah larut malam sebaiknya aku antar kau pulang, karena besok masih sekolah” mala mini aku antar eunbi pulang, selama di perjalanan aku mencoba menghibur eunbi kembali. Kami berdua pun bercanda tawa sampai di rumah eunbi
            “terimakasih ya untuk pengalaman yang paling berharga mala mini” eunbi
            “pengalaman apa?” tanya ku bingung
            “kau sudah mengajarkan ku bagaimana menjadi seorang kakak yang baik dan tulus serta menjadi seseorang yang kuat” eunbi melambaikan tangan lalu masuk ke rumahnya

            Pagi pagi sekali bibi won sudah terdengar sibuk dan berteriak-teriak, saat aku melihat jam di ponsel ini masih menujukkan pukul 4 pagi. Karena suara bibi won yang terdengar berisik aku yang masih setengah sadar turun menuruni anak tangga dan menghampiri bibi won. Aku melihat bibi won sudah menangis terduduk di ruang tengah, menyadari akan hal itu aku langsung tersadar sepenuhnya
            “bibi won kenapa, ada apa ini, ibu ibu ibu” aku berteriak memanggil ibu tetapi tidak ada jawaban dari ibu dan bibi terus menangis
            “ibuuuu dan taeheeee” isak bibi won
            “ibu dan taehee kenapa bi, ibu dan taehee kenapa bi” aku mengguncang guncang tubuh bibi won yang masih diam terisak
            “taehee dan nyonya tidak ada tuu tu tuan” dengan penuh usaha bibi won memberitahu semuanya walau dengan tangis
            “mereka kemana bi” perkataan bibi won membuat ku panik bukan kepalang, langsung aku berlari ke kamar dan mengambil ponselku untuk menghubungi ibu. Tapi semua hasilnya nihil, nomor ponsel ibu tidak aktif, aku lihat terakhir kali ibu melihat ponsel adalah tadi malam. Semalam ibu lembur dan aku tidak sempat bertemu ibu, aku harus membuang jauh-jauh fikiran ku tentang rencana ibu kabur dengan taehee. Aku berusah tetap tenang walaupun bibi won terus menangis
            “bibi kita harus tenang, kita tunggu sampai jam 9 kalau mereka belum pulang aku akan mencari mereka” setelah itu aku langsung memberi kabar kepada eunbi bahwa aku tidak bisa masuk sekolah hari ini, aku belum cerita masalah ini pada eunbi karena aku masih berharap ibu dan taehee hanya pergi sebentar

            Jam terus berlalu sudah jam 9:30 aku belum melihat ibu atau pun eunbi, ku coba tanya kepada petugas keamanan komplek rumah ku yang semalam berjaga, mereka bilang tidak melihat siapapun pergi keluar pada tengah malam. Aku tidak mungkin memberitahukan semua ini pada ayah sekarang, bisa-bisa bibi won yang akan kena marah ayah. Aku pun terus menelpon bibi jiyoon yang berada di busan, aku khawatir ibu dan taehee pergi kesana
            “hallo bibi yoon, akhirnya kau mengangkat telpon ku” aku sedikit merasa lega ketika mendengar telpon ku di angkat
            “iya maaf taehyung aku sedang menyiram tanaman, ada apa kau menelpon ku” sapa bibi yoon dari sebrang telepon
            “eummm apa ibu ada di busan?” tanya ku canggung
            “busan?, memangnya ibu mu ingin kesini kenapa tidak bilang ya, biasanya dia selalu bilang padaku jika ingin ke busan” bibi yoon
            “eohhh jadi ibu tidak ada di busan, hmm baiklah terimakasih ya bibi yoon” aku
            “memangnya kemana sebenarnya ibumu?” bibi yoon balik bertanya
            “sudah ya bibi yoon pulsa ku mau habis, tuut tuut tuut tuut” aku langsung menutup telpon agar bibi yoon tidak bertanya lebih lanjut tentang ibu

            Sore ini ayah pulang aku sangat bingung harus berkata apa pada ayah jika dia tau ibu dan taehee pergi dari rumah. Usaha ku untuk terus mencari ibu tidak berhenti sampai di telpon bibi yoon. Aku juga terus menghubungi semua teman-teman ibu yang aku punya, semua orang aku tanyakan. Tetapi tidak ada satupun yang tahu tentang keberadaan ibu. Entahlah ibu sengaja merencanakan ini semua dengan sangat matang sehingga semua temannya menyembunyikannya atau memang ini murni rencana ibu yang sama sekali tidak ada orang yang tahu

            Tanpa terasa tiba-tiba aku mendengar suara mobil dari luar rumah, aku rasa itu ayah. Dan ternyata dugaan ku benar, ayah pulang ke rumah dengan banyak sekali oleh-oleh karena dia janji akan membelikan aku dan ibu banyak barang di sana
            “taehyunggggg ayah pulang” ayah meneriakkan suara ku
            “hai ayah apa kabar” ucapku canggung
            “ayah sangat baik, harusnya ayah yang bertanya pada anak laki-laki ayah, bagaimana sekolahmu selama ayah tidak ada” ayah duduk di kursi ruang tamu
            “sekolah ku baik yah” wajahku pucat pasi karena sangat takut mendengar ayah menyanyakan ibu
            “oiya kenapa ponsel ibu tidak aktif ya, ayah coba hubungi dari semalam tetapi tidak bisa” pertanyaan yang mampu membuatku terdiam seketika
            “eeuummmm maaf ayah” aku menunduk kan kepalaku
            “maaf kenapa?” tanya nya
            “dari semalam ibu dan taehee tidak ada di rumah, aku sudah menelpon bibi yoon dan juga rekan kerja ibu tetapi tidak ada satupun yang tahu dimana ibu” aku masih tidak bernani menatap ayah
            “apaaaaa kenapa kau dan yang lain bisa sampai tidak tahu kalau mereka keluar malam-malam, panggil petugas keamanan sekarang” ayah yang mulai naik pitam pun berhasil membuat aku dan bibi won tersentak
            “aku juga sudah menanyakan petugas keamanan tetapi mereka juga tidfka tau yah” tubuh ku gemetar mendengar ayah berbicara dengan nada seperti itu
            “okee baiklah, maaf kan ayah ya tehyung ayah sudah memaki mu barusan, ayah ingin ke kamar dulu sebentar” ayah pun pergi ke kamar dan membuatku bernafas sedikit lega

            Sudah 2 hari aku dan ayah belum menemukan taehee dan ibu. Sama sekali ibu tidak bisa dihubungi, ponselnya mati total atau mungkin ibu sengaja membeli nomor baru agar kami semua tidak bisa mencarinya. Ini sudah 1X24 jam seharusnya kami sudah bisa melaporkan hilangnya ibu ke polisi, tetapi ayah menolak dengan keras. Aku tau kenapa ayah tidak ingin kasus kehilangan ibu di laporkan ke polisi. Karena ayah takut di penjarakan akibat kelakuannya selama ini pada taehee. Sebenarnya tidak ada jalan lain, aku, ayah dan juga bibi won masih terus menunggu sambil berharap ibu dan taehee akan kembali
            Eunbi terus menelpon dan mengirim pesan kepadaku, tapi aku belum sempat balas karena masih sibuk mencari ibu dan taehee. Aku sudah tidak perduli dengan sekolah, yang aku fikirkan hanya lah ibu dan taehee cepat pulang. Bukan hanya eunbi yang terus menghubungi ku tetapi teman dan juga guru-guru terus mencoba menghubungi ku.

            Sore ini di tengah-tengah keputus asaan ku dan ayah tiba-tiba ponsel ayah berdering, tanda satu pesan masuk. Ayah langsung segera membuka pesan itu, dia fikir itu pesan dari rekan kerjanya tetapi betapa terkejutnya ayah ketika melihat itu adalah pesan ibu. Pesan yang sangat singkat namun mengejutkan

“jangan cari aku dan taehee, kita bertemu di pengadilan hari senin kalau kau tidak datang akan ada polisi yang menjemput”

            Wajah ayah langsung berubah pucat pasi dan keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Ayah tidak pernah menyangka sama sekali jika ibu yang sudah puluhan tahun hidup bersamanya dengan mengikuti semua aturan ayah bisa berbuat seperti ini. Aku pun sama sekali tidak pernah menyangka kalau ibu akan kabur dan melaporkan semua ini pada polisi. Aku masih tidak tahu ada apa sebenarnya dengan ayah dan ibu. Mereka hampir tidak pernah bertengkar, aku selalu melihat ibu menuruti semua perkataan ayah. Tidak pernah sekalipun ibu membantah perintah ayah, ayah pun sama sekali tidak pernah membentak ibu

            Mungkin dengan ibu mengatakan yang sejujurnya semuanya akan terbongkar dan aku akan tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Setelah pesan itu di terima nomor ponsel ibu kembali tidak aktif. Sepertinya semua ini sudah terencana dengan sangat matang, ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang baik dan juga penurut tetapi kelakuannya saat ini benar-benar di luar nalar dan dugaan ku. Sepanjang hari aku hanya melihat bibi won yang terus menangis sambil memeluk foto taehee bersamanya. Bibi won sangat dekat dengan taehee bahkan dulu ketika taehee lahir dan ayah tidak menyukai taehee, bibi won mau mengadopsi taehee. Tetapi ibu menolak dan tetap ingin merawat taehee

            Senin ini aku kembali tidak masuk sekolah, aku harus ikut ke pengadilan, aku rasa ini momen cukup penting. Tidak lupa sebelum berangkat aku menelpon eunbi dan meminta doa kepada eunbi agar semuanya berjalan dengan lancar. Rasa takut yang menyelimuti diriku semakin bertambah ketika aku mulai memasuki ruang persidangan. Disana sudah ada ibu dengan wajah yang terlihat sangat membenci ayah. Wajahnya sangat sinis, matanya menatap ayah tajam saat ayah mulai duduk di kursi tepat depan hakim. Di samping ibu juga ada taehee yang terus di peluk ibu. Ibu sama sekali tidak melihat atau mengur ku, dia seperti lupa dengan diriku

            Persidangan di mulai, hakim mulai menceritakan semua kelakuan buruk ayah. setelah itu ayah di tanya beberapa pertanyaan oleh hakim. Belum sempat menjawab ayah berdiri dan mengeluarkan sesuatu dari kantung celana yang ia kenakan. Ayah mengeluarka senapa revolver kecil yang sudah siap untuk di tembak. Drama apa lagi ini apa ayah akan membunuh taehee, semua orang yang ada di dalam ruangan pun terkejut. Mereka semua panik tetapi tidak ada satu orang pun yang bergeming.

            Ku lihat wajah ibu masih sangat tenang karena jika ibu panik maka taehee juga akan panik dan bisa histeris. Saat pandanganku masih terfokus kepada ibu dan taehee tiba-tiba suara “duuarrrr”, senapan revolver itu tepat menembus kepala ayah. Selang 5 detik setelah peluru itu tembus tubuh ayah langsung tesungkur ke bawah. Semua orang menghampiri ayah yang sudah berlumuran darah. Aku hanya terdiam sambil menatap kosong. Ku tampar pipi ku untuk meyakinkan bahwa ini hanya lah mimpi. Tapi tidak ini semua nyata, aku melihatnya tepat di depan mata ku.

            Ayah iya ayah tega melakukan bunuh diri di depan aku, taehee dan ibu. Ku lihat taehee yang terus menangis dan masih dalam pelukan ibu. Belum sempat mendapat jawaban dari ayah semuanya sudah menghilang. Beberapa orang terlihat menggotong tubuh ayah menuju ambulance yang ada. Aku ikut masuk ke dalam tetapi tidak dengan ibu. Sesampainya di rumah sakit dokter sudah menyatakan bahwa ayah meninggal saat di perjalanan.

            Hidupku sekarang hancur bahkan ku rasa akan sulit untuk mengembalikannya ke seperti semua. Sekarang aku bukan lah taehyung yang orang lain kenal, aku sudah tidak memiliki semangat untuk hidup. Kalau bukan karena taehee mungkin aku sudah menyayat lengan kiri ku. Aku coba menelpon ibu untuk memberitahu tentang kondisi ayah. ibu hanya menjawab
            “semuanya sudah terjawab, aku merasa lega”
            Entah apa maksud dari jawaban ibu saat itu. Malam itu ayah langsung di makam kan, ibu dan taehee datang tetapi ibu sama sekali tidak menunjukkan rasa sedih. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi kenapa aku merasa antara ibu dan ayah sama seperti dua orang psikopat yang sedang menjalankan misi masing-masing

            Setelah kematian ayah yang mengenaskan aku tinggal bersama ibu, taehee dan juga bibi won. Bibi won memaksa ikut dengan kami karena dia begitu menyayangi taehee, akhirnya ibu mengizinkan bibi won tinggal dengan kami. Semua kehidupan ku berubah, kini aku bukan taehyung yang bisa membeli segalanya dengan mudah. Ibu hanya bekerja sendiri, rasanya sangat timpang. Bibi won sudah tidak lagi digaji oleh ibu. Saat ini bibi won layaknya nenek bagi aku dan taehee. Aku tidak lagi tinggal di rumah mewah ku yang dulu.
           
            Kami ber empat tinggal di rumah kontrakan kecil yang berisi 2 kamar. Aku tidur sendiri sedang ibu taehee dan bibi won satu kamar. Mobil ku yang dulu aku gunakan setiap hari juga sudah di jual. Kami memulai semuanya dari awal , ibu sudah tidak lagi bekerja di tempat yang lama. Kini ibu bekerja sebagai pelayan restoran di daerah seoul. Setelah eunbi mengetahui semuanya eunbi terus mendukungku. Bahkan dia satu-satunya orang yang tidak menjauhi ku, disaat semua orang perlahan mulai menatapku aneh dan ketakutan. Justru eunbi malah selalu ingin dekat dengan ku. Aku bersyukur bisa mengenal eunbi sampai sejauh ini, aku tidak mungkin berhenti sekolah hanya karena masalah keluarga ku yang sudah di ketahui seluruh orang di korea

            “taehyung kau harus semangat jangan biarkan masalah ini menjadi benalu bagimu, lawan dia anggap tuhan lebih besar dari semua masalah mu” eunbi
            “iya eunbi cerewet” aku mencubit hidung eunbi yang berakhir saling balas

            Saat yang di tunggu tiba yaitu pengumuman kelulusan sekolah. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar bisa menjadi kebanggaan ibu. Kalau masalah eunbi tidak usah di tanya pasti dia masuk peringkat 3 besar nilai tertingggi di sekolah. Semua murid berebutan untuk melihat nama mereka di mading sekolah. Tak terkecuali aku dan eunbi, karena tubuh eunbi yang pendek akupun menggendong eunbi dari belakang
            “yaaakk taehyung turunkan aku” eunbi menepuk tangan ku yang sudah melingkar di pinggang nya
            “sudah terlihat belum, jangan lihat nama mu tapi lihat namaku ada tidak” aku masih menggendong eunbi yang menimbulkan perhatian dari orang lain
            “taehyung turunkan aku, ini sudah sepi dan kita bisa maju kedepan” eunbi masih terus memukul tanganku, tetapi aku malah semakin senang melihat dia marah padaku
            “iya iya” akupun menurunkan tubuh eunbi, wajahnya masih saja cemberut padahal aku hanya berniat baik
           
            Eunbi mejadi salah satu siswa lulusan terbaik. Peringkatnya berada di urutan nomor dua. Sedangkan aku berada di peringkat 5. Aku merasa cukup senang karena setidakya dengan kejadian itu tidak mempengaruhi nilai ku di sekolah. Karena eunbi adalah siswi yang pintar. Eunbi mendapatkan beasiswa dari kemenangan tournament voly nya. Dia mendapat beasiswa di salah satu kampus swasta di swedia. Eunbi masuk tanpa tes, dia memakai jalur undangan. Sebenarnya aku juga ingin seperti eunbi bisa berskolah di luar negri, karena dulu aku dan eunbi pernah berjanji akan bisa masuk universitas luar negri bersama dan mendapat beasiswa .
            “selamat ya kau berhasil mewujudkan salah satu mimpi mu” ucapku lirih, karena aku sedih akan kehilangan seseorang yang benar-benar berarti untuk ku
            “besok pendaftaran beasiswa di finlandia kau ikut ya, aku yakin kau pasti bisa” eunbi sangat semangat
            “aku sudah tidak ingin lagi mendaftar beasiswa, sepertinya setelah lulu SMA aku ingin bekerja membantu ibu” aku
            “tidak tidak kau harus tetap kuliah, aku yakin ibu juga tidak akan setuju” eunbi menggelengkan kepalanya
            “tapi eunbi kau tau kan kondisi keuangan keluarga ku saat ini bagaimana, ibu hanya sebagai pelayan resotan yang penghasilannya tidak seberapa” aku sedih jika mengingat kondisi ku saat ini
           
            Pulang dari sekolah aku melihat ibu sudah di rumah. Ada taehee sedang bermain boneka nya sendiri, dan bibi won sedang mencuci baju di halaman belakang
            “ibu sudah pulang” tanyaku sambil melepas sepatu
            “iya tadi pagi kan ibu masuk jam 6, kau belum bangun jadi sekarang sudah pulang, oiya bagaimana hasil pengumuman kau lulus kan?” ibu bertanya sambil melipat baju yang sudah kering
            “aku lulus bu peringkat ke 5” senyum ku
            “bagaimana dengan eunbi, pasti dia menjadi lulusan terbaik ya” ibu sangat antusias saat bertanya tentang eunbi
            “iya eunbi menjadi siswi lulusan terbaik dia peringkat 2” ucapku kaku
            “kau sekarang sudah besar, usia mu sudah 17 tahun, sudah seharusnya kau mengetahui semuanya. Pertama-tama maafkan ibu ya, selama ini belum menjadi ibu yang baik untuk mu, maaf karena ibu kau jadi harus kehilangan ayahmu. Tapi sebagai anak laki-laki nomor satu kau harus tau yang sebenarnya” ibu menghentikan aktifitasnya dan berbicara serius padaku
            “maksud ibu apa?” aku bingung dengan ucapan ibu barusan
            “ibu akan menceritakan alasan kenapa ayah sangat membenci taehee. Dulu ketika ibu hamil taehee, ada sesorang yang tidak suka dengan hubungan rumah tangga kami. Ibu di fitnah olehnya, seseorang itu merekayasa foto sehingga ibu terlihat sedang tidur dengan laki-laki lain. Dan foto itu sampai ke tangan ayah mu, tidak ada lagi pengertian dari ayahmu, ibu sama sekali tidak bisa menjelaskan apapun. Tadinya ayah menyuruh ibu untuk menggugurkan taehee tetapi ibu menolak karena ibu tau taehee adalah anak ayah” sambil bercerita ibu mengeluarkan air matanya
            “apa setelah kelahiran taehee tidak bisa kalian melakukan tes DNA, saat itu aku masih kecil bu aku tidak mungkin tau dengan hal seperti itu” aku mulai mengikuti emo-ku
            “jangan kan untuk melakukan tes DNA, untuk mendengarkan cerita ibu saja ayah tidak mau. Saat itu ibu sudah ingin pisah dengan ayah, tetapi ayah mengancam jika ibu nekat berpisah dengan ayah, maka seluruh keluarga ibu akan di terror saat itu. Akhirnya ibu memutuskan untuk tidak berpisah dengan kesepkatan ibu tidak akan menggugurkan taehee” tangisan ibu semakin dalam, aku juga ikut sedih melihat ibu
            “aku sayang ibu” aku sontak memeluk ibu
            “sekarang kau sudah tau tentang semuanya, ayah membenci taehee karena dia menganggap taehee bukan anaknya. Ayah sangat menyayangi mu dia tidak ingin kehilangan mu, mangkanya dia tidak ingin berpisah dengan ibu karena dia takut hak asuh kau jatuh ke tangan ibu” ibu mengelus kepalaku
            “maaf kan taehyung juga ya bu kalau selama ini taehyung selalu berburuk sangka pada ayah dan ibu” aku

            Sore ini eunbi mengajak ku bertemu di sevel tempat biasa kami menghabiskan waktu bersama. Kami janjian pukul 4 sore, karena setelah pengumuman kelulusan semua murid belum meiliki kegiatan sampai tes ujian masuk universitas berlangsung
            “aku datang duluan berarti kau yang traktir aku ya” ketika melihat eunbi datang aku langsung mengajaknya masuk. Mengambil beberapa snack beserta mie ramyeon kesukaan ku
            “iya tapi tidak lebih dari 5000 won ya” eunbi
            “siap ratu laksanakan, kau ingin makan apa” tanyaku
            “seperti biasa, aku tunggu disana ya” eunbi berlari ke dua kursi yang masih kosong sedang aku membayar belanjaan kami di kasir
            “ada apa kau mengajak ku kemari, kau rindu yaaa padaku” ku goda eunbi dan berhasil membuat pipinya memerah
            “aiisshhh kau ini apa-apaan sih, bukan itu, aku kesini ingin memberitahu mu tentang ini” eunbi menyodorkan ponselnya. Aku melihat bahwa namaku sudah menjadi salah satu pendaftar beasiswa ke finlandia
            “kau mendaftarkan aku” aku terbelalak kaget melihat eunbi sudah mendaftarkan namaku sebagai salah satu pendaftar beasiswa tersebut
            “ minggu depan kau akan tes ujian online jangan sampe tidak ya, nanti uang ku akan sia-sia” eunbi kembali memakan hot ramyeon nya
           

            Aku tidak ingin mengecewakan eunbi maka dari itu aku mencoba ikut seleksi ujian online. Aku pergi ke sebuah rental computer, sebenarnya aku harap-harap cemas aku juga tidak tahu jika aku masuk apakah ibu bisa membiayayai kuliah ku atau tidak. Dengan penuh keyakinan aku berusaha mengerjakan semua soal yang di berikan. Tidak berbeda jauh dengan soal ujian akhir sekolah, jadi aku merasa sedikit lega. Yang berbeda hanya semua semua soal disini menggunakan Bahasa inggris. Hasil ujian online di dapat cukup cepat hanya 2 minggu setelah latihan, mungkin karena pesertanya juga tidak terlalu banyak

            2 minggu berlalu eunbi dengan antusias datang kerumah ku dan ingin melihat hasilnya langsung bersamaku. Untuk membuka pengumuman aku cukup log in lewat ponsel saja. Eunbi bilang mau main bersamaku nyata nya dia malah asyik main dengan taehee. Rasa takut dan juga penasaran mengalir di seluruh tubuhku. Jika aku terpilih mungkin aku akan mempertimbangkan berkali-kali lagi. Aku pun masuk ke laman di mana terdapat nama peserta yang lolos beasiswa ke finlandia. Aku mulai telusuri mulai dari urutan nomor satu, satu persatu aku lewati sampai pada nomor 55 dan yaappp tepat diurutan nomor 55 terdapat nama “Kim Taehyung”.

            “bagaimana kau lolos kan, aku yakin kau pasti lolos” eunbi menghampiriku dengan tergesa-gesa
            “ini lihat” aku hanya menunjukkan ponselku
            “sudah kuduga selamat ya” eunbi memeluk ku bahagia sedangkan aku masih bingung apakah ingin lanjut atau tidak

            Setelah diskusi cukup panjang dengan ibu aku putus kan untuk tidak berangkat karena untuk modal awal aku kuliah disana saja sudah cukup besar. Ibu tidak memiliki cukup uang untuk membiayayai hidupku selama berkuliah disana. Aku tidak ingin menyusahkan ibu, lebih baik aku bekerja sambil kuliah di korea. Ketika eunbi tahu bahwa aku melepaskan beasiswa itu dia sangat sedih dan menyayangkan hal itu. Tapi aku tidak lagi memikirkan hal itu, yang penting aku, ibu, taehee dan bibi won bisa hidup cukup

            Hari ini eunbi berangkat ke swedia untuk melanjutkan kuliahnya disana. Rasanya berat harus berpisah dengan wanita yang paling berpengaruh dalam hidupku setelah ibu selama 4 tahun. Ya walaupun setidaknya satu tahun sekali eunbi akan pulang ke korea rasanya berpisah dengannya sangat sulit. Aya, ibu dan nenek eunbi ikut mengantarnya ke bandara bersamaku. Ibu eunbi terlihat sangat sedih karena harus melepas putri semata wayang nya pergi merantau sendirian. Di negri dimana tidak ada satupun keluarga disana. Tetapi aku yakin eunbi bisa menjaga dirinya disana.

            Aku berdoa supaya dia bisa cepat menyelesaikan kuliahnya disana dan kembali lagi ke korea. Sulit rasanya kini setiap bangun pagi tidak ada lagi orang pertama yang mengisi ruang chat di ponselku. Tidak ada lagi wanita cerewet yang selalu menasehatiku di saat aku salah, hariku terasa sepi tanpa eunbi. Sudah 3 tahun ini aku selalu bersama eunbi, kemanapun aku pergi eunbi selalu menemaniku. Setidaknya satu tahun lagi aku akn bertemu eunbi. Kini aku hidup dalam keadaan tenang, aku bisa terus berkomunikasi dengan taehee mengajaknya bermain. Ibu bekerja pagi malam demi memenuhi kebutuhan kami. Bibi won mengurus semua pekerjaan rumah, dan aku bekerja sambil kuliah di korea

Taehyung        : aku benci rindu, setiap kali bangun pagi kau sedang tidur
Eunbi               : aku juga benci kau, setiap kali aku bangun kau pasti sedang bekerja

-          The End     -

Thursday, 11 October 2018


BUTTERFLY


            Hai namaku Ahn Yujin aku siswa SMA kelas 11. Aku bukan siswa yang cantic apalagi berprestasi. Aku hanyalah siswa biasa yang sering sekali tidak masuk karena sakit-sakitan. Walaupun aku seperti ini tetapi aku masih memiliki banyak teman. Di sekolah aku selalu ceria walaupun di rumah aku tidak seceria di sekolah. Ketika aku dirumah aku akan berubah 360 derajat dengan keadaan saat aku disekolah. Keadaan keluarga ku berubah total semenjak ayah mengidap penyakit kanker. Sejak ayah sakit ayah tidak lagi bekerja, kami hanya mengandalkan kakak perempuanku yang bekerja hanya sebagai pelayan restoran. Aku masih sekolah dan membutuhkan biaya besar

            Keadaan ekonomi yang membuat keluarga ku berubah, walaupun ayah sedang sakit tapi setiap hari ayah selalu bisa bercanda denganku. Jujur semenjak ayah sakit aku jarang masuk sekolah, aku hanya ingin menemani ayah setiap hari. Aku ingin menikmati hari-hari bersama ayah. Aku tidak perduli guru sekolahku memarahi ku karena aku jarang masuk sekolah aku rasa tidak ada yang lebih berharga di banding waktu bersama ayah.

            Ketika pertama kali aku mendengar bahwa ayah di vonis kanker hidupku serasa hancur. Aku merasa dunia serasa berhenti. Sekolah bukan lagi menjadi tempat yang menyenangkan untukku. Setiap kali aku masuk sekolah aku selalu merasa gelisah, aku selalu muntah-muntah. Aku merasa sekolah seperti neraka untuk ku. Baru sehari masuk sekolah setelah vonis ayah aku langsung merasa demam badan ku panas dingin, aku menggigil, aku muntah padahal aku tidak makan apapun. Setelah kejadian itu aku tidak mauk sekolah selam 3 hari.

            Semua teman-temanku bertanya kenapa aku jadi seperti ini. Aku jarang masuk sekolah bukan karena ingin menemani ayah karena tubuhku yang menolak jika aku ke sekolah. Aku jarang masuk sekolah bukan lagi karena ingin menemani ayah karena tubuhku yang menolak jika aku ke sekolah. Menurutku ini aneh aku tersiksa tapi ini bukan lah penyakit aneh. Saat aku pergi ke dokter untuk periksa, dokter bilang aku hanya terlalu banyak fikiran sehingga tubuhku mengalami reaksi seperti ini. Ini bukan pertama kalinya tapi sudah beberapa kali.

            Dalam satu bulan aku bisa tidak masuk sekolah hampir 2 minggu bisa jadi karena aku sakit ataupun sekedar untuk menemani ayah di rumah dan check-up ke dokter. Semua guru bahkan kepala sekolah tahu tentang kondisi keluarga ku saat ini. Tapi kakak ku pernah di panggil kepala sekolah karena kelakuanku. Perlahan aku mulai bisa masuk sekolah dengan normal. Sejak sakit aku jadi jarang makan, tapi aku memiliki seorang teman yang sangat baik nama nya joo yuri. Hampir setiap hari dia selalu membawa 2 kotak makan untuk ku dan untuknya. Dia adalah orang yang paling mengerti kondisi aku saat ini. Tidak pernah sekalipun yuri mengeluh karena dia selalu membawakan makanan untuk ku

            Tidak ada teman lain selain yuri yang tau dan paham betul tentang kondisi keluarga ku. Semua teman-teman ku menganggap kondisi keluarga ku baik-baik saja. Karena aku selalu menjadi happy virus di sekolah aku selalu bisa membuat teman-teman ku tertawa. Yujin di sekolah tidak lah sama seperti yujin di rumah.

            Hari ini aku rasanya malas sekali ke sekolah, bukan karena aku takut sakit tetapi perasaan ku tidak enak dan ters-terusan cemas. Sebelum berangkat ke sekolah seperti biasa aku pamit dengan ayah dan ibu. Kanker ayah semakin parah malah kankernya sudah menyebar ke mata sehingga menyebabkan ayah buta. Meskipun ayah tidak bisa lagi melihat wajahku, ayah selalu memberikan energy positif terhadapku
            “yujin hati-hati ya, ingat kau harus rajin belajarnya agar kau bisa melanjutkan kuliah dengan beasiswa” ucap ayah sambil mengelus kepalaku, setiap kali ayah berbicara seperti rasanya seperti hatiku tersyat, aku yang selama ini selalu cuek dengan sekolah merasa menjadi anak yang paling bodoh. Padahal dengan aku menjadi anak pintar itu sudah cukup membanggakan ayah
            “iya ayah aku berangkat ya ayah, ibu” aku mencium kedua orang tua ku, sunguh aku sangat sayang pada mereka

            Di sekolah seperti biasa aku datang dengan wajah yang ceria dan salalu berkumpul dengan teman-teman sekelasku. Kami mengobrol tentang pelajaran, apapun yang sedang tren, bahakn kita suka membicarakan guru yang menyebalkan di saat seperti ini. Aku sama sekali tidak ada beban selama di sekolah terutama setelah aku sembuh dari penyakit aneh itu. Aku seperti merasa punya dua kehidupan yang nyaris berbeda, dan di otak ku ada dua kubu yang bisa aku kendalikan ketika aku sekolah dan ketika aku dirumah.

            Malam ini aku ingin sekali tidur bersama ayah, aku ingin bercerita tentang kegiatan ku di sekolah selama ini. Semenjak ayah tidak bisa melihat ayah tidak tahu kegiatan apa saja yang aku lakukan. Sebenarnya aku sudah sering tidur bersama ayah dan ibu tapi kali ini entah rasanya aku ingin sekali tidur bersama ayah dan ibu
            “ibu malam ini aku tidur dengan kalian ya” aku yang sudah siap dengan perlengkapan tidur seperti  guling dan selimut
            “kenapa tumben sekali kau ingin tidur dengan ayah dan ibu” tanya ibu sambil merapihkan tempat tidur, sedangkan ayah masih duduk di meja rias ibu
            “tidak apa bu, kasihan gadis kecil kita masih ingin dimanja” ayah tertawa
            “iya lagi pula kan aku juga sering seperti ini bu” aku mengerucutkan bibirku
            “baiklah sebentar ya” ibu masih membereskan tempat tidur dan menata bantal serta guling untuk kami tidur bertiga

            Aku selalu merasa senang dan nyaman bila seperti ini, rasanya ingin sekali seperti ini setiap hari bahkan selamanya. Aku berharap ayah dan ibuku tidak akan pernah menua dan meninggalkan ku. Kakak ku jarang sekali bisa seperti ini, dia sibuk mencari uang demi kesembuhan ayah dan untuk kebutuhan sehari. Kalau kakak tidak seperti ini akan semakin banyak barang-barang ayah dan ibu yang di jual untuk pengobatan ayah

            “ayah aku ingin kita bisa seperti ini terus selamanya, bersama ayah, ibu dan yooju” posisiku berada di tengah antara ayah dan ibu
            “nanti kita bertemu di surga ya” ucap ayah
            “ayah kok bicara seperti itu sih, kita akan seperti ini selamanya” aku tidak ingin waktu mala mini berlalu dengan cepat
            “maksud ayah nanti kita juga akan bahagia di surga iya kan yah” timpal ibu
            “iya nanti kalian yang susul ayah, ayah ingin yujin jadi anak yang pintar dan tidak menyusahkan yooju, biarkan yooju bekerja untuk kebutuhan kalian, dan ibu aku titip yujin dan yooju ya rawat dan jaga mereka baik-baik” ayah tersenyum tipis
            “iya ayah semua akan baik-baik saja setelah ini” aku melihat wajah ibu yang sudah sedih dan matanya berkaca-kaca
            “ayah pasti akan sembuh, ayah harus yakin, karena aku yooju dan ibu selalu mendoakan dan berusaha untuk kesembuhan ayah” aku memeluk atyah dengan sangat erat, aku rasakan pelukan hangat ayah sambil menikmati aroma tubuhnya
           
            Malam itu terasa sangat hangat, dan waktu terasa sangat cepat. Aku seperti melihat ayah sedang berdiri di sebuah gerbang, aku mencoba untuk mendekati ayah tetapi aku tidak bisa menyusul ayah, aku bahkan sampai lari untuk sekedar menyusul ayah, tetapi kenapa aku tidak sampai juga padahal ayah hanya berjarak 50 meter dari posisiku saat ini. Aku tidak bisa melihat wajah ayah karena ayah membelakangi ku. Tak lama sinar matahari meyorot kedua mataku. Dan ketika aku membuka mata ternyata semua itu hanya lah mimpi.

            Aku harap mimpi semalam bukan lah pertanda yang buruk. Seperti biasa aku berangkat ke sekolah menggunakan subway. Transportasi yang paling terjangkau di kantong ku. Aku berangkat ke sekolah dengan headset yang terpasang di telingaku sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaan aku dan ayah. Begitu masuk gerbang sekolah aku yang sedang tidak focus hampir di tabrak oleh lelaki yang paling aneh di sekolah
            “yakkkkkk kau tidak lihat kah ada orang” aku yang kesal karena hampir tertabrak, karena tidak mungkin masih pagi begini aku sudah dapat kejadian buruk
            “maaf” ucapnya membuka kaca helm nya dan langsung bergegas pergi

            Sepulang sekolah aku buru-buru datang ke kamar ayah. Baru juga masuk pintu rumah ibu dan yooju sudah ada di kamar aya sambil menangis, aku yang baru datang langsung panic melihat mereka. Aku melihat ayah sedang tertidur di ranjang lengkap dengan selimut dan syal di lehernya. Aku berusaha unutk membuang fikiran buruk tentang kepergian ayah. Ku lepas tas ku dan langsung aku menghampiri ayah sambil memeluknya dalam tangis
            “kita harus iklhas ya” ucap ibu sambil menangisi ayah
            “yujin kau harus merelakan ayah ya” yooju mengelus kepalaku yang masih memeluk ayah
            “tidak ayah masih hidup ayah tidak akan pergi meninggalkan ku” tangisanku semakin pecah ketika mendengar kata kata-kata ibu dan yooju
            “tadi pagi ayah pingsan dan tidak ada yang tahu, aku ingin membawa ayah ke rumah sakit tetapi aku tidak punya uang” yooju, aku pun langsung pergi ke kamar ku dan mengambil tabungan yang aku punya. Selama ini sejak ayah sakit uang jajan yang yooju berikan tidak pernah aku pakai kecuali untuk naik subway. Semua uang itu aku tabung untuk keadaan mendesak seperti ini
            “pakai uang ini ka, ayo kita kerumah sakit sekarang” aku memberikan beberapa uang lembar yang sekiranya cukup untuk membawa ayah ke dokter

            Akhirnya kami putuskan untuk pergi ke rumah sakit demi kesembuhan ayah. Dokter bilang kanker ayah semakin parah dan sudah menyebar ke seluruh tubuh. Kondisi jantung ayah juga sangat lemah. Kemungkinan ayah untuk bertahan sangat sedikit, selama berada di rumah sakit hanya tangisan ibu dan yooju yang aku dengar. Tak luput aku terus berucap doa demi kesembuhan ayah. Aku selalu berfikiran positif di saat seperti ini. Besok paginya ayah di perbolehkan pulang, karena malam harinya ayah sudah sadar. Syukur uang tabungan ku cukup untuk membayar biaya rumah sakit selama satu malam

            Pagi ini aku tetap pergi ke sekolah karena aku ingat pesan-pesan ayah agar aku bisa menjadi anak yang pintar di sekolah. Aku tidak pernah mau lagi untuk bolos sekolah, jika aku bolos sekolah sama aja aku tidak sayang pada ayah. Seharian di sekolah aku seperti biasa tidak ada tanda-tanda bahwa aku sedang memiliki masalah. Aku tetap menjadi yujin yang sangat ceria, bahkan yuri tidak tahu kalau kondisi ayah saat ini sedang drop

            Sepulang sekolah di rumah tidak ada orang, tak lama sepupu ku datang dan memberi tahu kalau ibu dan yooju sedang ada di rumah sakit. Sepupu ku tidak memberitahu kalau kondisi ayah semakin melemah siang tadi, dia melarang ku untuk menyusul ke rumah sakit padahal aku ingi bertemu ayah saat itu. Aku hanya bisa menangis di ruang tamu sambil menunggu kabar dari yooju tentang kondisi ayah. Ku telpon yooju tapi nomor ponselnya tidak aktif, aku semakin khawatir dan cemas dengan keadaan mereka bertiga. Aku menangis di ruang tamu sampai tertidur, tiba-tiba dering ponsel ku membangunka ku dari tidur itu, ada telepon masuk dari nomor kantor
            “hallo” ucapku
            “yujin ini aku yooju, sekarang aku dan ibu di rumah sakit, maaf aku membuatmu khawatir karena aku terpaksa harus menjual ponselku untuk biaya ayah, kau jangan kemana-mana ya tunggu kami di rumah” belum sempat aku bicara yooju sudah menutup telponnya

            Hati ku semakin kacau sambil meunggu kehadiran mereka bertiga, aku hanya mondar-mandir di ruang tamu sambil terus berdoa dan berharap yang baik. Hampir satu jam aku menunggu mereka, aku ingat jam 5:30 aku mendengar suara ambulance aku harap ayah pulang dengan keadaan yang membaik. Mendengar suara ambulance yang semakin dekat rumahku aku pun keluar rumah dan melihat yooju dan ibu yang keluar dari mobil ambulance, tapi dimana ayah, kenapa ayah tidak ikut turun bersama ibu dan yooju. Tak lama beberpaa perawat membawa ayah keluar dari ambulance menggunakan peti mati.

            Aku yang melihat langsung mengahmpiri peti itu dan memastikan apakah yang di dalam itu adalah ayah atau bukan, ibu dan yooju hanya terus menangis dan mangabaikan pertanyaan ku tentang ayah. Aku sampai bingung harus bertanya pada siapa, selang 15 menit beberapa kerabat ibu dan sauda-saudara pun datang. Dan pada akhirnya yooju bilang kalau ayah sudah meninggalkan kami selamanya. Aku terdiam membeku aku sama sekali tidak bisa menangis saat ini. Rasanya air mata ini sudah membeku dan tidak bisa aku ungkapkan lagi. Hanya ada kata penyesalan dalam diriku, kenapa aku mengikuti kata sepupuku untuk tidak menyusul ke rumah sakit. Padahal itu adalah kesempatan terakhirku melihat ayah.

            Satu minggu berlalu semenjak kepergian ayah. Aku hanya tidak masuk sekolah selama 3 hari dengan surat keterangan kematian ayah. Teman-teman terdekatku datang ke pemakaman ayah, mereka juga memberikanku dukungan untuk tidak terlalu larut dalam kesedihanku
            “yujin ayo kita makan” ajak yuri yang seperti biasa membawakan ku bekal makan siang
            “Iya” jawabku
            “itu tanganmu kenapa” tanya yuri yang meilhat luka di tangan kiri ku
            “eohhh semalam aku sedang buat prakarya dan tidak sengaja tanganku kena cutter, ayo kita makan” aku mengalihkan pembicaraan dan langsung mengajak yuri makan
           
            Aku dan yuri biasa makan di taman sekolah karena di kantin biasnya sudh penuh dengah anak-anak yang membeli makanan di kantin. Ketika sedang makan sambil bersenda gurau aku merasa ada laki-laki yang memperhatikanku dari sebrang taman. Laki-laki yang biasa di pandang aneh oleh orang satu sekolah, yang waktu itu pernah hampir ingin menabrak ku. Aku tidak pernah berbicara atau bercanda denganya, walaupun kami satu angkatan aku sma seklai tidak mengenal dia, aku hanya tau namanya saja.

            Dia terus memperhatikanku dan sesekali membuang pandangannya jika aku memergoki dia sedang melihatku. Sampai akhirnya aku merasa rishi dan langsung mengajak yuri kembali ke kelas. di kelas ketika waktu istirahat masih ada aku biasa bercanda dengan teman sekelasku. Aku termasuk siswa yang popular karena aku gampang berteman dengan siapa saja. Tetapi dulu ketika aku sakit-sakitan dan jarang masuk sekolah mereka perlhan menjauhiku, tapi itu dulu sekarang mereka kembali lagi berteman denganku

            Di rumah setelah selesai sekolah aku langsung masuk ke kamar tanpa bicara apapun pada ibu. Jika di sekolah aku menjadi anak yang sangat ceria itu sangat bertolak belakang ketika aku berada di rumah. Di rumah aku menjadi anak yang introvert, hal itu di rasakan ibu dan yooju, aku berubah seperti ini setelah ayah meninggal. Aku merasa kecewa dengan ibu dan yooju yang selalu merahasiakan tentang kesehatan ayah. Itu mengapa aku sekarang jadi seperti ini. Aku jadi jarang sekali mengobrol dengan ibu bahkan bisa seharian penuh aku tidak bicara dengan ibu. Sepulang sekolah aku hanya berdiam diri di kamar sampai ke esok kan harinya.

            Aku melihat rumah seperti aku melihat neraka. Kondisi finansial yang sulit, ayah yang sudah pergi, yooju yang selalu pulang malam. Semuanya terasa hitam tidak ada lagi waran di rumah. Tak jarang aku sering melakukan self-harm pada diriku sendiri, ketika aku merasa depresi dan tertekan maka aku akan melukai diriku sendiri. Aku sering memukul kepalaku dengan hairspray sampai memar. Atau menyayat tanganku sampai berdarah, intinya aku sering sekali melukai diriku sendiri.

            Jika semalam aku melakukan self-harm maka paginya aku akan menggunakan blazer sekolah ku selama seharian. Aku tidak ingin ada orang lain yang tahu jika aku suka sekali self-harm. Yuri pun tidak tahu tentang kebiasaan buruk ku ini, aku harap hanya aku dan tuhan saja yang tahu. Semalam aku melakukannya lagi aku menyayat tangan kiri ku, ada beberapa luka goresan. Untuk mencegah hal buruk terjadi aku menempelkan plester luka sebanyak dua tumpuk di pergelangan urat nadi ku. Karena pada titik itu aku sering sekali menyayat nya. Terkadang jika aku ingin melakukan yang lebih buruk dari yang biasa aku lakukan aku selalu ingat senyuman ayah terakhir untukku

            Setiap hari rutinitasku hanyalah seperti itu. Pergi sekolah-pulang-dikamar seharian dan repeat. Aku merasa aku sakit jiwa aku seakan memiliki 2 kepribadian ganda tetapi aku mencoba untuk tidak mendiagnosa diriku sendiri. Keadaan semakin buruk ketika ibu sakit. Sudah beberapa hari ibu sakit. Yooju berusaha mengumpulkan uang untuk biaya berobat ibu. Sampai dia rela tidak jajan di luar demi ibu. Sebenarnya aku sedih dan aku merasa sama sekali tidak bersimpati kepada ibu. Tapi aku masih sakit hati dengan kejadian ayah
            Awal bulan ketika gaji yooju turun, yooju langsung membawa ibu ke rumah sakit, karena yooju merasa sakit ibu semakin parah. Dan sudah sampai ada benjolan sebesar kelengkeng di sekitar ketiak ibu. Aku tahu mereka ingin pergi ke rumah sakit, bahkan ibu pamit dan minta doa dariku agar diagnosis ibu tidak parah tapi aku pura-pura tidak mau tahu. Sepulangnya dari rumah sakit ibu terlihat tenang dan tidak menujukkan hal yang buruk terjadi, tapi yooju menghampiriku di kamar yang sedang bermain dengan cutter
            “yujinnn, apa yang kau lakukan” yooju menaikkan nada bicaranya saat melihat aku sedang memotong-motong kertas menggunakan cutter
            “aku hanya sedang memotong kertas” jawabku santai
            “syukurlah aku fikir kau melakukan hal yang aneh” yooju menghampiriku yang masih memotong kertas tanpa melihat ke arahnya
            “ada apa” ucapku melihat yooju
            “yujin kenapa semenjak kepergian ayah kau semakin menjauh dengan ku dan ibu?, apa kami ada salah padamu, kau tidak pernah berbicara dengan kami” tanya yooju, sebenarnya yooju adalah sosok kakak yang baik, dia selalu memikirkan ku dia benar-benar berjuang untuk keluarga semenjak ayah sakit
            “tidak apa” aku masih malas menjawb pertanyaan yooju mala mini
            “kau harus berubah yujin, ibu sakit kau harus berubah sayang pada ibu. Ibu butuh perhatian kita saat ini” aku melihat yooju yang memangis seperti ini mengingatkanku pada kejadian saat ayah meninggal
            “ibu sakit apa” tanyaku lemas setelah mendengar cerita yooju
            “ibu sakit kanker payudara stadium 3, aku akan berjuang mati-matian untuk kesembuhan ibu, dan aku minta tolong padamu untuk bisa memberikan perhatian lagi untuk ibu” yooju memohon padaku sambil berlutut di depanku. Aku tidak tega melihat yooju sampai seperti ini demi aku bisa menjadi yujin yang dulu
           
            Aku hanya terdiam sambil menangis, kenapa hidupku terus-terusan seperti ini. Kenapa aku tidak pernah bahagia. Hidupku rasanya sudah sangat pahit dan sengsara. Berkali-kali aku mencoba bersyukur dengan hidupku saat ini tetapi berkali-kali pula aku menolak fikiran positif itu. Entah bagaimana jika orang lain menjadi aku mungkin mereka tidak akan sanggup. Ayah sakit hingga membuat kondisi ekonomi kami memburuk bahakn yooju harus rela pulang malam setiap hari demi memnuhi kebutuhan kami, lalu ayah hanya bisa bertahan 2 tahun dan pergi meninggalkan kami selamanya. Sekarang ibu sedang berjuang melawan penyakit yang telah merebut ayah dari kami

            Sejak aku tahu kalau ibu sakit aku semakin kasar pada diriku bahkan hampir setiap malam aku melakukan self-harm. Jika dulu aku hanya sesekali melakukan self harm beda dengan sekarang yang hampir setiap malam aku melukai diriku sendiri. Aku tidak pernah melepas blazer ku selama di sekolah, aku juga tidak pernah lagi menguncir rambutku, karena itu semua untuk menutupi luka yang aku ciptakan sendiri. Aku tetaplah yujin yang sama jika di sekolah. Ternyata pandangan saat di taman tempo hari membuat lelaki it uterus memperhatikan gerak-gerikku.

            Aku sungguh tidak mengerti apa motivasi dia yang setiap hari memperhatikanku. Padahal untuk sekedar bertegur sapa saja aku tidak pernah. Aku hanya kenal dia anak IPA kelas 12B namnya Bae Jinyoung. Banyak anak-anak memanggilnya baejin aneh. Karena dia anaknya sangat introvert. Bahkan jika ada tugas kelompok baejin tidak mau mengerjakannya berkelompok dan memilih untuk mengerjakannya sendiri. Jarak kelas kami hanya bersebelahan tapi jujur aku jarang sekali melihat dia keluar pada saat istirahat. Tampilan dia seperti L dalam film death note.

            Setiap hari baejin selalu menggunakan sweater berhoodie warna hitam dan memakai kupluk untuk menutupi wajahnya yang kecil. Tidak pernah aku melihat baejin mengobrol dengan orang lain. Dia benar-benar aneh dan sangat sangat introvert. Aku tidak pernah menyangka bahwa baejin akan diam-diam memperhatikanku. Dimanapun aku berada selalu ada baejin yang sedang melihat ke arah ku. Sampai pada akhirnya aku berpapasan dengan baejin di lorong belakang sekolah
            “yujin” baejin menarik tanganku yang berpapasan langsung dengannya
            “aawwwwww” aku teriak karena baejin menarik tanganku yang luka akibat aku sayat semalam
            “kau melakukan nya lagi eohhh” tanyanya datar
            “melakukan apa?” tanyaku bingung
            “ini apa” baejin menggulung blazerku dan dia dengan santai melihat banyaknya luka sayatan di tanagn kiri ku
            “kau ini apa-apaan sih” aku kesal dan merapihkan kembali blazerku
            “berhenti melukai dirimu sendiri, jika kau ada masalah ceritakan pada orang lain, jika kau bingung ingin cerita pada siapa datang lah padaku” ucap baejin lalu pergi meninggalkanku

            Aku bingung kenapa tiba-tiba baejin bisa melakukan itu padaku. Dan kenapa juga aku bisa berpapasana dengan baejin siang itu. Dari banyak jalan menuju perpustakaan kenapa aku harus melewati lorong belakang dan bertemu baejin. Dan kenapa juga baejin bisa tahu tentang penyakitku saat ini. Ini kali pertama aku berbicara dengan baejin. Selama satu tahun aku bersekolah disini baru kali ini aku berbicara dan mendengar suara baejin

            Keadaan semakin buruk ketika kanker ibu semakin parah. Ibu harus segera di operasi karena kankernya sudah menyebar keseluruh tubuhnya. Tapi yooju belum mempunyai uang, setiap malam aku selalu melihat yooju menangis di kamarnya sambil terus berdoa untuk kesembuhan ibu. Aku tidak membantu apa-apa, setiap kali ada masalah baru maka akan aada satu luka di tubuhku. Ibu dan yooju tidak pernah tahu tentang ini. Aku tidak ingin menambah beban mereka. Sesekali aku mencoba mencari tahu tentang kebiasaan buruk ku di internet.
            Aku merasa seperti aku memiliki depresi tetapi aku tidak mau jika benar aku mengidap depresi saat ini. Aku sama sekali tidak bisa mengontrol diriku ketika aku merasa tertekan atau ada masalah baru. Pasti dengan mudah aku akan melukai diriku sendiri. Semenjak ibu sakit aku tidak pernah lagi bercerita dengan teman-teman ku atau yuri. Aku tidak ingin mereka menjadi sedih dan menganggapku ini seperti orang yang sedang membutuhkan bantuan. Yujin di sekolah tetaplah yujin yang ceria. Mungkin hal ini menjadi salah satu factor aku jadi seperti ini. Tidak ada orang yang aku percaya untuk mendengarkanku bercerita.

            Sebenarnya aku sedikit memikirkan tentang perkataan baejin yang rela menjadi tempat curhatku. Tapi rasanya aneh jika aku tidak pernah kenal dia secara tiba-tiba bercerita tentang semua masalahku. Aku takut baejin memiliki niatan buruk padaku. Karena sebagian orang bukannya dengan tulus ingin membantuku tetapi mereka hanya penasaran dengan ceritaku.

            “yujin kau sudah pulang” ucap ibu dari ruang makan yang sedang menjahit
            “iya” jawabku lalu langsung pergi ke kamar. Sebenarnya aku ingin mengobrol dengan ibu seperti dulu tapi rasanya semua rasa itu tidak pernah muncul kembali. Ibu tidak pernah memberitahuku tentang penyakitnya, mungkin ibu tahu dengan kepergian ayah saja sudah membuatku seperti ini apalagi ditambah dengan keadaan ibu sekarang
           
            Dari pulang sekolah hingga malam, seperti biasa aku tetap di kamar, hari ini jadwal check-up ibu. Yooju izin pulang cepat agar bisa menemani ibu, selama ibu sakit aku tidak pernah menemani ibu sekalipun untuk check-up. Aku lebih memilih berdiam di kamar seharian di banding menemani ibu karena aku pasti tidak akan kuat menerima kenyataan bahwa hidupku akan benar-benar hancur sebentar lagi

            Sepulang dari check-up yooju masuk ke kamar ku yang sangat berantakan. Dan yooju memberitahu tentang keadaan terkini kondisi ibu
            “yujin mau sampai kapan kau seperti ini, kondisi ibu semakin memburuk. Biu selalu sedih setiap kali kau menghindar darinya, ibu memiliki 2 orang putri jadi ibu membutuhkan dukungan dari 2 orang putri nya. Jangan sampai kita kehilangan ibu, aku tahu kau sangat sayang pada ibu maka dari itu tolong tunjukkan rasa sayang itu pada ibu” yooju mengelus kepalaku
            “lebih baik kau keluar sekarang kaka, aku tidak ingin di ganggu” ucapku seraya menghempas tangan yooju dari kepalaku

            Yooju pun keluar dari kamar ku dan aku langsung menutup pintu kamarku dengan keras dan mengunci pintu. Ibu yang mendengar hentakan itu pun kaget. Saat ini aku benar benar tidak bisa lagi mengendalikan tubuh dan fikiranku. Aku ambil cutter dari meja belajarku, aku menangis histeris dan teriak. Aku benar-benar kacau saat itu, yang ada di fikiran ku saat itu adalah aku ingin memotong urat nadi di tangan kiri ku. Rasanya ingin ku copot plester luka yang menutupi nadi ku. Ku gores berkali kali tangan kiri ku sampai darah berceceran di lantai. Berkali-kali pula aku menangis teriak karena sakit

            Ibu yang mendengar suara tangisanku menghampiri ku dikamar, ibu mencoba membuka pintu kamar ku yang terkunci. Aku lihat gagang pintu ku yang terus bergerak pertanda orang dari luar yang ingin mencoba masuk
            “yujin-ahhhh buka pintunya nak” ibu terus mencoba membuka pintu kamarku yang terkunci
            “yujin buka pintunya sayang, ibu akan dobrak jika kau tidak mau buka ya” dengan kekuatan paruh ibu, ibu pun mendobrak pintu kamarku dan akhirnya terbuka. Ibu kaget bukan kepalang melihat aku yang sudah berantakan. Kamarku penuh dengan bercak darah yang mengalir dari tanganku. Ibu yang melihat kejadian itu langsung memeluk ku erat sambil menangis
            “yujin ibu mohon jangan lakukan itu, ibu dan yooju sangat sayang padamu nak” ibu tak henti-henti memeluk ku sambil menangis dan menghapus darah yang ada di tangan ku
            “aku ingin menyusul ayah bu” aku terus menangis di dalam pelukan ibu
            “tidak, kita akan disini, ayah sudah bahagia disana” ibu

            Pagi ini aku tidak masuk sekolah ibu membawaku ke rumah sakit untuk mengobati luka dan membawaku ke psikiater. Ibu merasa aku memiliki depresi sehingga ibu ingin aku di periksa oleh ahlinya. Setelah selesai mengobati luka di tangan aku, aku segera pindah ke ruang psikiater. Di dalam ruangan hanya ada aku dan seorang dokter cantic, sedangkan ibu diminta untuk menunggu di luar.
            “hai coba perkenalkan namamu” tanya dokter yang tepat berada di depan ku
            “namaku Ahn Yujin aku siswa SMA kelas 12” jawabku singkat sesuai permintaan dokter
            “lalu itu tanganmu kenapa?” tanya nya
            “aku melakukan self-harm” aku menunduk malu menjawab pertanyaan dokter barusan
            “coba tuliskan semua keluh kesah mu, semua yang kau rasakan di dalam buku ini. Anggap buku ini menjadi tempat curhat mu” dokter itu memberikan sebuah buku diary dan pulpen kepadaku. Aku mencoba menulis seuatu di buku tetapi tidak bisa yang ada aku hanya lah menggambar sesuatu yang kulihat saat itu dan sampai akhirnya aku menyerah
            “aku tidak bisa dok, ketika aku ada masalah aku hanya bisa melukai diriku sendiri, ini aku rasakan ketika aku memiliki masalah atau sedang merasakan tertekan” ucap ku
            “baiklah aku tidak memaksamu, aku akan memberikan diagnosis tentang kondisi mu saat ini dan aku akan buat kan resep obatuntuk bisa mengontrol dirimu sendiri” dokter menuliskan beberapa resep obat dan menuliskan diagnosis tentang diriku. Setelah menunggu sekitar 20 menit dokter bicara pada ibuku dan giliran ku menunggu di luar karena aku tidak suka dengan pemandangan di dalam
            “hallo ibu saya sudah membuat resep obat untuk yujin, sebenarnya ini adalah obat depresi jika yujin sedang merasa tertekan atau berada dalam situasi yang sulit yujin harus meminum obat ini, gunanya untuk mencegah dirinya melakukan self-harm lagi. Dan saat ini yujin sudah masuk dalam kategori depresi dan stereotypic self injury. Diamana ketika dia meras tertekan atau ada masalah dia akan otomatis melukai dirinya sendiri, Karena tidak ada orang lain yang bisa menajdi tempat dia bercerita. Yang dibutuhkan yujin saat ini adalah dukungan dan kasih sayang yang cukup dari orang terdekat” dokter memberikan surat diagnosa itu kepada ibu
            “baik terimakasih dok, jika yujin masih seperti ini terus saya akan kembali kesini” ucap ibu

            Mulai saat ini setiap kali aku merasa tertekan aku akan meminum obat anti depresi tetapi aku bosan karena setiap kali aku berada dirumah maka aku akan terus meminum obat itu. Yang ada aku akan mati overdosis karena terlalu banyak mengkonsumsi obat. Aku pun sedikit demi sedikit mulai melupakan obat tersebut dan menaruhnya di laci lemari baju ku yang paling dalam

            Ternyata setelah aku melepas obat itu, penyakit self injury yang aku derita kembali lagi. Setiap aku mendengar ibu merasa kesakitan aku akan otomatis menggoreskan cutter di tangan kiri ku. Ketika aku emndengar bahwa yooju mengalami kesulitan di pekerjaannya maka akan ada luka baru di bagian tubuh lainnya

            Kejadian seperti ini pun terus di perhatikan oleh baejin. Sampai akhirnya dia mengirimkan surat di meja ku untuk mengajaku bertemu dengan nya sepulang sekolah di pinggir sungai han. Karena aku penasaran dengan maksud dan tujuan baejin mengajak ku bertemu, aku pun menyusulnya kesana. Aku telat 15 menit dari waktu janjian. Tapi tak apalah toh ini bukan keinginann ku untuk bertemu dengannya
            “aku fikir kau tak datang” baejin membuka kupluk hoodie nya
            “ada apa kau mengajak ku kesini” tanya ku jutek
            “kau pasti masih melakukannya ya” ucap baejin yang sangat sangat dingin. Pantas saja tidak ada orang yang mau berteman dengannya
            “iya aku positif depresi, aku sudah pernah minum obat tetapi sekarang aku sudah melepaskannya. Aku takut mati konyol karena overdosis “ pandanganku kosong melihat tenang nya air danau yang mengalir
            “coba kau buka blazermu” Baejin
            “tidak mau” aku merekatkan blazer ku agar tidak di buka oleh baejin
            “pasti di tangan kiri mu banyak sekali luka, aku sudah pernah bilang padamu jika kau ada masalah ceritakan semuanya padaku, berhenti untuk menyakiti dirimu, kasihan kulitmu jadi rusak, lalu rambut mu jadi habis karena kau sering menjambaknya hingga rontok”baejin tersenyum padaku, baru kali ini aku melihat anak yang paling introvert bisa selembut ini padaku
            “kau adalah orang yang paling introvert di sekolah, bahkan banyak yang tidak ingin berteman dengan mu karena kau aneh. Tapi kenapa kau bisa memperhatikanku sampai seperti ini. Bahkan kau adalah orang yang tahu jika aku sering melakukan self-injury” akhirnya aku bisa mengobrol dengan baejin secara lepas
            “aku diam bukan berarti aku tidak perduli dengan keadaan sekitar. Aku tau kau suka sekali menyakiti dirimu sendiri, aku tahu yuri adalah anak yang kurang kasih sayang karena kedua orang tua nya bekerja, aku tahu chaewon yang pendiam karena orang tuanya yang kasar padanya, aku tahu semua tentang anak-anak di sekolah tetapi aku lebih memilih diam” tidak ku sangka baejin akan bercerita sepanjang ini dengan ku
            “kau tau itu semua, padahal kau tidak pernah berbicara dengan mereka sekali pun. Apa kau seorang cenayang?” tanya ku polos
            “bukan aku bukan cenayang tapi aku ini hantu hihihihi” baejin menakut-nakuti ku dan berakhir dengan senda gurau

            Aku menghabiskan sore ku bersama baejin di tepi sungai han. Aku sama sekali tidak melihat ponsel, sudah banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari ibu. Aku tahu ibu pasti khawatir padaku saat ini, terlebih ibu sudah tahu kondisi ku yang sebenarnya. Aku sedikit merasa lega ketika bercerita semuanya pada baejin. Ternyata dokter bilang benar jika salah satu obat untuk menyembuhkan sakit ku adalah dengan terbiasa terbuka dengan orang lain

            Baejin yang sudah tahu tentang hidupku mencoba untuk berusaha menyembuhkanku dengan berbagi cerita kepada yuri, chaewon dan beberapa teman kelasku
            “hai teman aku boleh bergabung” ucap baejin kaku yang menghampiri kerumunan teman-teman ku yang sedang istirahat latihan paduan suara
            “heiii anak aneh ingin apa kau kemari” ucap salah satu anak dari kerumunan itu
            “iya mau apa kau, bukannya kau bisa hidup tanpa teman-teman ya hahahaha” semua anak menertawakan baejin kecuali yuri dan chaewon
            “ada apa baejin kau kemari” tanya yuri
            “aku tau kalian semua teman baik nya yujin kan?, kalian sayang pada yujin?” baejin mencoba mengakrabkan diri dengan orang yang tidak pernah mengobrol dengannya
            “kita semua sayang pada yujin dia anak yang ceria, dia anak yang bisa membuat kami tertawa, tidak sepertimu yang aneh” cacian demi cacian terus menghampiri baejin
            “kalau kalian sayang pada yujin, tolong kita sama-sama bantu yujin, yujin sedang membutuhkan bantuan kita saat ini” baejin
            “bantuan apa? Selama ini yujin biasa saja dan tidak pernanh meminta apapun dari kami, iya kan” ucap juwon
            “jangan percaya kata anak aneh itu bisa saja dia bohong karena ingin menipu kita” semua anak tidak ada yang percaya dengan kata kata baejin, karena baejin di anggap aneh oleh mereka
            “aku serius yujin sedang sakit dia sering melukai dirinya sendiri, jika kalian tidak percaya buktikan sendiri, kalau kalian melihat ada luka di kanan kiri yujin berarti semua ucapan ku benar” ucap baejin lalu pergi meninggalkan mereka

            Chaewon dan yuri yang mendengar langsung bingung. Mereka antara percaya atau tidak dengan ucapan baejin. Karena chaewon dan yuri termasuk teman dekat yujin, mereka mumutuskan untuk segera mencari tahu tentang kebenaran ucapan baejin barusan. Yuri yang memiliki tubuh lebih kecil di banding aku, meminta tolong aku untuk mengambilkan buku di perpustakaan yang berada di paling atas rak. Ketika aku sedang mengambil buku, blazer aku sedikit turun ke bawah dan betapa terkejutnya yuri ketika melihat pembulu nadi ku yang di tutupi plester luka bertuliskan “Fvck” dan beberapa goresan luka juga menghiasi tangan ku

            “ini yuri” aku memberikan buku buku sains untuk yuri
            “eoohhh iya” yuri masih dengan ekspresi kagetnya menerima buku sambil terdiam
            “kau kenapa yuri” tanyaku bingung karena melihat yuri tiba-tiba terdiam
            “eeoohhhh yaaa, aku tidak apa, terimakasih ya yujin aku langsung ke kelas byeee” jawab nya kaget lalu pergi meninggalkan ku
           
            Yuri aneh kenapa dia tiba-tiba seperti itu, apa ada yang aneh dengan ku, atau aku ada salah dengan dia?. Padahal baru kemarin aku pergi ke toko buku bersama dia dan chaewon. Atau jangan-jangan yuri melihat plester luka ini, aku harap ini hanya perasaan ku saja. Selepas dari perpustakaan yuri langsung menhampiri teman-teman paduan suara

            “teman-teman ternyata benar apa kata baejin kalau yujin suka melukai dirinya sendiri” yuri yang tergesa-gesa dari perpustakaan, sedangkan nafasnya masih tersengal akibat dia lari
            “kau tahu dari mana yuri?” tanya chaewon
            “aku tadi melihatnya sendiri, aku lihat di tangan kiri yujin penuh dengan goresan seperti pisau atau cutter dan di urat nadinya terdapat plester luca dengan tulisan fvck” yuri
            “oke kalau begitu kita harus bantu yujin sekarang” ucap junwo

            Mereka teman-teman baik ku yang sudah tahu tentang kondisi ku pun akhirnya mendatangi baejin dan meminta maaf pada baejin karena mereka telah jahat pada baejin. Mereka menganggap omongan baejin hanyalah omong kosong, tapi kenyataannya baejin benar
            “baejin” teriak junwo dan baejin hanya sekali menoleh lalu kembali lagi pada aktifitasnya
            “baejin maafkan kami yang telah jahat padamu, sekarang kami percaya bahwa yujin benar-benar membutuhkan bantuan kami. Ayo kita sembuhkan yujin bersama” junwo
            “sekarang kalian baru percaya kan pada ku. Aku ingin kita semua membuat butterfly project” baejin
            “butterfly project, apa itu” Tanya yuri
            “project untuk orang seperti yujin. Dimana kita harus menggambar kupu-kupu di pergelangan kiri dan masing-masing kupu-kupu harus di beri nama. Tolong gambar seperti ini” baejin menunjukkan pergelangan tangan kirinya yang sudah hampir penuh dengan gambar kupu-kupu dengan namanya. Dan disalah satu kupu-kupu itu terdapat nama yujin
            “lalu fungsinya apa” chaewon menambahkan
            “ketika yujin ingin melakukan self-harm maka dia akan melukai si kupu-kupu yang berarti yujin telah melukai orang yang namanya ada di gambar kupu-kupu tersebut. Jika yujin sayang dengan orang tersebut maka yujin tidak akan melukai dirinya sendiri. Karena maksud dari project ini adalah saat yujin melukai dirinya = yujin melukai satu orang yang dia sayang” mereka semua kaget mendengar penjelasan baejin. Bagaimana mungkin orang se-introvert baejin bisa memiliki pemikiran seperti ini. Dari mana dia tahu tentang semua ini padahal dia saja tidak pernah bertukar informasi dengan orang lain
            “waaaawww kau hebat baejin, darimana kau bisa tau tentang project ini” junwo yang sebelumnya sering mencaci baejin sekarang berbalik memuji baejin
            “kita lakukan ini besok, tunjukkan pada yujin agar dia bisa berhenti melukai dirinya sendiri dan sembuh” baejin tersenyum yang membuat semua anak-anak heran

            Butterfly project dilakukan semua teman-teman ku sudah menggambar kupu-kupu yang sudah di beri nama orang tersayang mereka, termasuk keluarga dan teman sekolah. Aku yang saat itu sedang menggambar di taman sekolah tiba-tiba di kejutkan oleh teman-teman ku yang datang sambil menunjukkan tangan kiri mereka yang cantic. Aku bingung apa maksud mereka
            “yujin stop self-harm, love yourself” ucap yuri seraya mengeluarkan air mata
            “gambar kupu-kupu di tangan mu dan beri nama mereka dengan orang tersayang mu” chaewon tersenyum manis
            “ketika kau ingin melukai dirimu sendiri = kau melukai satu orang yang kau sayang” junwo
            “kita semua sayang padamu yujin, jika ada masalah ceritakan semuanya pada kami” yuri masih terisak
            “tuhan menciptakan seseorang tidak pernah sia-sia, termasuk kau” baejin senyum hangat
            “kalian” aku hanya bisa terdiam sambil menangis haru. Ternyata semua orang di sekitar ku sangat perduli padaku. Aku tidak menyangka mereka akan seperti ini. Tak lama yuri, chaewon dan yain memeluk ku dan kami menangis haru bersama mereka ternyata sangat sayang padaku

            Satu hal yang tidak pernah aku syukuri adalah aku memiliki teman-teman yang sangat berharga. Aku selalu mengeluh hidupku buruk, berantakan dan tidak pernah berwarna. Sampai aku lupa kalau aku memiliki orang-orang yang tulus mencintaiku. Baejin, orang yang kita anggap paling aneh ternyata bisa mengubah hidup ku  yang kelam. Sekarang aku mulai bisa menerima keadaan ku, aku mulai kembali lagi sayang pada ibu dan yooju. Ibu menjadi lebih survive dengan kanker payudaranya. Semakin hari kondisi ibu semakin membaik setelah di operasi. Yooju mendapatkan pinjaman uang dari tempat dia bekerja dan uang nya di gunakan untuk biaya operasi ibu.
            Teman-teman ku selalu aktif menanyakan keadan ibu dan yooju, mereka selalu sigap memberikan bantuan jika aku memiliki kesulitan. Baejin yang tadinya sangat pendiam sekarang mulai bisa bersosialisasi dan baejin menjadi lebih sering berkumpul dengan teman-teman ku. Aku menjadi lebih senang dengan hidupku saat ini. Semuanya terasa indah, kini saat nya akau mewujudkan mimpi ayah untuk menjadi anak yang pintar. Kata-kata yang selalu aku ingat adalah “tuhan tidak pernah menciptakan seseorang dengan sia-sia” itu menjadi alasan ku untuk terus semangat hidup bersama dengan kupu-kupu cantik ini


-        The end -