BUTTERFLY
Hai
namaku Ahn Yujin aku siswa SMA kelas 11. Aku bukan siswa yang cantic apalagi
berprestasi. Aku hanyalah siswa biasa yang sering sekali tidak masuk karena
sakit-sakitan. Walaupun aku seperti ini tetapi aku masih memiliki banyak teman.
Di sekolah aku selalu ceria walaupun di rumah aku tidak seceria di sekolah.
Ketika aku dirumah aku akan berubah 360 derajat dengan keadaan saat aku
disekolah. Keadaan keluarga ku berubah total semenjak ayah mengidap penyakit kanker.
Sejak ayah sakit ayah tidak lagi bekerja, kami hanya mengandalkan kakak
perempuanku yang bekerja hanya sebagai pelayan restoran. Aku masih sekolah dan
membutuhkan biaya besar
Keadaan
ekonomi yang membuat keluarga ku berubah, walaupun ayah sedang sakit tapi
setiap hari ayah selalu bisa bercanda denganku. Jujur semenjak ayah sakit aku
jarang masuk sekolah, aku hanya ingin menemani ayah setiap hari. Aku ingin
menikmati hari-hari bersama ayah. Aku tidak perduli guru sekolahku memarahi ku
karena aku jarang masuk sekolah aku rasa tidak ada yang lebih berharga di
banding waktu bersama ayah.
Ketika
pertama kali aku mendengar bahwa ayah di vonis kanker hidupku serasa hancur.
Aku merasa dunia serasa berhenti. Sekolah bukan lagi menjadi tempat yang
menyenangkan untukku. Setiap kali aku masuk sekolah aku selalu merasa gelisah,
aku selalu muntah-muntah. Aku merasa sekolah seperti neraka untuk ku. Baru
sehari masuk sekolah setelah vonis ayah aku langsung merasa demam badan ku
panas dingin, aku menggigil, aku muntah padahal aku tidak makan apapun. Setelah
kejadian itu aku tidak mauk sekolah selam 3 hari.
Semua
teman-temanku bertanya kenapa aku jadi seperti ini. Aku jarang masuk sekolah
bukan karena ingin menemani ayah karena tubuhku yang menolak jika aku ke
sekolah. Aku jarang masuk sekolah bukan lagi karena ingin menemani ayah karena
tubuhku yang menolak jika aku ke sekolah. Menurutku ini aneh aku tersiksa tapi
ini bukan lah penyakit aneh. Saat aku pergi ke dokter untuk periksa, dokter
bilang aku hanya terlalu banyak fikiran sehingga tubuhku mengalami reaksi seperti
ini. Ini bukan pertama kalinya tapi sudah beberapa kali.
Dalam
satu bulan aku bisa tidak masuk sekolah hampir 2 minggu bisa jadi karena aku
sakit ataupun sekedar untuk menemani ayah di rumah dan check-up ke dokter.
Semua guru bahkan kepala sekolah tahu tentang kondisi keluarga ku saat ini.
Tapi kakak ku pernah di panggil kepala sekolah karena kelakuanku. Perlahan aku
mulai bisa masuk sekolah dengan normal. Sejak sakit aku jadi jarang makan, tapi
aku memiliki seorang teman yang sangat baik nama nya joo yuri. Hampir setiap
hari dia selalu membawa 2 kotak makan untuk ku dan untuknya. Dia adalah orang
yang paling mengerti kondisi aku saat ini. Tidak pernah sekalipun yuri mengeluh
karena dia selalu membawakan makanan untuk ku
Tidak
ada teman lain selain yuri yang tau dan paham betul tentang kondisi keluarga
ku. Semua teman-teman ku menganggap kondisi keluarga ku baik-baik saja. Karena
aku selalu menjadi happy virus di sekolah aku selalu bisa membuat teman-teman
ku tertawa. Yujin di sekolah tidak lah sama seperti yujin di rumah.
Hari
ini aku rasanya malas sekali ke sekolah, bukan karena aku takut sakit tetapi
perasaan ku tidak enak dan ters-terusan cemas. Sebelum berangkat ke sekolah
seperti biasa aku pamit dengan ayah dan ibu. Kanker ayah semakin parah malah
kankernya sudah menyebar ke mata sehingga menyebabkan ayah buta. Meskipun ayah
tidak bisa lagi melihat wajahku, ayah selalu memberikan energy positif
terhadapku
“yujin
hati-hati ya, ingat kau harus rajin belajarnya agar kau bisa melanjutkan kuliah
dengan beasiswa” ucap ayah sambil mengelus kepalaku, setiap kali ayah berbicara
seperti rasanya seperti hatiku tersyat, aku yang selama ini selalu cuek dengan
sekolah merasa menjadi anak yang paling bodoh. Padahal dengan aku menjadi anak
pintar itu sudah cukup membanggakan ayah
“iya
ayah aku berangkat ya ayah, ibu” aku mencium kedua orang tua ku, sunguh aku
sangat sayang pada mereka
Di
sekolah seperti biasa aku datang dengan wajah yang ceria dan salalu berkumpul
dengan teman-teman sekelasku. Kami mengobrol tentang pelajaran, apapun yang
sedang tren, bahakn kita suka membicarakan guru yang menyebalkan di saat
seperti ini. Aku sama sekali tidak ada beban selama di sekolah terutama setelah
aku sembuh dari penyakit aneh itu. Aku seperti merasa punya dua kehidupan yang
nyaris berbeda, dan di otak ku ada dua kubu yang bisa aku kendalikan ketika aku
sekolah dan ketika aku dirumah.
Malam
ini aku ingin sekali tidur bersama ayah, aku ingin bercerita tentang kegiatan
ku di sekolah selama ini. Semenjak ayah tidak bisa melihat ayah tidak tahu
kegiatan apa saja yang aku lakukan. Sebenarnya aku sudah sering tidur bersama
ayah dan ibu tapi kali ini entah rasanya aku ingin sekali tidur bersama ayah
dan ibu
“ibu
malam ini aku tidur dengan kalian ya” aku yang sudah siap dengan perlengkapan
tidur seperti guling dan selimut
“kenapa
tumben sekali kau ingin tidur dengan ayah dan ibu” tanya ibu sambil merapihkan
tempat tidur, sedangkan ayah masih duduk di meja rias ibu
“tidak
apa bu, kasihan gadis kecil kita masih ingin dimanja” ayah tertawa
“iya
lagi pula kan aku juga sering seperti ini bu” aku mengerucutkan bibirku
“baiklah
sebentar ya” ibu masih membereskan tempat tidur dan menata bantal serta guling
untuk kami tidur bertiga
Aku
selalu merasa senang dan nyaman bila seperti ini, rasanya ingin sekali seperti
ini setiap hari bahkan selamanya. Aku berharap ayah dan ibuku tidak akan pernah
menua dan meninggalkan ku. Kakak ku jarang sekali bisa seperti ini, dia sibuk
mencari uang demi kesembuhan ayah dan untuk kebutuhan sehari. Kalau kakak tidak
seperti ini akan semakin banyak barang-barang ayah dan ibu yang di jual untuk
pengobatan ayah
“ayah
aku ingin kita bisa seperti ini terus selamanya, bersama ayah, ibu dan yooju”
posisiku berada di tengah antara ayah dan ibu
“nanti
kita bertemu di surga ya” ucap ayah
“ayah
kok bicara seperti itu sih, kita akan seperti ini selamanya” aku tidak ingin
waktu mala mini berlalu dengan cepat
“maksud
ayah nanti kita juga akan bahagia di surga iya kan yah” timpal ibu
“iya
nanti kalian yang susul ayah, ayah ingin yujin jadi anak yang pintar dan tidak
menyusahkan yooju, biarkan yooju bekerja untuk kebutuhan kalian, dan ibu aku
titip yujin dan yooju ya rawat dan jaga mereka baik-baik” ayah tersenyum tipis
“iya
ayah semua akan baik-baik saja setelah ini” aku melihat wajah ibu yang sudah
sedih dan matanya berkaca-kaca
“ayah
pasti akan sembuh, ayah harus yakin, karena aku yooju dan ibu selalu mendoakan
dan berusaha untuk kesembuhan ayah” aku memeluk atyah dengan sangat erat, aku
rasakan pelukan hangat ayah sambil menikmati aroma tubuhnya
Malam
itu terasa sangat hangat, dan waktu terasa sangat cepat. Aku seperti melihat
ayah sedang berdiri di sebuah gerbang, aku mencoba untuk mendekati ayah tetapi
aku tidak bisa menyusul ayah, aku bahkan sampai lari untuk sekedar menyusul
ayah, tetapi kenapa aku tidak sampai juga padahal ayah hanya berjarak 50 meter
dari posisiku saat ini. Aku tidak bisa melihat wajah ayah karena ayah
membelakangi ku. Tak lama sinar matahari meyorot kedua mataku. Dan ketika aku
membuka mata ternyata semua itu hanya lah mimpi.
Aku
harap mimpi semalam bukan lah pertanda yang buruk. Seperti biasa aku berangkat
ke sekolah menggunakan subway. Transportasi yang paling terjangkau di kantong
ku. Aku berangkat ke sekolah dengan headset yang terpasang di telingaku sambil
mendengarkan lagu-lagu kesukaan aku dan ayah. Begitu masuk gerbang sekolah aku
yang sedang tidak focus hampir di tabrak oleh lelaki yang paling aneh di
sekolah
“yakkkkkk
kau tidak lihat kah ada orang” aku yang kesal karena hampir tertabrak, karena
tidak mungkin masih pagi begini aku sudah dapat kejadian buruk
“maaf”
ucapnya membuka kaca helm nya dan langsung bergegas pergi
Sepulang
sekolah aku buru-buru datang ke kamar ayah. Baru juga masuk pintu rumah ibu dan
yooju sudah ada di kamar aya sambil menangis, aku yang baru datang langsung
panic melihat mereka. Aku melihat ayah sedang tertidur di ranjang lengkap
dengan selimut dan syal di lehernya. Aku berusaha unutk membuang fikiran buruk
tentang kepergian ayah. Ku lepas tas ku dan langsung aku menghampiri ayah
sambil memeluknya dalam tangis
“kita
harus iklhas ya” ucap ibu sambil menangisi ayah
“yujin
kau harus merelakan ayah ya” yooju mengelus kepalaku yang masih memeluk ayah
“tidak
ayah masih hidup ayah tidak akan pergi meninggalkan ku” tangisanku semakin
pecah ketika mendengar kata kata-kata ibu dan yooju
“tadi
pagi ayah pingsan dan tidak ada yang tahu, aku ingin membawa ayah ke rumah
sakit tetapi aku tidak punya uang” yooju, aku pun langsung pergi ke kamar ku
dan mengambil tabungan yang aku punya. Selama ini sejak ayah sakit uang jajan
yang yooju berikan tidak pernah aku pakai kecuali untuk naik subway. Semua uang
itu aku tabung untuk keadaan mendesak seperti ini
“pakai
uang ini ka, ayo kita kerumah sakit sekarang” aku memberikan beberapa uang
lembar yang sekiranya cukup untuk membawa ayah ke dokter
Akhirnya
kami putuskan untuk pergi ke rumah sakit demi kesembuhan ayah. Dokter bilang
kanker ayah semakin parah dan sudah menyebar ke seluruh tubuh. Kondisi jantung
ayah juga sangat lemah. Kemungkinan ayah untuk bertahan sangat sedikit, selama
berada di rumah sakit hanya tangisan ibu dan yooju yang aku dengar. Tak luput
aku terus berucap doa demi kesembuhan ayah. Aku selalu berfikiran positif di
saat seperti ini. Besok paginya ayah di perbolehkan pulang, karena malam
harinya ayah sudah sadar. Syukur uang tabungan ku cukup untuk membayar biaya
rumah sakit selama satu malam
Pagi
ini aku tetap pergi ke sekolah karena aku ingat pesan-pesan ayah agar aku bisa
menjadi anak yang pintar di sekolah. Aku tidak pernah mau lagi untuk bolos
sekolah, jika aku bolos sekolah sama aja aku tidak sayang pada ayah. Seharian
di sekolah aku seperti biasa tidak ada tanda-tanda bahwa aku sedang memiliki
masalah. Aku tetap menjadi yujin yang sangat ceria, bahkan yuri tidak tahu
kalau kondisi ayah saat ini sedang drop
Sepulang
sekolah di rumah tidak ada orang, tak lama sepupu ku datang dan memberi tahu
kalau ibu dan yooju sedang ada di rumah sakit. Sepupu ku tidak memberitahu
kalau kondisi ayah semakin melemah siang tadi, dia melarang ku untuk menyusul
ke rumah sakit padahal aku ingi bertemu ayah saat itu. Aku hanya bisa menangis
di ruang tamu sambil menunggu kabar dari yooju tentang kondisi ayah. Ku telpon
yooju tapi nomor ponselnya tidak aktif, aku semakin khawatir dan cemas dengan
keadaan mereka bertiga. Aku menangis di ruang tamu sampai tertidur, tiba-tiba
dering ponsel ku membangunka ku dari tidur itu, ada telepon masuk dari nomor
kantor
“hallo”
ucapku
“yujin
ini aku yooju, sekarang aku dan ibu di rumah sakit, maaf aku membuatmu khawatir
karena aku terpaksa harus menjual ponselku untuk biaya ayah, kau jangan
kemana-mana ya tunggu kami di rumah” belum sempat aku bicara yooju sudah
menutup telponnya
Hati
ku semakin kacau sambil meunggu kehadiran mereka bertiga, aku hanya
mondar-mandir di ruang tamu sambil terus berdoa dan berharap yang baik. Hampir
satu jam aku menunggu mereka, aku ingat jam 5:30 aku mendengar suara ambulance
aku harap ayah pulang dengan keadaan yang membaik. Mendengar suara ambulance
yang semakin dekat rumahku aku pun keluar rumah dan melihat yooju dan ibu yang
keluar dari mobil ambulance, tapi dimana ayah, kenapa ayah tidak ikut turun
bersama ibu dan yooju. Tak lama beberpaa perawat membawa ayah keluar dari
ambulance menggunakan peti mati.
Aku
yang melihat langsung mengahmpiri peti itu dan memastikan apakah yang di dalam
itu adalah ayah atau bukan, ibu dan yooju hanya terus menangis dan mangabaikan
pertanyaan ku tentang ayah. Aku sampai bingung harus bertanya pada siapa,
selang 15 menit beberapa kerabat ibu dan sauda-saudara pun datang. Dan pada akhirnya
yooju bilang kalau ayah sudah meninggalkan kami selamanya. Aku terdiam membeku
aku sama sekali tidak bisa menangis saat ini. Rasanya air mata ini sudah
membeku dan tidak bisa aku ungkapkan lagi. Hanya ada kata penyesalan dalam
diriku, kenapa aku mengikuti kata sepupuku untuk tidak menyusul ke rumah sakit.
Padahal itu adalah kesempatan terakhirku melihat ayah.
Satu
minggu berlalu semenjak kepergian ayah. Aku hanya tidak masuk sekolah selama 3
hari dengan surat keterangan kematian ayah. Teman-teman terdekatku datang ke
pemakaman ayah, mereka juga memberikanku dukungan untuk tidak terlalu larut
dalam kesedihanku
“yujin
ayo kita makan” ajak yuri yang seperti biasa membawakan ku bekal makan siang
“Iya”
jawabku
“itu
tanganmu kenapa” tanya yuri yang meilhat luka di tangan kiri ku
“eohhh
semalam aku sedang buat prakarya dan tidak sengaja tanganku kena cutter, ayo
kita makan” aku mengalihkan pembicaraan dan langsung mengajak yuri makan
Aku
dan yuri biasa makan di taman sekolah karena di kantin biasnya sudh penuh
dengah anak-anak yang membeli makanan di kantin. Ketika sedang makan sambil
bersenda gurau aku merasa ada laki-laki yang memperhatikanku dari sebrang
taman. Laki-laki yang biasa di pandang aneh oleh orang satu sekolah, yang waktu
itu pernah hampir ingin menabrak ku. Aku tidak pernah berbicara atau bercanda
denganya, walaupun kami satu angkatan aku sma seklai tidak mengenal dia, aku
hanya tau namanya saja.
Dia
terus memperhatikanku dan sesekali membuang pandangannya jika aku memergoki dia
sedang melihatku. Sampai akhirnya aku merasa rishi dan langsung mengajak yuri
kembali ke kelas. di kelas ketika waktu istirahat masih ada aku biasa bercanda
dengan teman sekelasku. Aku termasuk siswa yang popular karena aku gampang
berteman dengan siapa saja. Tetapi dulu ketika aku sakit-sakitan dan jarang
masuk sekolah mereka perlhan menjauhiku, tapi itu dulu sekarang mereka kembali
lagi berteman denganku
Di
rumah setelah selesai sekolah aku langsung masuk ke kamar tanpa bicara apapun
pada ibu. Jika di sekolah aku menjadi anak yang sangat ceria itu sangat
bertolak belakang ketika aku berada di rumah. Di rumah aku menjadi anak yang
introvert, hal itu di rasakan ibu dan yooju, aku berubah seperti ini setelah
ayah meninggal. Aku merasa kecewa dengan ibu dan yooju yang selalu merahasiakan
tentang kesehatan ayah. Itu mengapa aku sekarang jadi seperti ini. Aku jadi
jarang sekali mengobrol dengan ibu bahkan bisa seharian penuh aku tidak bicara
dengan ibu. Sepulang sekolah aku hanya berdiam diri di kamar sampai ke esok kan
harinya.
Aku
melihat rumah seperti aku melihat neraka. Kondisi finansial yang sulit, ayah
yang sudah pergi, yooju yang selalu pulang malam. Semuanya terasa hitam tidak
ada lagi waran di rumah. Tak jarang aku sering melakukan self-harm pada diriku sendiri,
ketika aku merasa depresi dan tertekan maka aku akan melukai diriku sendiri.
Aku sering memukul kepalaku dengan hairspray sampai memar. Atau menyayat
tanganku sampai berdarah, intinya aku sering sekali melukai diriku sendiri.
Jika
semalam aku melakukan self-harm maka paginya aku akan menggunakan blazer
sekolah ku selama seharian. Aku tidak ingin ada orang lain yang tahu jika aku
suka sekali self-harm. Yuri pun tidak tahu tentang kebiasaan buruk ku ini, aku
harap hanya aku dan tuhan saja yang tahu. Semalam aku melakukannya lagi aku
menyayat tangan kiri ku, ada beberapa luka goresan. Untuk mencegah hal buruk
terjadi aku menempelkan plester luka sebanyak dua tumpuk di pergelangan urat
nadi ku. Karena pada titik itu aku sering sekali menyayat nya. Terkadang jika
aku ingin melakukan yang lebih buruk dari yang biasa aku lakukan aku selalu
ingat senyuman ayah terakhir untukku
Setiap
hari rutinitasku hanyalah seperti itu. Pergi sekolah-pulang-dikamar seharian
dan repeat. Aku merasa aku sakit jiwa aku seakan memiliki 2 kepribadian ganda
tetapi aku mencoba untuk tidak mendiagnosa diriku sendiri. Keadaan semakin
buruk ketika ibu sakit. Sudah beberapa hari ibu sakit. Yooju berusaha
mengumpulkan uang untuk biaya berobat ibu. Sampai dia rela tidak jajan di luar
demi ibu. Sebenarnya aku sedih dan aku merasa sama sekali tidak bersimpati
kepada ibu. Tapi aku masih sakit hati dengan kejadian ayah
Awal
bulan ketika gaji yooju turun, yooju langsung membawa ibu ke rumah sakit,
karena yooju merasa sakit ibu semakin parah. Dan sudah sampai ada benjolan sebesar
kelengkeng di sekitar ketiak ibu. Aku tahu mereka ingin pergi ke rumah sakit,
bahkan ibu pamit dan minta doa dariku agar diagnosis ibu tidak parah tapi aku
pura-pura tidak mau tahu. Sepulangnya dari rumah sakit ibu terlihat tenang dan
tidak menujukkan hal yang buruk terjadi, tapi yooju menghampiriku di kamar yang
sedang bermain dengan cutter
“yujinnn,
apa yang kau lakukan” yooju menaikkan nada bicaranya saat melihat aku sedang
memotong-motong kertas menggunakan cutter
“aku
hanya sedang memotong kertas” jawabku santai
“syukurlah
aku fikir kau melakukan hal yang aneh” yooju menghampiriku yang masih memotong
kertas tanpa melihat ke arahnya
“ada
apa” ucapku melihat yooju
“yujin
kenapa semenjak kepergian ayah kau semakin menjauh dengan ku dan ibu?, apa kami
ada salah padamu, kau tidak pernah berbicara dengan kami” tanya yooju,
sebenarnya yooju adalah sosok kakak yang baik, dia selalu memikirkan ku dia
benar-benar berjuang untuk keluarga semenjak ayah sakit
“tidak
apa” aku masih malas menjawb pertanyaan yooju mala mini
“kau
harus berubah yujin, ibu sakit kau harus berubah sayang pada ibu. Ibu butuh
perhatian kita saat ini” aku melihat yooju yang memangis seperti ini mengingatkanku
pada kejadian saat ayah meninggal
“ibu
sakit apa” tanyaku lemas setelah mendengar cerita yooju
“ibu
sakit kanker payudara stadium 3, aku akan berjuang mati-matian untuk kesembuhan
ibu, dan aku minta tolong padamu untuk bisa memberikan perhatian lagi untuk
ibu” yooju memohon padaku sambil berlutut di depanku. Aku tidak tega melihat
yooju sampai seperti ini demi aku bisa menjadi yujin yang dulu
Aku
hanya terdiam sambil menangis, kenapa hidupku terus-terusan seperti ini. Kenapa
aku tidak pernah bahagia. Hidupku rasanya sudah sangat pahit dan sengsara.
Berkali-kali aku mencoba bersyukur dengan hidupku saat ini tetapi berkali-kali
pula aku menolak fikiran positif itu. Entah bagaimana jika orang lain menjadi
aku mungkin mereka tidak akan sanggup. Ayah sakit hingga membuat kondisi
ekonomi kami memburuk bahakn yooju harus rela pulang malam setiap hari demi
memnuhi kebutuhan kami, lalu ayah hanya bisa bertahan 2 tahun dan pergi
meninggalkan kami selamanya. Sekarang ibu sedang berjuang melawan penyakit yang
telah merebut ayah dari kami
Sejak
aku tahu kalau ibu sakit aku semakin kasar pada diriku bahkan hampir setiap
malam aku melakukan self-harm. Jika dulu aku hanya sesekali melakukan self harm
beda dengan sekarang yang hampir setiap malam aku melukai diriku sendiri. Aku
tidak pernah melepas blazer ku selama di sekolah, aku juga tidak pernah lagi
menguncir rambutku, karena itu semua untuk menutupi luka yang aku ciptakan
sendiri. Aku tetaplah yujin yang sama jika di sekolah. Ternyata pandangan saat
di taman tempo hari membuat lelaki it uterus memperhatikan gerak-gerikku.
Aku
sungguh tidak mengerti apa motivasi dia yang setiap hari memperhatikanku.
Padahal untuk sekedar bertegur sapa saja aku tidak pernah. Aku hanya kenal dia
anak IPA kelas 12B namnya Bae Jinyoung. Banyak anak-anak memanggilnya baejin
aneh. Karena dia anaknya sangat introvert. Bahkan jika ada tugas kelompok
baejin tidak mau mengerjakannya berkelompok dan memilih untuk mengerjakannya
sendiri. Jarak kelas kami hanya bersebelahan tapi jujur aku jarang sekali
melihat dia keluar pada saat istirahat. Tampilan dia seperti L dalam film death
note.
Setiap
hari baejin selalu menggunakan sweater berhoodie warna hitam dan memakai kupluk
untuk menutupi wajahnya yang kecil. Tidak pernah aku melihat baejin mengobrol
dengan orang lain. Dia benar-benar aneh dan sangat sangat introvert. Aku tidak
pernah menyangka bahwa baejin akan diam-diam memperhatikanku. Dimanapun aku
berada selalu ada baejin yang sedang melihat ke arah ku. Sampai pada akhirnya
aku berpapasan dengan baejin di lorong belakang sekolah
“yujin”
baejin menarik tanganku yang berpapasan langsung dengannya
“aawwwwww”
aku teriak karena baejin menarik tanganku yang luka akibat aku sayat semalam
“kau
melakukan nya lagi eohhh” tanyanya datar
“melakukan
apa?” tanyaku bingung
“ini
apa” baejin menggulung blazerku dan dia dengan santai melihat banyaknya luka
sayatan di tanagn kiri ku
“kau
ini apa-apaan sih” aku kesal dan merapihkan kembali blazerku
“berhenti
melukai dirimu sendiri, jika kau ada masalah ceritakan pada orang lain, jika
kau bingung ingin cerita pada siapa datang lah padaku” ucap baejin lalu pergi
meninggalkanku
Aku
bingung kenapa tiba-tiba baejin bisa melakukan itu padaku. Dan kenapa juga aku
bisa berpapasana dengan baejin siang itu. Dari banyak jalan menuju perpustakaan
kenapa aku harus melewati lorong belakang dan bertemu baejin. Dan kenapa juga
baejin bisa tahu tentang penyakitku saat ini. Ini kali pertama aku berbicara
dengan baejin. Selama satu tahun aku bersekolah disini baru kali ini aku
berbicara dan mendengar suara baejin
Keadaan
semakin buruk ketika kanker ibu semakin parah. Ibu harus segera di operasi
karena kankernya sudah menyebar keseluruh tubuhnya. Tapi yooju belum mempunyai
uang, setiap malam aku selalu melihat yooju menangis di kamarnya sambil terus
berdoa untuk kesembuhan ibu. Aku tidak membantu apa-apa, setiap kali ada
masalah baru maka akan aada satu luka di tubuhku. Ibu dan yooju tidak pernah
tahu tentang ini. Aku tidak ingin menambah beban mereka. Sesekali aku mencoba
mencari tahu tentang kebiasaan buruk ku di internet.
Aku
merasa seperti aku memiliki depresi tetapi aku tidak mau jika benar aku
mengidap depresi saat ini. Aku sama sekali tidak bisa mengontrol diriku ketika
aku merasa tertekan atau ada masalah baru. Pasti dengan mudah aku akan melukai
diriku sendiri. Semenjak ibu sakit aku tidak pernah lagi bercerita dengan
teman-teman ku atau yuri. Aku tidak ingin mereka menjadi sedih dan menganggapku
ini seperti orang yang sedang membutuhkan bantuan. Yujin di sekolah tetaplah
yujin yang ceria. Mungkin hal ini menjadi salah satu factor aku jadi seperti
ini. Tidak ada orang yang aku percaya untuk mendengarkanku bercerita.
Sebenarnya
aku sedikit memikirkan tentang perkataan baejin yang rela menjadi tempat
curhatku. Tapi rasanya aneh jika aku tidak pernah kenal dia secara tiba-tiba
bercerita tentang semua masalahku. Aku takut baejin memiliki niatan buruk
padaku. Karena sebagian orang bukannya dengan tulus ingin membantuku tetapi
mereka hanya penasaran dengan ceritaku.
“yujin
kau sudah pulang” ucap ibu dari ruang makan yang sedang menjahit
“iya”
jawabku lalu langsung pergi ke kamar. Sebenarnya aku ingin mengobrol dengan ibu
seperti dulu tapi rasanya semua rasa itu tidak pernah muncul kembali. Ibu tidak
pernah memberitahuku tentang penyakitnya, mungkin ibu tahu dengan kepergian
ayah saja sudah membuatku seperti ini apalagi ditambah dengan keadaan ibu
sekarang
Dari
pulang sekolah hingga malam, seperti biasa aku tetap di kamar, hari ini jadwal
check-up ibu. Yooju izin pulang cepat agar bisa menemani ibu, selama ibu sakit
aku tidak pernah menemani ibu sekalipun untuk check-up. Aku lebih memilih berdiam
di kamar seharian di banding menemani ibu karena aku pasti tidak akan kuat
menerima kenyataan bahwa hidupku akan benar-benar hancur sebentar lagi
Sepulang
dari check-up yooju masuk ke kamar ku yang sangat berantakan. Dan yooju
memberitahu tentang keadaan terkini kondisi ibu
“yujin
mau sampai kapan kau seperti ini, kondisi ibu semakin memburuk. Biu selalu
sedih setiap kali kau menghindar darinya, ibu memiliki 2 orang putri jadi ibu
membutuhkan dukungan dari 2 orang putri nya. Jangan sampai kita kehilangan ibu,
aku tahu kau sangat sayang pada ibu maka dari itu tolong tunjukkan rasa sayang
itu pada ibu” yooju mengelus kepalaku
“lebih
baik kau keluar sekarang kaka, aku tidak ingin di ganggu” ucapku seraya
menghempas tangan yooju dari kepalaku
Yooju
pun keluar dari kamar ku dan aku langsung menutup pintu kamarku dengan keras
dan mengunci pintu. Ibu yang mendengar hentakan itu pun kaget. Saat ini aku
benar benar tidak bisa lagi mengendalikan tubuh dan fikiranku. Aku ambil cutter
dari meja belajarku, aku menangis histeris dan teriak. Aku benar-benar kacau
saat itu, yang ada di fikiran ku saat itu adalah aku ingin memotong urat nadi
di tangan kiri ku. Rasanya ingin ku copot plester luka yang menutupi nadi ku. Ku
gores berkali kali tangan kiri ku sampai darah berceceran di lantai. Berkali-kali
pula aku menangis teriak karena sakit
Ibu
yang mendengar suara tangisanku menghampiri ku dikamar, ibu mencoba membuka
pintu kamar ku yang terkunci. Aku lihat gagang pintu ku yang terus bergerak
pertanda orang dari luar yang ingin mencoba masuk
“yujin-ahhhh
buka pintunya nak” ibu terus mencoba membuka pintu kamarku yang terkunci
“yujin
buka pintunya sayang, ibu akan dobrak jika kau tidak mau buka ya” dengan
kekuatan paruh ibu, ibu pun mendobrak pintu kamarku dan akhirnya terbuka. Ibu kaget
bukan kepalang melihat aku yang sudah berantakan. Kamarku penuh dengan bercak
darah yang mengalir dari tanganku. Ibu yang melihat kejadian itu langsung
memeluk ku erat sambil menangis
“yujin
ibu mohon jangan lakukan itu, ibu dan yooju sangat sayang padamu nak” ibu tak
henti-henti memeluk ku sambil menangis dan menghapus darah yang ada di tangan
ku
“aku
ingin menyusul ayah bu” aku terus menangis di dalam pelukan ibu
“tidak,
kita akan disini, ayah sudah bahagia disana” ibu
Pagi
ini aku tidak masuk sekolah ibu membawaku ke rumah sakit untuk mengobati luka
dan membawaku ke psikiater. Ibu merasa aku memiliki depresi sehingga ibu ingin
aku di periksa oleh ahlinya. Setelah selesai mengobati luka di tangan aku, aku
segera pindah ke ruang psikiater. Di dalam ruangan hanya ada aku dan seorang
dokter cantic, sedangkan ibu diminta untuk menunggu di luar.
“hai
coba perkenalkan namamu” tanya dokter yang tepat berada di depan ku
“namaku
Ahn Yujin aku siswa SMA kelas 12” jawabku singkat sesuai permintaan dokter
“lalu
itu tanganmu kenapa?” tanya nya
“aku
melakukan self-harm” aku menunduk malu menjawab pertanyaan dokter barusan
“coba
tuliskan semua keluh kesah mu, semua yang kau rasakan di dalam buku ini. Anggap
buku ini menjadi tempat curhat mu” dokter itu memberikan sebuah buku diary dan
pulpen kepadaku. Aku mencoba menulis seuatu di buku tetapi tidak bisa yang ada
aku hanya lah menggambar sesuatu yang kulihat saat itu dan sampai akhirnya aku
menyerah
“aku
tidak bisa dok, ketika aku ada masalah aku hanya bisa melukai diriku sendiri,
ini aku rasakan ketika aku memiliki masalah atau sedang merasakan tertekan”
ucap ku
“baiklah
aku tidak memaksamu, aku akan memberikan diagnosis tentang kondisi mu saat ini
dan aku akan buat kan resep obatuntuk bisa mengontrol dirimu sendiri” dokter
menuliskan beberapa resep obat dan menuliskan diagnosis tentang diriku. Setelah
menunggu sekitar 20 menit dokter bicara pada ibuku dan giliran ku menunggu di
luar karena aku tidak suka dengan pemandangan di dalam
“hallo
ibu saya sudah membuat resep obat untuk yujin, sebenarnya ini adalah obat
depresi jika yujin sedang merasa tertekan atau berada dalam situasi yang sulit
yujin harus meminum obat ini, gunanya untuk mencegah dirinya melakukan
self-harm lagi. Dan saat ini yujin sudah masuk dalam kategori depresi dan
stereotypic self injury. Diamana ketika dia meras tertekan atau ada masalah dia
akan otomatis melukai dirinya sendiri, Karena tidak ada orang lain yang bisa
menajdi tempat dia bercerita. Yang dibutuhkan yujin saat ini adalah dukungan
dan kasih sayang yang cukup dari orang terdekat” dokter memberikan surat diagnosa
itu kepada ibu
“baik
terimakasih dok, jika yujin masih seperti ini terus saya akan kembali kesini”
ucap ibu
Mulai
saat ini setiap kali aku merasa tertekan aku akan meminum obat anti depresi
tetapi aku bosan karena setiap kali aku berada dirumah maka aku akan terus
meminum obat itu. Yang ada aku akan mati overdosis karena terlalu banyak
mengkonsumsi obat. Aku pun sedikit demi sedikit mulai melupakan obat tersebut
dan menaruhnya di laci lemari baju ku yang paling dalam
Ternyata
setelah aku melepas obat itu, penyakit self injury yang aku derita kembali
lagi. Setiap aku mendengar ibu merasa kesakitan aku akan otomatis menggoreskan
cutter di tangan kiri ku. Ketika aku emndengar bahwa yooju mengalami kesulitan
di pekerjaannya maka akan ada luka baru di bagian tubuh lainnya
Kejadian
seperti ini pun terus di perhatikan oleh baejin. Sampai akhirnya dia
mengirimkan surat di meja ku untuk mengajaku bertemu dengan nya sepulang
sekolah di pinggir sungai han. Karena aku penasaran dengan maksud dan tujuan
baejin mengajak ku bertemu, aku pun menyusulnya kesana. Aku telat 15 menit dari
waktu janjian. Tapi tak apalah toh ini bukan keinginann ku untuk bertemu
dengannya
“aku
fikir kau tak datang” baejin membuka kupluk hoodie nya
“ada
apa kau mengajak ku kesini” tanya ku jutek
“kau
pasti masih melakukannya ya” ucap baejin yang sangat sangat dingin. Pantas saja
tidak ada orang yang mau berteman dengannya
“iya
aku positif depresi, aku sudah pernah minum obat tetapi sekarang aku sudah
melepaskannya. Aku takut mati konyol karena overdosis “ pandanganku kosong
melihat tenang nya air danau yang mengalir
“coba
kau buka blazermu” Baejin
“tidak
mau” aku merekatkan blazer ku agar tidak di buka oleh baejin
“pasti
di tangan kiri mu banyak sekali luka, aku sudah pernah bilang padamu jika kau
ada masalah ceritakan semuanya padaku, berhenti untuk menyakiti dirimu, kasihan
kulitmu jadi rusak, lalu rambut mu jadi habis karena kau sering menjambaknya
hingga rontok”baejin tersenyum padaku, baru kali ini aku melihat anak yang
paling introvert bisa selembut ini padaku
“kau
adalah orang yang paling introvert di sekolah, bahkan banyak yang tidak ingin
berteman dengan mu karena kau aneh. Tapi kenapa kau bisa memperhatikanku sampai
seperti ini. Bahkan kau adalah orang yang tahu jika aku sering melakukan
self-injury” akhirnya aku bisa mengobrol dengan baejin secara lepas
“aku
diam bukan berarti aku tidak perduli dengan keadaan sekitar. Aku tau kau suka
sekali menyakiti dirimu sendiri, aku tahu yuri adalah anak yang kurang kasih
sayang karena kedua orang tua nya bekerja, aku tahu chaewon yang pendiam karena
orang tuanya yang kasar padanya, aku tahu semua tentang anak-anak di sekolah
tetapi aku lebih memilih diam” tidak ku sangka baejin akan bercerita sepanjang
ini dengan ku
“kau
tau itu semua, padahal kau tidak pernah berbicara dengan mereka sekali pun. Apa
kau seorang cenayang?” tanya ku polos
“bukan
aku bukan cenayang tapi aku ini hantu hihihihi” baejin menakut-nakuti ku dan
berakhir dengan senda gurau
Aku
menghabiskan sore ku bersama baejin di tepi sungai han. Aku sama sekali tidak
melihat ponsel, sudah banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari ibu. Aku tahu
ibu pasti khawatir padaku saat ini, terlebih ibu sudah tahu kondisi ku yang
sebenarnya. Aku sedikit merasa lega ketika bercerita semuanya pada baejin. Ternyata
dokter bilang benar jika salah satu obat untuk menyembuhkan sakit ku adalah
dengan terbiasa terbuka dengan orang lain
Baejin
yang sudah tahu tentang hidupku mencoba untuk berusaha menyembuhkanku dengan
berbagi cerita kepada yuri, chaewon dan beberapa teman kelasku
“hai
teman aku boleh bergabung” ucap baejin kaku yang menghampiri kerumunan
teman-teman ku yang sedang istirahat latihan paduan suara
“heiii
anak aneh ingin apa kau kemari” ucap salah satu anak dari kerumunan itu
“iya
mau apa kau, bukannya kau bisa hidup tanpa teman-teman ya hahahaha” semua anak
menertawakan baejin kecuali yuri dan chaewon
“ada
apa baejin kau kemari” tanya yuri
“aku
tau kalian semua teman baik nya yujin kan?, kalian sayang pada yujin?” baejin
mencoba mengakrabkan diri dengan orang yang tidak pernah mengobrol dengannya
“kita
semua sayang pada yujin dia anak yang ceria, dia anak yang bisa membuat kami
tertawa, tidak sepertimu yang aneh” cacian demi cacian terus menghampiri baejin
“kalau
kalian sayang pada yujin, tolong kita sama-sama bantu yujin, yujin sedang
membutuhkan bantuan kita saat ini” baejin
“bantuan
apa? Selama ini yujin biasa saja dan tidak pernanh meminta apapun dari kami,
iya kan” ucap juwon
“jangan
percaya kata anak aneh itu bisa saja dia bohong karena ingin menipu kita” semua
anak tidak ada yang percaya dengan kata kata baejin, karena baejin di anggap
aneh oleh mereka
“aku
serius yujin sedang sakit dia sering melukai dirinya sendiri, jika kalian tidak
percaya buktikan sendiri, kalau kalian melihat ada luka di kanan kiri yujin
berarti semua ucapan ku benar” ucap baejin lalu pergi meninggalkan mereka
Chaewon
dan yuri yang mendengar langsung bingung. Mereka antara percaya atau tidak
dengan ucapan baejin. Karena chaewon dan yuri termasuk teman dekat yujin,
mereka mumutuskan untuk segera mencari tahu tentang kebenaran ucapan baejin
barusan. Yuri yang memiliki tubuh lebih kecil di banding aku, meminta tolong
aku untuk mengambilkan buku di perpustakaan yang berada di paling atas rak. Ketika
aku sedang mengambil buku, blazer aku sedikit turun ke bawah dan betapa
terkejutnya yuri ketika melihat pembulu nadi ku yang di tutupi plester luka
bertuliskan “Fvck” dan beberapa goresan luka juga menghiasi tangan ku
“ini
yuri” aku memberikan buku buku sains untuk yuri
“eoohhh
iya” yuri masih dengan ekspresi kagetnya menerima buku sambil terdiam
“kau
kenapa yuri” tanyaku bingung karena melihat yuri tiba-tiba terdiam
“eeoohhhh
yaaa, aku tidak apa, terimakasih ya yujin aku langsung ke kelas byeee” jawab
nya kaget lalu pergi meninggalkan ku
Yuri
aneh kenapa dia tiba-tiba seperti itu, apa ada yang aneh dengan ku, atau aku
ada salah dengan dia?. Padahal baru kemarin aku pergi ke toko buku bersama dia
dan chaewon. Atau jangan-jangan yuri melihat plester luka ini, aku harap ini
hanya perasaan ku saja. Selepas dari perpustakaan yuri langsung menhampiri
teman-teman paduan suara
“teman-teman
ternyata benar apa kata baejin kalau yujin suka melukai dirinya sendiri” yuri
yang tergesa-gesa dari perpustakaan, sedangkan nafasnya masih tersengal akibat
dia lari
“kau
tahu dari mana yuri?” tanya chaewon
“aku
tadi melihatnya sendiri, aku lihat di tangan kiri yujin penuh dengan goresan
seperti pisau atau cutter dan di urat nadinya terdapat plester luca dengan
tulisan fvck” yuri
“oke
kalau begitu kita harus bantu yujin sekarang” ucap junwo
Mereka
teman-teman baik ku yang sudah tahu tentang kondisi ku pun akhirnya mendatangi
baejin dan meminta maaf pada baejin karena mereka telah jahat pada baejin. Mereka
menganggap omongan baejin hanyalah omong kosong, tapi kenyataannya baejin benar
“baejin”
teriak junwo dan baejin hanya sekali menoleh lalu kembali lagi pada
aktifitasnya
“baejin
maafkan kami yang telah jahat padamu, sekarang kami percaya bahwa yujin
benar-benar membutuhkan bantuan kami. Ayo kita sembuhkan yujin bersama” junwo
“sekarang
kalian baru percaya kan pada ku. Aku ingin kita semua membuat butterfly project”
baejin
“butterfly
project, apa itu” Tanya yuri
“project
untuk orang seperti yujin. Dimana kita harus menggambar kupu-kupu di
pergelangan kiri dan masing-masing kupu-kupu harus di beri nama. Tolong gambar
seperti ini” baejin menunjukkan pergelangan tangan kirinya yang sudah hampir
penuh dengan gambar kupu-kupu dengan namanya. Dan disalah satu kupu-kupu itu
terdapat nama yujin
“lalu
fungsinya apa” chaewon menambahkan
“ketika
yujin ingin melakukan self-harm maka dia akan melukai si kupu-kupu yang berarti
yujin telah melukai orang yang namanya ada di gambar kupu-kupu tersebut. Jika yujin
sayang dengan orang tersebut maka yujin tidak akan melukai dirinya sendiri. Karena
maksud dari project ini adalah saat yujin melukai dirinya = yujin melukai satu
orang yang dia sayang” mereka semua kaget mendengar penjelasan baejin. Bagaimana
mungkin orang se-introvert baejin bisa memiliki pemikiran seperti ini. Dari mana
dia tahu tentang semua ini padahal dia saja tidak pernah bertukar informasi
dengan orang lain
“waaaawww
kau hebat baejin, darimana kau bisa tau tentang project ini” junwo yang
sebelumnya sering mencaci baejin sekarang berbalik memuji baejin
“kita
lakukan ini besok, tunjukkan pada yujin agar dia bisa berhenti melukai dirinya
sendiri dan sembuh” baejin tersenyum yang membuat semua anak-anak heran
Butterfly
project dilakukan semua teman-teman ku sudah menggambar kupu-kupu yang sudah di
beri nama orang tersayang mereka, termasuk keluarga dan teman sekolah. Aku yang
saat itu sedang menggambar di taman sekolah tiba-tiba di kejutkan oleh
teman-teman ku yang datang sambil menunjukkan tangan kiri mereka yang cantic. Aku
bingung apa maksud mereka
“yujin
stop self-harm, love yourself” ucap yuri seraya mengeluarkan air mata
“gambar
kupu-kupu di tangan mu dan beri nama mereka dengan orang tersayang mu” chaewon
tersenyum manis
“ketika
kau ingin melukai dirimu sendiri = kau melukai satu orang yang kau sayang”
junwo
“kita
semua sayang padamu yujin, jika ada masalah ceritakan semuanya pada kami” yuri
masih terisak
“tuhan
menciptakan seseorang tidak pernah sia-sia, termasuk kau” baejin senyum hangat
“kalian”
aku hanya bisa terdiam sambil menangis haru. Ternyata semua orang di sekitar ku
sangat perduli padaku. Aku tidak menyangka mereka akan seperti ini. Tak lama
yuri, chaewon dan yain memeluk ku dan kami menangis haru bersama mereka
ternyata sangat sayang padaku
Satu
hal yang tidak pernah aku syukuri adalah aku memiliki teman-teman yang sangat
berharga. Aku selalu mengeluh hidupku buruk, berantakan dan tidak pernah
berwarna. Sampai aku lupa kalau aku memiliki orang-orang yang tulus
mencintaiku. Baejin, orang yang kita anggap paling aneh ternyata bisa mengubah
hidup ku yang kelam. Sekarang aku mulai
bisa menerima keadaan ku, aku mulai kembali lagi sayang pada ibu dan yooju. Ibu
menjadi lebih survive dengan kanker payudaranya. Semakin hari kondisi ibu
semakin membaik setelah di operasi. Yooju mendapatkan pinjaman uang dari tempat
dia bekerja dan uang nya di gunakan untuk biaya operasi ibu.
Teman-teman
ku selalu aktif menanyakan keadan ibu dan yooju, mereka selalu sigap memberikan
bantuan jika aku memiliki kesulitan. Baejin yang tadinya sangat pendiam
sekarang mulai bisa bersosialisasi dan baejin menjadi lebih sering berkumpul
dengan teman-teman ku. Aku menjadi lebih senang dengan hidupku saat ini. Semuanya
terasa indah, kini saat nya akau mewujudkan mimpi ayah untuk menjadi anak yang
pintar. Kata-kata yang selalu aku ingat adalah “tuhan tidak pernah menciptakan
seseorang dengan sia-sia” itu menjadi alasan ku untuk terus semangat hidup
bersama dengan kupu-kupu cantik ini
-
The
end -
No comments:
Post a Comment