You Never Walk Alone
Hidupku
sempurna bahkan jika ada kata melebihi dari itu aku akan mengungkapkan nya.
Apapun yang aku mau aku bisa mewujudkannya. Di sekolah aku popular, wajahku
tampan, aku pintar dan aku ramah. Banyak orang yang menyukai sikap maupun
wajahku. Kedua orang tua ku bekerja, mereka berdua sama-sama sukses. Orang tua
ku selalu memberikan apapun yang aku minta. Aku tidap pernah kesulitan
financial, bahkan aku sering mentraktir teman-teman sekolahku. Sebenarnya aku
bangga bisa memiliki kehidupan seperti ini, tetapi masih ada satu hal yang
sangat mengganjal hatiku.
Dibalik
kehidupan ku yang nyaris sempurna, sebenarnya ada satu hal yang mungkin akan
mengejutkan semua orang. Selama aku sekolah TK sampai aku SMA, aku selalu
mengaku kalau aku adalah anak tunggal. Kedua orang tua ku pun selalu bilang
kalau mereka hanya memiliki satu anak. Bahkan di data keluarga hanya ada ayah,
ibu dan aku. Padahal pada kenyataannya aku memiliki seorang adik perempuan yang
jaraknya hanya 3 tahun lebih muda dariku.
Adik
ku bukan lah seorang dengan keterbelakangan mental. Adik ku sempurna, memiliki
wajah yang cantic dan tubuh yang indah. Hanya karena perlakuan ayah terhadapnya
membuat dia menjadi seperti sekarang. Adik perempuan ku bernama Kim Tae Hee,
setiap hari tae hee hanya dikurung dikamar seharian. Tidak boleh ada yang
berbicara dengan nya. Bahkan asisten rumah tangga ku hanya boleh memberikannya
makan lalu pergi. Aku dan ibu sama sekali tidak bisa melawan ayah, dia sangat
keras. Jika aku ketauan berbicara dengan tae hee maka tae hee akan disiksa oleh
ayah
Semua
yang di lakukan taehee selalu salah di mata ayah. keseharian taehee hanyalah
berdiam di kamar sambil memeluk kedua kakinya. Tae hee selalu merasa cemas dan
takut, sejak kecil jika tae hee menangis maka ayah akan memukulnya. Hal seperti
itu adalah hal yang tabu untuk ku. Meskipun aku tidak pernah melihat langsung
ketika ayah sedang memukuli tae hee tapi hatiku selalu sedih saat mendengar
suara tangis tae hee.
Setiap
hari aku berangkat ke sekolah menggunakan mobil, aku sudah di belikan ayah
mobil sejak awal masuk SMA. Padahal aku tidak pernah meminta ayah untuk
membelikannya. Aku juga menjadi ketua osis di sekolah, hal itu membuatku
menjadi semakin memiliki banyak teman. Walaupun aku tidak pernah memilih
berteman dengan siapapun, tapi aku meiliki satu sahabat namanya Kwon
Eunbibanyak orang mengira kami berpacaran padahal kami hanya sebatas teman
saja. Aku merasa nyaman dengan eunbi terutama jika sedang membahas masalah
pribadi. Aku dan eunbi berbeda kelas tetapi kelas kita hanya bersebelahan.
Eunbi
anak yang ceria dia juga pintar banyak yang suka pada eunbi, satu hal yang
membuatku mengagumi nya adalah eunbi sangat lah dewasa. Eunbi selalu bisa
memberikan ku solusi jika aku sedang mengalami masalah. Aku tidak inginpacaran
dengannya karena aku takut kehilangannya. Untungnya eunbi tidak seperti wanita
pada umumnya yang memaksa untuk meiliki status. Eunbi juga sanagat nyaman
seperti ini. Aku sering mengantar eunbi pulang bahkan orang tua eunbi juga
sudah kenal padaku.
“taehyung”
sapa seorang wanita dari sebrang jalan
“ummm
selamat pagi putri cantik” ucapku seraya menghampiri eunbi
“aiisshhh
ayo kita ke kelas” eunbi menarik lenganku
“bagaimana
latihan voly mu kemarin, ku lihat-lihat kulit mu semakin hitam sekarang” aku
menggoda eunbi sambil menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala
“doakan
aku ya bisa masuk kedalam tournament nasional tahun ini” eunbi tersenyum manis
padaku, senyum yang selalu membuatku rindu
“nanti
kalau kau bisa ikut dan menang kau harus traktir aku di sevel ya, aku mau makan
mie remyeon sampai muntah” ketika bersama eunbi aku akan berubah menjadi
humoris padahal orang lain melihatku sangatlah berwibawa
“hanya
ramyeon?, padahal tadinya aku ingi mentraktir makan Samyang sampai lidahmu
menjadi tipis” eunbi menjulurkan lidahnya lalu berlari meninggalkan ku
“heiii
mau kemana kau, kenapa aku di tinggalkan” aku berteriak memanggil eunbi
“hari
ini aku ujian jadi aku duluan ya” eunbi melambaikan tangan lalu berlari
Jam
istirahat aku biasa menunggu eunbi di taman sekolah, karena selalu aku yang
keluar kelas lebih dulu. Aku dan eunbi biasa makan bersama teman-teman yang
lain di kantin. Hampir setiap hari eunbi selalu membawa bekal. Ibunya sangat
perhatian padanya. Karena dulu ketika eunbi SMP dia pernah keracunan makanan
dan sejak saat itu eubi selalu membawa bekal dari rumah. Tak jarang eunbi
membawakannya untuk ku, dia bilang itu tanda terimakasih dia untuk ku karena
sering mengantar nya pulang.
“bagaimana
tadi ujian mu” siang ini aku mengantarkan eunbi pulang
“bagus”
jawabnya singkat lalu masuk ke dalam mobil
“aku
tau kau tidak pernah mengecewakan dalam hal ujian” aku dan eunbi pun pulang
bersama
“iya
termasuk ujian hidup hahaha” eunbi tertawa lepas
“manusia
seperti mu mana pernah mengalami ujian hidup yang besar, kau cantik, pintar,
orang tua mu berkecukupan, siapapun mau menjadi teman mu, lalu apa ujian hidup
untuk seorang kwon eunbi” tanyaku mengernyitkan dahi
“kau
berbicara dengan diri sendiri ya” ledeknya
“kau
tidak pernah tau eunbi kalau aku memiliki masalah yang jauh lebih besar dari
pada yang kau lihat” batinku
Sesampainya
di rumah aku biasa menengok taehee di kamarnya. Aku tidak berani berbicara
dengan nya, karena ayah sudah memasang cctv di kamar taehee. Biasanya aku hanya
menengoknya dari jendela
“bi
apa taehee sudah makan siang ini” tanyaku pada salah satu asisten rumah tangga
yang bekerja sebagai pengurus taehee. Aku memiliki 2 asisten rumah tangga yang
satu khusus mengurus taehee dan yang satu untuk mengurus rumah
“sudah
tuan, tapi siang ini taehee makannya hanya sedikit, bibi takut jika harus
membujuk taehee, bibi tidak tega kalau taehee di pukul oleh ayah” wanita paruh
baya itu sangat sabar mengurus taehee, dan aku sangat bertrimakasih padanya
“taehee
kau harus makan yang banyak ya, kakak sayang padamu, maaf kakak bukan tidak mau
berbicara dan bermain padamu tapi kakak lebih sayang padamu, kakak tidak ingin
kau disiksa oleh ayah” aku hanya bisa melihatnya dari luar jendela kamarnya,
aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Di usianya yang ke-13 tahun bahkan taehee
tidak bisa berbicara sama sekali. Taehee hanya berani pada ibu dan juga bibi
won, selebihnya taehee takut pada siapapun terutama aku
Setiap
malam aku hanya makan malam bertiga, tidak ada taehee, dia benar-benar
diasingkan. Rasanya ingin ku pergi ke kamar taehee dan makan malam bersama nya.
Ibu ku sudah tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan ayah. ibu bekerja pun
karena paksaan ayah, supaya ibu tidak bisa dekat dengan taehee, tapi karena
naluri ibu dan anak ibu dan taehee tetaplah dekat
“taehyung
bagaimana sekolahmu hari ini” suara ayah memecahkan keheningan suasana mala
mini
“baik
yah” ucapku singkat
“bagaimana
kabar eunbi, apa dia jadi ikut tournament nasional tahun ini” ibu mulai ikut
dalam percakapan
“doakan
saja ya bu, semoga eunbi bisa lolos tournament tahun ini” aku cepat-cepat
menyelesaikan makanmalamku, karena aku ingin segera kembali ke kamar
Hampir
setiap malam aku selalu mendengar suara taehee menangis kencang, entah karena
ayah yang sedang menyiksanya atau hanya taehee yang selalu merasa sedih. Pernah
aku melihat ibu yang sedang menangis di dapur karena mendengat taehee yang
sedang merintih kesakitan karena di pukul ayah. Aku bingung kenapa ayah
memperlakukan ku berbeda dengan taehee. Padahal taehee juga anak ayah, apalagi
taehee itu anak permpuan aku takut jika taehee dewasa dia akan terus seperti
ini.
Minggu
ini ayah ada jadwal ke luar kota dari kantornya selama satu minggu. Hal yang
pertama di tanya ayah adalah aku ingin di bawakan oleh-oleh apa. Padahal bukan
itu yang aku inginkan, aku hanya ingin ayah cepat pergi karena aku dan ibu
ingin bersama taehee. Sebelum berangkat ayah berpesan pada seluruh orang di
rumah bahwa jangan ada satupun orang yang mengajak taehee berbicara ataupun
yang lainnya.
Tanpa
perduli perkataan ayah aku pergi ke kamar taehee dan mengajaknya untuk makan
malam bersamaku. Agar tidak terlihat cctv aku tidak menyalakan lampu, aku ajak
taehee ke dekat jendela luar lalu kubuka hordengnya agar kami mendapatkan
cahaya dari langit malam
“taehee
ayo kita makan, kakak bawa dua makanan untukmu” aku sengaja membeli cheese
burger untuk ku dan taehee, karena aku tau selama ini taehee hanya memakan
makanan organic saja seperti sayur sayuran dan biji-bijian
“eohhhh”
taehee terlihat ketakutan melihat aku, dia berjalan mundur dan menajuhi ku,
taehee teriak dan membuat bibi won dan ibu masuk ke dalam kamar
“tahee
jangan takut itu kakak, kakak taehyung” ibu memeluk taehee erat sambil
memperkenalkan diriku. Sakit sekali rasanya adik kandung ku sedniri tidak tahu
siapa aku
“noooooooo”
taehee teriak karena dia merasa terancam dengan banyak orang di kamar nya.
Taehee takut jika nantinya ada ayah yang akan meukuli nya
“taehee
jangan takut kakak tidak akan mencelakai mu seperti ayah, ayo kita makan” aku masih
terus mencoba untuk membujuk taehee
“taehyung
sebaiknya biar taehee makan dengan ibu ya” ibu menyuruhku untuk keluar karena
kalau aku terus disini maka taehee tidak akan mau makan
Sambil
menunggu ibu selesai makan dengan taehee aku menunggu di meja makan. Akhirnya
aku hanya makan malam sendirian, tapi bibi won ikut duduk di depan ku, sengaja
bibi won ingin menemaniku makan malam ini.
“bibi
sedih tuan, nona taehee tidak kenal dengan tuan taehyung padahal tuan itu
kakaknya sendiri, tapi bibi masih bingung kenapa ayah memperlakukan kalian
berdua itu sangat berbeda” bibi won sudah menjadi pengasuh taehee sejak dia
umur 2 bulan, sejak ibu mulai bekerja kembali karena tuntutan ayah, taehee
mulai dirawat oleh bibi won. Saat kecil aku tidak mengerti kenapa aku selalu
dipisahkan oleh taehee, bahkan sampai seusia ini aku masih belum menemukan
jawabannya
“aku
juga tidak tahu, aku fikir bibi yang sejak dulu merawat taehee tahu kenapa kami
selalu dipisahkan, aku sedih karena tidak bisa bermain dan hidup bersama adik
ku sendiri” tiba-tiba selera makan ku hilang karena membahas soal ini
“kau
harus sabar ya tuan, suatu saat pasti taehee akan kenal dan dekat dengan tuan
taehyung” ucap bibi won
Hari
ini penentuan apakah eunbi bisa ikut tournament voly atau tidak. Aku selalu
berdoa agar dia mendapatkan apa yang dia mau. Aku berharap ini bisa menjadi
jalan bagi eunbi untuk menggapai cita-cita nya. Aku tidak bisa seperti eunbi
aku hanya bisa mensupport dia.
“bagaimana
hari ini, apakah kau mendapat berita baik dari tournament itu” tanyaku memulai
percakapan sore itu dengan eunbi
“yaassshhh
aku mendapatkan nya kali ini, terimakasih ya pasti ini semua berkat doa mu
juga” eunbi memeluk ku karena saking senang nya, sedang aku tidak bisa berbuat
apa-apa selain terdiam dan juga merasa senang
“aku
tau kau tidak pernah mengecewakan ku” ucapku
“doakan
aku ya setelah ini aku bisa menang” eunbi terlihat sangat bahagia, bagaimana
tidak tournament ini sudah dia impikan sejak masuk SMA dan baru tahun ini eunbi
berhasil lolos ke tournament ini
“iya
aku selalu mendoakan yang terbaik untuk mu eunbi cerewet” aku mencubit pipi
eunbi lalu berlari meninggalkannya
“yaaakkkkk
taehyung” eunbi cemberut lalu berlari mengejar ku
“eunbi
bagaimana kalau sore ini kita makan ramyeon dulu di sevel sebrang apotek” ajak
ku yang langsung menarik lengan eunbi
“kau
yang bayar ya” eunbi tertawa
“iya
untuk mu hari ini special , karena kau boleh tambah rumput laut” aku masih
terus menarik tangan eunbi agar dia mau ikut aku makan ramyeon sore ini
“hanya
itu?” tanya nya dengan wajah yang membuatku gemas
“oke
tambah minum, tapi hanya air putih ya” aku tertawa
“aiisshhh
tidak seru, tambah coklat boleh ya” eunbi merengek seperti anak kecil yang
sedang meminta sesuatu kepada orang tuanya
“iya
boleh tapi tidak boleh banyak ya nanti kau batuk” aku terus menggoda eunbi yang
semakin membuat eunbi menajdi kesal dengan tingkah ku
Sore
ini aku habiskan sore ku dengan eunbi, kami berdua makan ramyeon dan beberapa
snack di sevel tempat biasa kami berdua makan. Sebenarnya tujuan ku mengajak
eunbi kesini adalah untuk menceritakan tentang masalah keluarga ku yang selama
ini aku sembunyikan. Rasanya aku sudah tidak tahan dengan kelakuan ayah, aku
harus menceritakan semuanya kepada orang lain untuk mengurangi beban fikiran ku
“eunbi
ada sesuatu hal yang ingin aku ceritakan padamu” aku merasa sangat canggung
ingin mengungkapkan semuanya. Padahal aku sedang tidak ingin mengungkapkan
cinta pada eunbi
“jangan
bilang kau ingin menyatakan cinta padaku, aishhh caramu sangat tidak romantic,
tapi aku harap kau tidak ingin berbicara itu” eunbi yang masih sibuk dengan
ramyeon nya
“kenapa
kau dari dulu tidak pernah berubah, kau selalu saja merasa PD tingkat dewa”
sifat eunbi yang seperti ini tidak pernah berubah
“hahahaha
maafkan aku tapi kau bicara seperti orang yang sedang ingin menyatakan cinta
sih” eunbi malu dan pipinya memerah
“sebenarnya
aku memiliki seorang adik perempuan” aku
“kau
jangan bercanda, aku tau dirimu, aku tau keluarga mu, bahkan aku hafal kapan
orang tua mu ulang tahun” eunbi
“aku
serius eunbi” aku sedikit menaikan nadi bicaraku, dan membuat eunbi kaget
karena baru pertama kali eunbi melihat aku seserius ini
“maksudmu
apa sih aku tidak mengerti” eunbi terlihat mulai serius dengan percakapan kami
“iya
jadi sebenarnya aku memiliki seorang adik perempuan yang jaraknya 3 tahun lebih
muda dari pada usiaku, ini dia” aku menujukkan satu satunya foto ku dengan
taehee yang aku punya
“kau
serius?” eunbi terlihat kaget melihat foto taehee, yang tidak seperti orang
normal, memang taehee terlihat seperti anak keterbelakangan mental karena
prilaku ayah selama ini terhadapnya
“si
cantik ini nama nya Kim Taehee, sejak kecil dia selalu dikurung oleh ayah,
tidak boleh ada yang berbicara padanya. Mangkanya di usia dia yang sekarang
taehee terlihat seperti anak usia 1 tahun” aku sudah berkaca-kaca ketika
berbicara tentang taehee
“kenapa
kau baru berbicara sekarang, kenapa selama ini kau menyembunyikan semua ini
dariku, aku fikir kau sudah cukup terbuka pada ku selama ini” aku melihat wajah
eunbi yang kecewa terhadapku, tapi sejujurnya eunbi tidak tahu apa alasan ku
menyembunyikan cerita ini pada nya
“maaf
kan aku, hanya kau orang yang tau tentang taehee, kalau ayah tau ada oarng lain
yang tau ini pasti dia akan melampiaskan kemarahannya pada taehee, maka dari
itu aku masih ragu untuk menceritakaan ini padamu
“apa
yang terjadi dengan ayahmu, bukan kah dia sosok yang sangat baik, dia selalu
menanyakan kabarku dan bersikap lembut tiap kali kita bertemu” eunbi
“iya
ayah memang baik pada semua orang, tapi tidak dengan taehee, aku merasa taehee
seperti bukan anak ayah, tapi aku yakin taehee pasti anak ayah. karena aku
selalu merasa dekat dengan taehee” tak terasa air mataku sudah berjatuhan
“aku
mungkin tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan tapi aku harap kau pasti bisa
menemukan jawaban dari maslah mu ini” eunbi memeluk ku, aku merasa sangat
nyaman, ini alasan kenapa aku berani menceritakan semuanya pada eunbi karena
dia selalu bisa menjadi dewasa saat bersamaku
“jangan
sampai ada orang lain tau ya tentang masalah ini” aku yakin semua ceritaku pasti
akan aman ketika aku bercerita ke eunbi
“aku
kaget sangat sangat kaget apa yang kau ceritakan sama sekali berbeda dengan
kehidupan mu selama ini, kau tidak memiliki dua kepribadian kan?” eunbi selalu
saja melontarkan kata-kata jahat seperti itu
“kalau
kau tidak percaya ayo kita kerumah ku sekarang” ku Tarik lengan eunbi yang
sedang duduk menuju ke rumahku. Bukan apa-apa aku hanya ingin meyakinkan eunbi
dengan semua ceritaku, aku tidak ingin eunbi mengangap semua ini hanya rekayasa
Aku
pun membawa eunbi kerumah, malam ini ibu sedang lembur jadi di pastikan ibu
pulang malam. Aku ingin sekali eunbi bertemu dengan taehee, aku juga ingin
memperkenalkan orang yang selama ini cukup berpengaruh terhadap hidupku yaitu
eunbi
“bibi
aku pulang” suara ku memenuhi ruang tamu yang ruangannya cukup besar
“iya
sebentar” terdengar sura seorang wanita paruh baya yang datang menghampiri
suaraku
“bibi
taehee belum tidur kan?” tanyaku cukup antusias dan berhasil membuat bibi
bingung dengan perkataan ku
“iya
belum ttt tt ttaappiii kau mau kemana tuan” bibi won mengejarku yang berjalan
menuju kamar taehee
“bibi
aku mohon jangan ceritakan ini pada ayah atau ibu, aku hanya ingin mengenalkan
taehee pada eunbi saja” aku menghentikan langkahku dan memelas mohon pada bibi
won. Karena bibi won sudah sangat sayang padaku akhirnya bibi won ikut dalam
rencanaku kali ini
“taehee”
sura pelan bibi won sambil membuka pintu kamar taehee. Yang terlihat dari ujung
pintu hanya taehee yang sedang duduk sambil memeluk kedua kakinya yang dilipat
“taehee
ini kakak, lihat kakak bersama kakak eunbi, ayo ini kenalan dengan kakak eunbi”
aku mengajak eunbi masuk ke kamar taehee
“hai
taehee” ucap eunbi lembut seraya mengelus kepala taehee, dan dibalas dengan
tolakan dari tahee
“ayooo
jangan takut ini kakak eunbi teman dari kakak taehyung” bibi won memberikan
pengertian terhadap taehee agar tidak takut dengan orang yang baru ia lihat
“khaaaa
khaaaaaa khaaaaaa” iya taehee hanya bisa berbicara kata “kha” yang berarti
pergi. Karena rasa takutnya pada orang yang baru dia lihat
“taehee
tidak boleh seperti itu kakak eunbi itu orang baik bukan orang jahat” aku juga
terus memberika pengertian terhadap taehee
“taehee
sayang nanti kita main Barbie bersama ya dengan kakak eunbi” aku melihat eunbi
menangis saat berbicara dengan taehee, aku juga ikut merasakan kesedihan eunbi.
Aku melihat kondisi adik ku yang seperti ini sambil terus terbayang kejahatan
yang sudah ayah lakukan pada taehee selama ini
“ayo
bersalaman dengan kakak eunbi” tangan bibi won mengarahkan tangan taehee untuk
berjabat tangan dengan eunbi sebagai awal dari perkenalan mereka
“haaaiiii
nama ku kwon eunbi” eunbi masih tersenyum sambil berjabat tangan dengan taehee
“namaku
kim taehee” ucap bibi won mengajarkan taehee untuk berbicara
“eeuummm
maaf aku jadi sedih” eunbi menyeka air matanya
“eunbi,
tuan maaf sepertinya kalian harus keluar karena kalau kalian terlalu lama
disini taehee akan semakin merasa tertekan dan nanti malam dia pasti akan
mengamuk” bibi won
“baiklah
terimakasih bi, daaaa taehee aku pulang dulu ya” eunbi memeluk hangat taehee
“selamat
tidur adik kecil ku” aku mengelur kepala adik kecilku
“maaf
kan aku taehyung aku jadi sedih seperti ini” terlihat jelas eunbi yang mencoba
untuk tidak menjatuhkan air mata saat bertemu taehee
“sekarang
kau tau kan bagaimana kondisi keluarga ku yang sebenarnya, maaf kalau aku
selama ini sudah menyembunyikan semuanya dari mu” aku
“aku
tau perasaan mu sekarang, tidak mudah memang berada di posisi seperti ini, aku
masih tidak habis fikir kenapa di rumah ini terasa memiliki dunia yang berbeda”
eunbi masih menyeka air matanya yang terus berjatuhan
“this
is me, this is my family, mungkin kejadian seperti ini hanya akan kau lihat di
film saja, tetapi ini semua nyata di hidupku” pandanganku kosong menatap
kedepan
“aku
harap kau akan selalu kuat dan terus menyanyangi taehee” senyum eunbi terlukis
di wajah cantiknya
“sampai
kapan pun aku akan selalu sayang pada taehee, oiya ini sudah larut malam
sebaiknya aku antar kau pulang, karena besok masih sekolah” mala mini aku antar
eunbi pulang, selama di perjalanan aku mencoba menghibur eunbi kembali. Kami
berdua pun bercanda tawa sampai di rumah eunbi
“terimakasih
ya untuk pengalaman yang paling berharga mala mini” eunbi
“pengalaman
apa?” tanya ku bingung
“kau
sudah mengajarkan ku bagaimana menjadi seorang kakak yang baik dan tulus serta
menjadi seseorang yang kuat” eunbi melambaikan tangan lalu masuk ke rumahnya
Pagi
pagi sekali bibi won sudah terdengar sibuk dan berteriak-teriak, saat aku
melihat jam di ponsel ini masih menujukkan pukul 4 pagi. Karena suara bibi won
yang terdengar berisik aku yang masih setengah sadar turun menuruni anak tangga
dan menghampiri bibi won. Aku melihat bibi won sudah menangis terduduk di ruang
tengah, menyadari akan hal itu aku langsung tersadar sepenuhnya
“bibi
won kenapa, ada apa ini, ibu ibu ibu” aku berteriak memanggil ibu tetapi tidak
ada jawaban dari ibu dan bibi terus menangis
“ibuuuu
dan taeheeee” isak bibi won
“ibu
dan taehee kenapa bi, ibu dan taehee kenapa bi” aku mengguncang guncang tubuh
bibi won yang masih diam terisak
“taehee
dan nyonya tidak ada tuu tu tuan” dengan penuh usaha bibi won memberitahu
semuanya walau dengan tangis
“mereka
kemana bi” perkataan bibi won membuat ku panik bukan kepalang, langsung aku
berlari ke kamar dan mengambil ponselku untuk menghubungi ibu. Tapi semua
hasilnya nihil, nomor ponsel ibu tidak aktif, aku lihat terakhir kali ibu
melihat ponsel adalah tadi malam. Semalam ibu lembur dan aku tidak sempat
bertemu ibu, aku harus membuang jauh-jauh fikiran ku tentang rencana ibu kabur
dengan taehee. Aku berusah tetap tenang walaupun bibi won terus menangis
“bibi
kita harus tenang, kita tunggu sampai jam 9 kalau mereka belum pulang aku akan
mencari mereka” setelah itu aku langsung memberi kabar kepada eunbi bahwa aku
tidak bisa masuk sekolah hari ini, aku belum cerita masalah ini pada eunbi
karena aku masih berharap ibu dan taehee hanya pergi sebentar
Jam
terus berlalu sudah jam 9:30 aku belum melihat ibu atau pun eunbi, ku coba
tanya kepada petugas keamanan komplek rumah ku yang semalam berjaga, mereka
bilang tidak melihat siapapun pergi keluar pada tengah malam. Aku tidak mungkin
memberitahukan semua ini pada ayah sekarang, bisa-bisa bibi won yang akan kena
marah ayah. Aku pun terus menelpon bibi jiyoon yang berada di busan, aku
khawatir ibu dan taehee pergi kesana
“hallo
bibi yoon, akhirnya kau mengangkat telpon ku” aku sedikit merasa lega ketika
mendengar telpon ku di angkat
“iya
maaf taehyung aku sedang menyiram tanaman, ada apa kau menelpon ku” sapa bibi
yoon dari sebrang telepon
“eummm
apa ibu ada di busan?” tanya ku canggung
“busan?,
memangnya ibu mu ingin kesini kenapa tidak bilang ya, biasanya dia selalu
bilang padaku jika ingin ke busan” bibi yoon
“eohhh
jadi ibu tidak ada di busan, hmm baiklah terimakasih ya bibi yoon” aku
“memangnya
kemana sebenarnya ibumu?” bibi yoon balik bertanya
“sudah
ya bibi yoon pulsa ku mau habis, tuut tuut tuut tuut” aku langsung menutup
telpon agar bibi yoon tidak bertanya lebih lanjut tentang ibu
Sore
ini ayah pulang aku sangat bingung harus berkata apa pada ayah jika dia tau ibu
dan taehee pergi dari rumah. Usaha ku untuk terus mencari ibu tidak berhenti
sampai di telpon bibi yoon. Aku juga terus menghubungi semua teman-teman ibu
yang aku punya, semua orang aku tanyakan. Tetapi tidak ada satupun yang tahu
tentang keberadaan ibu. Entahlah ibu sengaja merencanakan ini semua dengan
sangat matang sehingga semua temannya menyembunyikannya atau memang ini murni
rencana ibu yang sama sekali tidak ada orang yang tahu
Tanpa
terasa tiba-tiba aku mendengar suara mobil dari luar rumah, aku rasa itu ayah.
Dan ternyata dugaan ku benar, ayah pulang ke rumah dengan banyak sekali
oleh-oleh karena dia janji akan membelikan aku dan ibu banyak barang di sana
“taehyunggggg
ayah pulang” ayah meneriakkan suara ku
“hai
ayah apa kabar” ucapku canggung
“ayah
sangat baik, harusnya ayah yang bertanya pada anak laki-laki ayah, bagaimana
sekolahmu selama ayah tidak ada” ayah duduk di kursi ruang tamu
“sekolah
ku baik yah” wajahku pucat pasi karena sangat takut mendengar ayah menyanyakan
ibu
“oiya
kenapa ponsel ibu tidak aktif ya, ayah coba hubungi dari semalam tetapi tidak
bisa” pertanyaan yang mampu membuatku terdiam seketika
“eeuummmm
maaf ayah” aku menunduk kan kepalaku
“maaf
kenapa?” tanya nya
“dari
semalam ibu dan taehee tidak ada di rumah, aku sudah menelpon bibi yoon dan
juga rekan kerja ibu tetapi tidak ada satupun yang tahu dimana ibu” aku masih
tidak bernani menatap ayah
“apaaaaa
kenapa kau dan yang lain bisa sampai tidak tahu kalau mereka keluar
malam-malam, panggil petugas keamanan sekarang” ayah yang mulai naik pitam pun
berhasil membuat aku dan bibi won tersentak
“aku
juga sudah menanyakan petugas keamanan tetapi mereka juga tidfka tau yah” tubuh
ku gemetar mendengar ayah berbicara dengan nada seperti itu
“okee
baiklah, maaf kan ayah ya tehyung ayah sudah memaki mu barusan, ayah ingin ke
kamar dulu sebentar” ayah pun pergi ke kamar dan membuatku bernafas sedikit
lega
Sudah
2 hari aku dan ayah belum menemukan taehee dan ibu. Sama sekali ibu tidak bisa
dihubungi, ponselnya mati total atau mungkin ibu sengaja membeli nomor baru
agar kami semua tidak bisa mencarinya. Ini sudah 1X24 jam seharusnya kami sudah
bisa melaporkan hilangnya ibu ke polisi, tetapi ayah menolak dengan keras. Aku
tau kenapa ayah tidak ingin kasus kehilangan ibu di laporkan ke polisi. Karena ayah
takut di penjarakan akibat kelakuannya selama ini pada taehee. Sebenarnya tidak
ada jalan lain, aku, ayah dan juga bibi won masih terus menunggu sambil
berharap ibu dan taehee akan kembali
Eunbi
terus menelpon dan mengirim pesan kepadaku, tapi aku belum sempat balas karena
masih sibuk mencari ibu dan taehee. Aku sudah tidak perduli dengan sekolah,
yang aku fikirkan hanya lah ibu dan taehee cepat pulang. Bukan hanya eunbi yang
terus menghubungi ku tetapi teman dan juga guru-guru terus mencoba menghubungi
ku.
Sore
ini di tengah-tengah keputus asaan ku dan ayah tiba-tiba ponsel ayah berdering,
tanda satu pesan masuk. Ayah langsung segera membuka pesan itu, dia fikir itu
pesan dari rekan kerjanya tetapi betapa terkejutnya ayah ketika melihat itu
adalah pesan ibu. Pesan yang sangat singkat namun mengejutkan
“jangan cari aku dan taehee, kita
bertemu di pengadilan hari senin kalau kau tidak datang akan ada polisi yang
menjemput”
Wajah
ayah langsung berubah pucat pasi dan keringat dingin mulai membasahi wajahnya.
Ayah tidak pernah menyangka sama sekali jika ibu yang sudah puluhan tahun hidup
bersamanya dengan mengikuti semua aturan ayah bisa berbuat seperti ini. Aku pun
sama sekali tidak pernah menyangka kalau ibu akan kabur dan melaporkan semua
ini pada polisi. Aku masih tidak tahu ada apa sebenarnya dengan ayah dan ibu.
Mereka hampir tidak pernah bertengkar, aku selalu melihat ibu menuruti semua
perkataan ayah. Tidak pernah sekalipun ibu membantah perintah ayah, ayah pun
sama sekali tidak pernah membentak ibu
Mungkin
dengan ibu mengatakan yang sejujurnya semuanya akan terbongkar dan aku akan
tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Setelah pesan itu di terima nomor
ponsel ibu kembali tidak aktif. Sepertinya semua ini sudah terencana dengan
sangat matang, ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang baik dan juga
penurut tetapi kelakuannya saat ini benar-benar di luar nalar dan dugaan ku.
Sepanjang hari aku hanya melihat bibi won yang terus menangis sambil memeluk foto
taehee bersamanya. Bibi won sangat dekat dengan taehee bahkan dulu ketika
taehee lahir dan ayah tidak menyukai taehee, bibi won mau mengadopsi taehee.
Tetapi ibu menolak dan tetap ingin merawat taehee
Senin
ini aku kembali tidak masuk sekolah, aku harus ikut ke pengadilan, aku rasa ini
momen cukup penting. Tidak lupa sebelum berangkat aku menelpon eunbi dan
meminta doa kepada eunbi agar semuanya berjalan dengan lancar. Rasa takut yang
menyelimuti diriku semakin bertambah ketika aku mulai memasuki ruang
persidangan. Disana sudah ada ibu dengan wajah yang terlihat sangat membenci
ayah. Wajahnya sangat sinis, matanya menatap ayah tajam saat ayah mulai duduk
di kursi tepat depan hakim. Di samping ibu juga ada taehee yang terus di peluk
ibu. Ibu sama sekali tidak melihat atau mengur ku, dia seperti lupa dengan
diriku
Persidangan
di mulai, hakim mulai menceritakan semua kelakuan buruk ayah. setelah itu ayah
di tanya beberapa pertanyaan oleh hakim. Belum sempat menjawab ayah berdiri dan
mengeluarkan sesuatu dari kantung celana yang ia kenakan. Ayah mengeluarka
senapa revolver kecil yang sudah siap untuk di tembak. Drama apa lagi ini apa
ayah akan membunuh taehee, semua orang yang ada di dalam ruangan pun terkejut.
Mereka semua panik tetapi tidak ada satu orang pun yang bergeming.
Ku
lihat wajah ibu masih sangat tenang karena jika ibu panik maka taehee juga akan
panik dan bisa histeris. Saat pandanganku masih terfokus kepada ibu dan taehee
tiba-tiba suara “duuarrrr”, senapan revolver itu tepat menembus kepala ayah. Selang
5 detik setelah peluru itu tembus tubuh ayah langsung tesungkur ke bawah. Semua
orang menghampiri ayah yang sudah berlumuran darah. Aku hanya terdiam sambil
menatap kosong. Ku tampar pipi ku untuk meyakinkan bahwa ini hanya lah mimpi.
Tapi tidak ini semua nyata, aku melihatnya tepat di depan mata ku.
Ayah
iya ayah tega melakukan bunuh diri di depan aku, taehee dan ibu. Ku lihat
taehee yang terus menangis dan masih dalam pelukan ibu. Belum sempat mendapat
jawaban dari ayah semuanya sudah menghilang. Beberapa orang terlihat menggotong
tubuh ayah menuju ambulance yang ada. Aku ikut masuk ke dalam tetapi tidak
dengan ibu. Sesampainya di rumah sakit dokter sudah menyatakan bahwa ayah
meninggal saat di perjalanan.
Hidupku
sekarang hancur bahkan ku rasa akan sulit untuk mengembalikannya ke seperti
semua. Sekarang aku bukan lah taehyung yang orang lain kenal, aku sudah tidak
memiliki semangat untuk hidup. Kalau bukan karena taehee mungkin aku sudah
menyayat lengan kiri ku. Aku coba menelpon ibu untuk memberitahu tentang
kondisi ayah. ibu hanya menjawab
“semuanya
sudah terjawab, aku merasa lega”
Entah
apa maksud dari jawaban ibu saat itu. Malam itu ayah langsung di makam kan, ibu
dan taehee datang tetapi ibu sama sekali tidak menunjukkan rasa sedih. Aku
harus tahu apa yang sebenarnya terjadi kenapa aku merasa antara ibu dan ayah
sama seperti dua orang psikopat yang sedang menjalankan misi masing-masing
Setelah
kematian ayah yang mengenaskan aku tinggal bersama ibu, taehee dan juga bibi
won. Bibi won memaksa ikut dengan kami karena dia begitu menyayangi taehee,
akhirnya ibu mengizinkan bibi won tinggal dengan kami. Semua kehidupan ku
berubah, kini aku bukan taehyung yang bisa membeli segalanya dengan mudah. Ibu
hanya bekerja sendiri, rasanya sangat timpang. Bibi won sudah tidak lagi digaji
oleh ibu. Saat ini bibi won layaknya nenek bagi aku dan taehee. Aku tidak lagi
tinggal di rumah mewah ku yang dulu.
Kami
ber empat tinggal di rumah kontrakan kecil yang berisi 2 kamar. Aku tidur
sendiri sedang ibu taehee dan bibi won satu kamar. Mobil ku yang dulu aku
gunakan setiap hari juga sudah di jual. Kami memulai semuanya dari awal , ibu
sudah tidak lagi bekerja di tempat yang lama. Kini ibu bekerja sebagai pelayan
restoran di daerah seoul. Setelah eunbi mengetahui semuanya eunbi terus
mendukungku. Bahkan dia satu-satunya orang yang tidak menjauhi ku, disaat semua
orang perlahan mulai menatapku aneh dan ketakutan. Justru eunbi malah selalu
ingin dekat dengan ku. Aku bersyukur bisa mengenal eunbi sampai sejauh ini, aku
tidak mungkin berhenti sekolah hanya karena masalah keluarga ku yang sudah di
ketahui seluruh orang di korea
“taehyung
kau harus semangat jangan biarkan masalah ini menjadi benalu bagimu, lawan dia
anggap tuhan lebih besar dari semua masalah mu” eunbi
“iya
eunbi cerewet” aku mencubit hidung eunbi yang berakhir saling balas
Saat
yang di tunggu tiba yaitu pengumuman kelulusan sekolah. Aku sudah berusaha
semaksimal mungkin agar bisa menjadi kebanggaan ibu. Kalau masalah eunbi tidak
usah di tanya pasti dia masuk peringkat 3 besar nilai tertingggi di sekolah.
Semua murid berebutan untuk melihat nama mereka di mading sekolah. Tak
terkecuali aku dan eunbi, karena tubuh eunbi yang pendek akupun menggendong
eunbi dari belakang
“yaaakk
taehyung turunkan aku” eunbi menepuk tangan ku yang sudah melingkar di pinggang
nya
“sudah
terlihat belum, jangan lihat nama mu tapi lihat namaku ada tidak” aku masih
menggendong eunbi yang menimbulkan perhatian dari orang lain
“taehyung
turunkan aku, ini sudah sepi dan kita bisa maju kedepan” eunbi masih terus
memukul tanganku, tetapi aku malah semakin senang melihat dia marah padaku
“iya
iya” akupun menurunkan tubuh eunbi, wajahnya masih saja cemberut padahal aku
hanya berniat baik
Eunbi
mejadi salah satu siswa lulusan terbaik. Peringkatnya berada di urutan nomor
dua. Sedangkan aku berada di peringkat 5. Aku merasa cukup senang karena
setidakya dengan kejadian itu tidak mempengaruhi nilai ku di sekolah. Karena
eunbi adalah siswi yang pintar. Eunbi mendapatkan beasiswa dari kemenangan
tournament voly nya. Dia mendapat beasiswa di salah satu kampus swasta di
swedia. Eunbi masuk tanpa tes, dia memakai jalur undangan. Sebenarnya aku juga
ingin seperti eunbi bisa berskolah di luar negri, karena dulu aku dan eunbi pernah
berjanji akan bisa masuk universitas luar negri bersama dan mendapat beasiswa .
“selamat
ya kau berhasil mewujudkan salah satu mimpi mu” ucapku lirih, karena aku sedih
akan kehilangan seseorang yang benar-benar berarti untuk ku
“besok
pendaftaran beasiswa di finlandia kau ikut ya, aku yakin kau pasti bisa” eunbi
sangat semangat
“aku
sudah tidak ingin lagi mendaftar beasiswa, sepertinya setelah lulu SMA aku
ingin bekerja membantu ibu” aku
“tidak
tidak kau harus tetap kuliah, aku yakin ibu juga tidak akan setuju” eunbi
menggelengkan kepalanya
“tapi
eunbi kau tau kan kondisi keuangan keluarga ku saat ini bagaimana, ibu hanya
sebagai pelayan resotan yang penghasilannya tidak seberapa” aku sedih jika
mengingat kondisi ku saat ini
Pulang
dari sekolah aku melihat ibu sudah di rumah. Ada taehee sedang bermain boneka
nya sendiri, dan bibi won sedang mencuci baju di halaman belakang
“ibu
sudah pulang” tanyaku sambil melepas sepatu
“iya
tadi pagi kan ibu masuk jam 6, kau belum bangun jadi sekarang sudah pulang,
oiya bagaimana hasil pengumuman kau lulus kan?” ibu bertanya sambil melipat
baju yang sudah kering
“aku
lulus bu peringkat ke 5” senyum ku
“bagaimana
dengan eunbi, pasti dia menjadi lulusan terbaik ya” ibu sangat antusias saat
bertanya tentang eunbi
“iya
eunbi menjadi siswi lulusan terbaik dia peringkat 2” ucapku kaku
“kau
sekarang sudah besar, usia mu sudah 17 tahun, sudah seharusnya kau mengetahui
semuanya. Pertama-tama maafkan ibu ya, selama ini belum menjadi ibu yang baik
untuk mu, maaf karena ibu kau jadi harus kehilangan ayahmu. Tapi sebagai anak
laki-laki nomor satu kau harus tau yang sebenarnya” ibu menghentikan
aktifitasnya dan berbicara serius padaku
“maksud
ibu apa?” aku bingung dengan ucapan ibu barusan
“ibu
akan menceritakan alasan kenapa ayah sangat membenci taehee. Dulu ketika ibu
hamil taehee, ada sesorang yang tidak suka dengan hubungan rumah tangga kami.
Ibu di fitnah olehnya, seseorang itu merekayasa foto sehingga ibu terlihat
sedang tidur dengan laki-laki lain. Dan foto itu sampai ke tangan ayah mu,
tidak ada lagi pengertian dari ayahmu, ibu sama sekali tidak bisa menjelaskan
apapun. Tadinya ayah menyuruh ibu untuk menggugurkan taehee tetapi ibu menolak
karena ibu tau taehee adalah anak ayah” sambil bercerita ibu mengeluarkan air
matanya
“apa
setelah kelahiran taehee tidak bisa kalian melakukan tes DNA, saat itu aku
masih kecil bu aku tidak mungkin tau dengan hal seperti itu” aku mulai
mengikuti emo-ku
“jangan
kan untuk melakukan tes DNA, untuk mendengarkan cerita ibu saja ayah tidak mau.
Saat itu ibu sudah ingin pisah dengan ayah, tetapi ayah mengancam jika ibu
nekat berpisah dengan ayah, maka seluruh keluarga ibu akan di terror saat itu.
Akhirnya ibu memutuskan untuk tidak berpisah dengan kesepkatan ibu tidak akan
menggugurkan taehee” tangisan ibu semakin dalam, aku juga ikut sedih melihat
ibu
“aku
sayang ibu” aku sontak memeluk ibu
“sekarang
kau sudah tau tentang semuanya, ayah membenci taehee karena dia menganggap
taehee bukan anaknya. Ayah sangat menyayangi mu dia tidak ingin kehilangan mu,
mangkanya dia tidak ingin berpisah dengan ibu karena dia takut hak asuh kau
jatuh ke tangan ibu” ibu mengelus kepalaku
“maaf
kan taehyung juga ya bu kalau selama ini taehyung selalu berburuk sangka pada
ayah dan ibu” aku
Sore
ini eunbi mengajak ku bertemu di sevel tempat biasa kami menghabiskan waktu
bersama. Kami janjian pukul 4 sore, karena setelah pengumuman kelulusan semua
murid belum meiliki kegiatan sampai tes ujian masuk universitas berlangsung
“aku
datang duluan berarti kau yang traktir aku ya” ketika melihat eunbi datang aku
langsung mengajaknya masuk. Mengambil beberapa snack beserta mie ramyeon
kesukaan ku
“iya
tapi tidak lebih dari 5000 won ya” eunbi
“siap
ratu laksanakan, kau ingin makan apa” tanyaku
“seperti
biasa, aku tunggu disana ya” eunbi berlari ke dua kursi yang masih kosong
sedang aku membayar belanjaan kami di kasir
“ada
apa kau mengajak ku kemari, kau rindu yaaa padaku” ku goda eunbi dan berhasil
membuat pipinya memerah
“aiisshhh
kau ini apa-apaan sih, bukan itu, aku kesini ingin memberitahu mu tentang ini”
eunbi menyodorkan ponselnya. Aku melihat bahwa namaku sudah menjadi salah satu
pendaftar beasiswa ke finlandia
“kau
mendaftarkan aku” aku terbelalak kaget melihat eunbi sudah mendaftarkan namaku
sebagai salah satu pendaftar beasiswa tersebut
“
minggu depan kau akan tes ujian online jangan sampe tidak ya, nanti uang ku
akan sia-sia” eunbi kembali memakan hot ramyeon nya
Aku
tidak ingin mengecewakan eunbi maka dari itu aku mencoba ikut seleksi ujian online.
Aku pergi ke sebuah rental computer, sebenarnya aku harap-harap cemas aku juga
tidak tahu jika aku masuk apakah ibu bisa membiayayai kuliah ku atau tidak.
Dengan penuh keyakinan aku berusaha mengerjakan semua soal yang di berikan.
Tidak berbeda jauh dengan soal ujian akhir sekolah, jadi aku merasa sedikit
lega. Yang berbeda hanya semua semua soal disini menggunakan Bahasa inggris.
Hasil ujian online di dapat cukup cepat hanya 2 minggu setelah latihan, mungkin
karena pesertanya juga tidak terlalu banyak
2
minggu berlalu eunbi dengan antusias datang kerumah ku dan ingin melihat
hasilnya langsung bersamaku. Untuk membuka pengumuman aku cukup log in lewat
ponsel saja. Eunbi bilang mau main bersamaku nyata nya dia malah asyik main
dengan taehee. Rasa takut dan juga penasaran mengalir di seluruh tubuhku. Jika
aku terpilih mungkin aku akan mempertimbangkan berkali-kali lagi. Aku pun masuk
ke laman di mana terdapat nama peserta yang lolos beasiswa ke finlandia. Aku
mulai telusuri mulai dari urutan nomor satu, satu persatu aku lewati sampai
pada nomor 55 dan yaappp tepat diurutan nomor 55 terdapat nama “Kim Taehyung”.
“bagaimana
kau lolos kan, aku yakin kau pasti lolos” eunbi menghampiriku dengan
tergesa-gesa
“ini
lihat” aku hanya menunjukkan ponselku
“sudah
kuduga selamat ya” eunbi memeluk ku bahagia sedangkan aku masih bingung apakah
ingin lanjut atau tidak
Setelah
diskusi cukup panjang dengan ibu aku putus kan untuk tidak berangkat karena
untuk modal awal aku kuliah disana saja sudah cukup besar. Ibu tidak memiliki cukup
uang untuk membiayayai hidupku selama berkuliah disana. Aku tidak ingin
menyusahkan ibu, lebih baik aku bekerja sambil kuliah di korea. Ketika eunbi
tahu bahwa aku melepaskan beasiswa itu dia sangat sedih dan menyayangkan hal
itu. Tapi aku tidak lagi memikirkan hal itu, yang penting aku, ibu, taehee dan
bibi won bisa hidup cukup
Hari
ini eunbi berangkat ke swedia untuk melanjutkan kuliahnya disana. Rasanya berat
harus berpisah dengan wanita yang paling berpengaruh dalam hidupku setelah ibu
selama 4 tahun. Ya walaupun setidaknya satu tahun sekali eunbi akan pulang ke
korea rasanya berpisah dengannya sangat sulit. Aya, ibu dan nenek eunbi ikut
mengantarnya ke bandara bersamaku. Ibu eunbi terlihat sangat sedih karena harus
melepas putri semata wayang nya pergi merantau sendirian. Di negri dimana tidak
ada satupun keluarga disana. Tetapi aku yakin eunbi bisa menjaga dirinya
disana.
Aku
berdoa supaya dia bisa cepat menyelesaikan kuliahnya disana dan kembali lagi ke
korea. Sulit rasanya kini setiap bangun pagi tidak ada lagi orang pertama yang
mengisi ruang chat di ponselku. Tidak ada lagi wanita cerewet yang selalu
menasehatiku di saat aku salah, hariku terasa sepi tanpa eunbi. Sudah 3 tahun
ini aku selalu bersama eunbi, kemanapun aku pergi eunbi selalu menemaniku.
Setidaknya satu tahun lagi aku akn bertemu eunbi. Kini aku hidup dalam keadaan
tenang, aku bisa terus berkomunikasi dengan taehee mengajaknya bermain. Ibu
bekerja pagi malam demi memenuhi kebutuhan kami. Bibi won mengurus semua
pekerjaan rumah, dan aku bekerja sambil kuliah di korea
Taehyung : aku benci rindu, setiap kali bangun pagi kau sedang tidur
Eunbi :
aku juga benci kau, setiap kali aku bangun kau pasti sedang bekerja
-
The
End -
No comments:
Post a Comment