Thursday, 11 October 2018


BUTTERFLY


            Hai namaku Ahn Yujin aku siswa SMA kelas 11. Aku bukan siswa yang cantic apalagi berprestasi. Aku hanyalah siswa biasa yang sering sekali tidak masuk karena sakit-sakitan. Walaupun aku seperti ini tetapi aku masih memiliki banyak teman. Di sekolah aku selalu ceria walaupun di rumah aku tidak seceria di sekolah. Ketika aku dirumah aku akan berubah 360 derajat dengan keadaan saat aku disekolah. Keadaan keluarga ku berubah total semenjak ayah mengidap penyakit kanker. Sejak ayah sakit ayah tidak lagi bekerja, kami hanya mengandalkan kakak perempuanku yang bekerja hanya sebagai pelayan restoran. Aku masih sekolah dan membutuhkan biaya besar

            Keadaan ekonomi yang membuat keluarga ku berubah, walaupun ayah sedang sakit tapi setiap hari ayah selalu bisa bercanda denganku. Jujur semenjak ayah sakit aku jarang masuk sekolah, aku hanya ingin menemani ayah setiap hari. Aku ingin menikmati hari-hari bersama ayah. Aku tidak perduli guru sekolahku memarahi ku karena aku jarang masuk sekolah aku rasa tidak ada yang lebih berharga di banding waktu bersama ayah.

            Ketika pertama kali aku mendengar bahwa ayah di vonis kanker hidupku serasa hancur. Aku merasa dunia serasa berhenti. Sekolah bukan lagi menjadi tempat yang menyenangkan untukku. Setiap kali aku masuk sekolah aku selalu merasa gelisah, aku selalu muntah-muntah. Aku merasa sekolah seperti neraka untuk ku. Baru sehari masuk sekolah setelah vonis ayah aku langsung merasa demam badan ku panas dingin, aku menggigil, aku muntah padahal aku tidak makan apapun. Setelah kejadian itu aku tidak mauk sekolah selam 3 hari.

            Semua teman-temanku bertanya kenapa aku jadi seperti ini. Aku jarang masuk sekolah bukan karena ingin menemani ayah karena tubuhku yang menolak jika aku ke sekolah. Aku jarang masuk sekolah bukan lagi karena ingin menemani ayah karena tubuhku yang menolak jika aku ke sekolah. Menurutku ini aneh aku tersiksa tapi ini bukan lah penyakit aneh. Saat aku pergi ke dokter untuk periksa, dokter bilang aku hanya terlalu banyak fikiran sehingga tubuhku mengalami reaksi seperti ini. Ini bukan pertama kalinya tapi sudah beberapa kali.

            Dalam satu bulan aku bisa tidak masuk sekolah hampir 2 minggu bisa jadi karena aku sakit ataupun sekedar untuk menemani ayah di rumah dan check-up ke dokter. Semua guru bahkan kepala sekolah tahu tentang kondisi keluarga ku saat ini. Tapi kakak ku pernah di panggil kepala sekolah karena kelakuanku. Perlahan aku mulai bisa masuk sekolah dengan normal. Sejak sakit aku jadi jarang makan, tapi aku memiliki seorang teman yang sangat baik nama nya joo yuri. Hampir setiap hari dia selalu membawa 2 kotak makan untuk ku dan untuknya. Dia adalah orang yang paling mengerti kondisi aku saat ini. Tidak pernah sekalipun yuri mengeluh karena dia selalu membawakan makanan untuk ku

            Tidak ada teman lain selain yuri yang tau dan paham betul tentang kondisi keluarga ku. Semua teman-teman ku menganggap kondisi keluarga ku baik-baik saja. Karena aku selalu menjadi happy virus di sekolah aku selalu bisa membuat teman-teman ku tertawa. Yujin di sekolah tidak lah sama seperti yujin di rumah.

            Hari ini aku rasanya malas sekali ke sekolah, bukan karena aku takut sakit tetapi perasaan ku tidak enak dan ters-terusan cemas. Sebelum berangkat ke sekolah seperti biasa aku pamit dengan ayah dan ibu. Kanker ayah semakin parah malah kankernya sudah menyebar ke mata sehingga menyebabkan ayah buta. Meskipun ayah tidak bisa lagi melihat wajahku, ayah selalu memberikan energy positif terhadapku
            “yujin hati-hati ya, ingat kau harus rajin belajarnya agar kau bisa melanjutkan kuliah dengan beasiswa” ucap ayah sambil mengelus kepalaku, setiap kali ayah berbicara seperti rasanya seperti hatiku tersyat, aku yang selama ini selalu cuek dengan sekolah merasa menjadi anak yang paling bodoh. Padahal dengan aku menjadi anak pintar itu sudah cukup membanggakan ayah
            “iya ayah aku berangkat ya ayah, ibu” aku mencium kedua orang tua ku, sunguh aku sangat sayang pada mereka

            Di sekolah seperti biasa aku datang dengan wajah yang ceria dan salalu berkumpul dengan teman-teman sekelasku. Kami mengobrol tentang pelajaran, apapun yang sedang tren, bahakn kita suka membicarakan guru yang menyebalkan di saat seperti ini. Aku sama sekali tidak ada beban selama di sekolah terutama setelah aku sembuh dari penyakit aneh itu. Aku seperti merasa punya dua kehidupan yang nyaris berbeda, dan di otak ku ada dua kubu yang bisa aku kendalikan ketika aku sekolah dan ketika aku dirumah.

            Malam ini aku ingin sekali tidur bersama ayah, aku ingin bercerita tentang kegiatan ku di sekolah selama ini. Semenjak ayah tidak bisa melihat ayah tidak tahu kegiatan apa saja yang aku lakukan. Sebenarnya aku sudah sering tidur bersama ayah dan ibu tapi kali ini entah rasanya aku ingin sekali tidur bersama ayah dan ibu
            “ibu malam ini aku tidur dengan kalian ya” aku yang sudah siap dengan perlengkapan tidur seperti  guling dan selimut
            “kenapa tumben sekali kau ingin tidur dengan ayah dan ibu” tanya ibu sambil merapihkan tempat tidur, sedangkan ayah masih duduk di meja rias ibu
            “tidak apa bu, kasihan gadis kecil kita masih ingin dimanja” ayah tertawa
            “iya lagi pula kan aku juga sering seperti ini bu” aku mengerucutkan bibirku
            “baiklah sebentar ya” ibu masih membereskan tempat tidur dan menata bantal serta guling untuk kami tidur bertiga

            Aku selalu merasa senang dan nyaman bila seperti ini, rasanya ingin sekali seperti ini setiap hari bahkan selamanya. Aku berharap ayah dan ibuku tidak akan pernah menua dan meninggalkan ku. Kakak ku jarang sekali bisa seperti ini, dia sibuk mencari uang demi kesembuhan ayah dan untuk kebutuhan sehari. Kalau kakak tidak seperti ini akan semakin banyak barang-barang ayah dan ibu yang di jual untuk pengobatan ayah

            “ayah aku ingin kita bisa seperti ini terus selamanya, bersama ayah, ibu dan yooju” posisiku berada di tengah antara ayah dan ibu
            “nanti kita bertemu di surga ya” ucap ayah
            “ayah kok bicara seperti itu sih, kita akan seperti ini selamanya” aku tidak ingin waktu mala mini berlalu dengan cepat
            “maksud ayah nanti kita juga akan bahagia di surga iya kan yah” timpal ibu
            “iya nanti kalian yang susul ayah, ayah ingin yujin jadi anak yang pintar dan tidak menyusahkan yooju, biarkan yooju bekerja untuk kebutuhan kalian, dan ibu aku titip yujin dan yooju ya rawat dan jaga mereka baik-baik” ayah tersenyum tipis
            “iya ayah semua akan baik-baik saja setelah ini” aku melihat wajah ibu yang sudah sedih dan matanya berkaca-kaca
            “ayah pasti akan sembuh, ayah harus yakin, karena aku yooju dan ibu selalu mendoakan dan berusaha untuk kesembuhan ayah” aku memeluk atyah dengan sangat erat, aku rasakan pelukan hangat ayah sambil menikmati aroma tubuhnya
           
            Malam itu terasa sangat hangat, dan waktu terasa sangat cepat. Aku seperti melihat ayah sedang berdiri di sebuah gerbang, aku mencoba untuk mendekati ayah tetapi aku tidak bisa menyusul ayah, aku bahkan sampai lari untuk sekedar menyusul ayah, tetapi kenapa aku tidak sampai juga padahal ayah hanya berjarak 50 meter dari posisiku saat ini. Aku tidak bisa melihat wajah ayah karena ayah membelakangi ku. Tak lama sinar matahari meyorot kedua mataku. Dan ketika aku membuka mata ternyata semua itu hanya lah mimpi.

            Aku harap mimpi semalam bukan lah pertanda yang buruk. Seperti biasa aku berangkat ke sekolah menggunakan subway. Transportasi yang paling terjangkau di kantong ku. Aku berangkat ke sekolah dengan headset yang terpasang di telingaku sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaan aku dan ayah. Begitu masuk gerbang sekolah aku yang sedang tidak focus hampir di tabrak oleh lelaki yang paling aneh di sekolah
            “yakkkkkk kau tidak lihat kah ada orang” aku yang kesal karena hampir tertabrak, karena tidak mungkin masih pagi begini aku sudah dapat kejadian buruk
            “maaf” ucapnya membuka kaca helm nya dan langsung bergegas pergi

            Sepulang sekolah aku buru-buru datang ke kamar ayah. Baru juga masuk pintu rumah ibu dan yooju sudah ada di kamar aya sambil menangis, aku yang baru datang langsung panic melihat mereka. Aku melihat ayah sedang tertidur di ranjang lengkap dengan selimut dan syal di lehernya. Aku berusaha unutk membuang fikiran buruk tentang kepergian ayah. Ku lepas tas ku dan langsung aku menghampiri ayah sambil memeluknya dalam tangis
            “kita harus iklhas ya” ucap ibu sambil menangisi ayah
            “yujin kau harus merelakan ayah ya” yooju mengelus kepalaku yang masih memeluk ayah
            “tidak ayah masih hidup ayah tidak akan pergi meninggalkan ku” tangisanku semakin pecah ketika mendengar kata kata-kata ibu dan yooju
            “tadi pagi ayah pingsan dan tidak ada yang tahu, aku ingin membawa ayah ke rumah sakit tetapi aku tidak punya uang” yooju, aku pun langsung pergi ke kamar ku dan mengambil tabungan yang aku punya. Selama ini sejak ayah sakit uang jajan yang yooju berikan tidak pernah aku pakai kecuali untuk naik subway. Semua uang itu aku tabung untuk keadaan mendesak seperti ini
            “pakai uang ini ka, ayo kita kerumah sakit sekarang” aku memberikan beberapa uang lembar yang sekiranya cukup untuk membawa ayah ke dokter

            Akhirnya kami putuskan untuk pergi ke rumah sakit demi kesembuhan ayah. Dokter bilang kanker ayah semakin parah dan sudah menyebar ke seluruh tubuh. Kondisi jantung ayah juga sangat lemah. Kemungkinan ayah untuk bertahan sangat sedikit, selama berada di rumah sakit hanya tangisan ibu dan yooju yang aku dengar. Tak luput aku terus berucap doa demi kesembuhan ayah. Aku selalu berfikiran positif di saat seperti ini. Besok paginya ayah di perbolehkan pulang, karena malam harinya ayah sudah sadar. Syukur uang tabungan ku cukup untuk membayar biaya rumah sakit selama satu malam

            Pagi ini aku tetap pergi ke sekolah karena aku ingat pesan-pesan ayah agar aku bisa menjadi anak yang pintar di sekolah. Aku tidak pernah mau lagi untuk bolos sekolah, jika aku bolos sekolah sama aja aku tidak sayang pada ayah. Seharian di sekolah aku seperti biasa tidak ada tanda-tanda bahwa aku sedang memiliki masalah. Aku tetap menjadi yujin yang sangat ceria, bahkan yuri tidak tahu kalau kondisi ayah saat ini sedang drop

            Sepulang sekolah di rumah tidak ada orang, tak lama sepupu ku datang dan memberi tahu kalau ibu dan yooju sedang ada di rumah sakit. Sepupu ku tidak memberitahu kalau kondisi ayah semakin melemah siang tadi, dia melarang ku untuk menyusul ke rumah sakit padahal aku ingi bertemu ayah saat itu. Aku hanya bisa menangis di ruang tamu sambil menunggu kabar dari yooju tentang kondisi ayah. Ku telpon yooju tapi nomor ponselnya tidak aktif, aku semakin khawatir dan cemas dengan keadaan mereka bertiga. Aku menangis di ruang tamu sampai tertidur, tiba-tiba dering ponsel ku membangunka ku dari tidur itu, ada telepon masuk dari nomor kantor
            “hallo” ucapku
            “yujin ini aku yooju, sekarang aku dan ibu di rumah sakit, maaf aku membuatmu khawatir karena aku terpaksa harus menjual ponselku untuk biaya ayah, kau jangan kemana-mana ya tunggu kami di rumah” belum sempat aku bicara yooju sudah menutup telponnya

            Hati ku semakin kacau sambil meunggu kehadiran mereka bertiga, aku hanya mondar-mandir di ruang tamu sambil terus berdoa dan berharap yang baik. Hampir satu jam aku menunggu mereka, aku ingat jam 5:30 aku mendengar suara ambulance aku harap ayah pulang dengan keadaan yang membaik. Mendengar suara ambulance yang semakin dekat rumahku aku pun keluar rumah dan melihat yooju dan ibu yang keluar dari mobil ambulance, tapi dimana ayah, kenapa ayah tidak ikut turun bersama ibu dan yooju. Tak lama beberpaa perawat membawa ayah keluar dari ambulance menggunakan peti mati.

            Aku yang melihat langsung mengahmpiri peti itu dan memastikan apakah yang di dalam itu adalah ayah atau bukan, ibu dan yooju hanya terus menangis dan mangabaikan pertanyaan ku tentang ayah. Aku sampai bingung harus bertanya pada siapa, selang 15 menit beberapa kerabat ibu dan sauda-saudara pun datang. Dan pada akhirnya yooju bilang kalau ayah sudah meninggalkan kami selamanya. Aku terdiam membeku aku sama sekali tidak bisa menangis saat ini. Rasanya air mata ini sudah membeku dan tidak bisa aku ungkapkan lagi. Hanya ada kata penyesalan dalam diriku, kenapa aku mengikuti kata sepupuku untuk tidak menyusul ke rumah sakit. Padahal itu adalah kesempatan terakhirku melihat ayah.

            Satu minggu berlalu semenjak kepergian ayah. Aku hanya tidak masuk sekolah selama 3 hari dengan surat keterangan kematian ayah. Teman-teman terdekatku datang ke pemakaman ayah, mereka juga memberikanku dukungan untuk tidak terlalu larut dalam kesedihanku
            “yujin ayo kita makan” ajak yuri yang seperti biasa membawakan ku bekal makan siang
            “Iya” jawabku
            “itu tanganmu kenapa” tanya yuri yang meilhat luka di tangan kiri ku
            “eohhh semalam aku sedang buat prakarya dan tidak sengaja tanganku kena cutter, ayo kita makan” aku mengalihkan pembicaraan dan langsung mengajak yuri makan
           
            Aku dan yuri biasa makan di taman sekolah karena di kantin biasnya sudh penuh dengah anak-anak yang membeli makanan di kantin. Ketika sedang makan sambil bersenda gurau aku merasa ada laki-laki yang memperhatikanku dari sebrang taman. Laki-laki yang biasa di pandang aneh oleh orang satu sekolah, yang waktu itu pernah hampir ingin menabrak ku. Aku tidak pernah berbicara atau bercanda denganya, walaupun kami satu angkatan aku sma seklai tidak mengenal dia, aku hanya tau namanya saja.

            Dia terus memperhatikanku dan sesekali membuang pandangannya jika aku memergoki dia sedang melihatku. Sampai akhirnya aku merasa rishi dan langsung mengajak yuri kembali ke kelas. di kelas ketika waktu istirahat masih ada aku biasa bercanda dengan teman sekelasku. Aku termasuk siswa yang popular karena aku gampang berteman dengan siapa saja. Tetapi dulu ketika aku sakit-sakitan dan jarang masuk sekolah mereka perlhan menjauhiku, tapi itu dulu sekarang mereka kembali lagi berteman denganku

            Di rumah setelah selesai sekolah aku langsung masuk ke kamar tanpa bicara apapun pada ibu. Jika di sekolah aku menjadi anak yang sangat ceria itu sangat bertolak belakang ketika aku berada di rumah. Di rumah aku menjadi anak yang introvert, hal itu di rasakan ibu dan yooju, aku berubah seperti ini setelah ayah meninggal. Aku merasa kecewa dengan ibu dan yooju yang selalu merahasiakan tentang kesehatan ayah. Itu mengapa aku sekarang jadi seperti ini. Aku jadi jarang sekali mengobrol dengan ibu bahkan bisa seharian penuh aku tidak bicara dengan ibu. Sepulang sekolah aku hanya berdiam diri di kamar sampai ke esok kan harinya.

            Aku melihat rumah seperti aku melihat neraka. Kondisi finansial yang sulit, ayah yang sudah pergi, yooju yang selalu pulang malam. Semuanya terasa hitam tidak ada lagi waran di rumah. Tak jarang aku sering melakukan self-harm pada diriku sendiri, ketika aku merasa depresi dan tertekan maka aku akan melukai diriku sendiri. Aku sering memukul kepalaku dengan hairspray sampai memar. Atau menyayat tanganku sampai berdarah, intinya aku sering sekali melukai diriku sendiri.

            Jika semalam aku melakukan self-harm maka paginya aku akan menggunakan blazer sekolah ku selama seharian. Aku tidak ingin ada orang lain yang tahu jika aku suka sekali self-harm. Yuri pun tidak tahu tentang kebiasaan buruk ku ini, aku harap hanya aku dan tuhan saja yang tahu. Semalam aku melakukannya lagi aku menyayat tangan kiri ku, ada beberapa luka goresan. Untuk mencegah hal buruk terjadi aku menempelkan plester luka sebanyak dua tumpuk di pergelangan urat nadi ku. Karena pada titik itu aku sering sekali menyayat nya. Terkadang jika aku ingin melakukan yang lebih buruk dari yang biasa aku lakukan aku selalu ingat senyuman ayah terakhir untukku

            Setiap hari rutinitasku hanyalah seperti itu. Pergi sekolah-pulang-dikamar seharian dan repeat. Aku merasa aku sakit jiwa aku seakan memiliki 2 kepribadian ganda tetapi aku mencoba untuk tidak mendiagnosa diriku sendiri. Keadaan semakin buruk ketika ibu sakit. Sudah beberapa hari ibu sakit. Yooju berusaha mengumpulkan uang untuk biaya berobat ibu. Sampai dia rela tidak jajan di luar demi ibu. Sebenarnya aku sedih dan aku merasa sama sekali tidak bersimpati kepada ibu. Tapi aku masih sakit hati dengan kejadian ayah
            Awal bulan ketika gaji yooju turun, yooju langsung membawa ibu ke rumah sakit, karena yooju merasa sakit ibu semakin parah. Dan sudah sampai ada benjolan sebesar kelengkeng di sekitar ketiak ibu. Aku tahu mereka ingin pergi ke rumah sakit, bahkan ibu pamit dan minta doa dariku agar diagnosis ibu tidak parah tapi aku pura-pura tidak mau tahu. Sepulangnya dari rumah sakit ibu terlihat tenang dan tidak menujukkan hal yang buruk terjadi, tapi yooju menghampiriku di kamar yang sedang bermain dengan cutter
            “yujinnn, apa yang kau lakukan” yooju menaikkan nada bicaranya saat melihat aku sedang memotong-motong kertas menggunakan cutter
            “aku hanya sedang memotong kertas” jawabku santai
            “syukurlah aku fikir kau melakukan hal yang aneh” yooju menghampiriku yang masih memotong kertas tanpa melihat ke arahnya
            “ada apa” ucapku melihat yooju
            “yujin kenapa semenjak kepergian ayah kau semakin menjauh dengan ku dan ibu?, apa kami ada salah padamu, kau tidak pernah berbicara dengan kami” tanya yooju, sebenarnya yooju adalah sosok kakak yang baik, dia selalu memikirkan ku dia benar-benar berjuang untuk keluarga semenjak ayah sakit
            “tidak apa” aku masih malas menjawb pertanyaan yooju mala mini
            “kau harus berubah yujin, ibu sakit kau harus berubah sayang pada ibu. Ibu butuh perhatian kita saat ini” aku melihat yooju yang memangis seperti ini mengingatkanku pada kejadian saat ayah meninggal
            “ibu sakit apa” tanyaku lemas setelah mendengar cerita yooju
            “ibu sakit kanker payudara stadium 3, aku akan berjuang mati-matian untuk kesembuhan ibu, dan aku minta tolong padamu untuk bisa memberikan perhatian lagi untuk ibu” yooju memohon padaku sambil berlutut di depanku. Aku tidak tega melihat yooju sampai seperti ini demi aku bisa menjadi yujin yang dulu
           
            Aku hanya terdiam sambil menangis, kenapa hidupku terus-terusan seperti ini. Kenapa aku tidak pernah bahagia. Hidupku rasanya sudah sangat pahit dan sengsara. Berkali-kali aku mencoba bersyukur dengan hidupku saat ini tetapi berkali-kali pula aku menolak fikiran positif itu. Entah bagaimana jika orang lain menjadi aku mungkin mereka tidak akan sanggup. Ayah sakit hingga membuat kondisi ekonomi kami memburuk bahakn yooju harus rela pulang malam setiap hari demi memnuhi kebutuhan kami, lalu ayah hanya bisa bertahan 2 tahun dan pergi meninggalkan kami selamanya. Sekarang ibu sedang berjuang melawan penyakit yang telah merebut ayah dari kami

            Sejak aku tahu kalau ibu sakit aku semakin kasar pada diriku bahkan hampir setiap malam aku melakukan self-harm. Jika dulu aku hanya sesekali melakukan self harm beda dengan sekarang yang hampir setiap malam aku melukai diriku sendiri. Aku tidak pernah melepas blazer ku selama di sekolah, aku juga tidak pernah lagi menguncir rambutku, karena itu semua untuk menutupi luka yang aku ciptakan sendiri. Aku tetaplah yujin yang sama jika di sekolah. Ternyata pandangan saat di taman tempo hari membuat lelaki it uterus memperhatikan gerak-gerikku.

            Aku sungguh tidak mengerti apa motivasi dia yang setiap hari memperhatikanku. Padahal untuk sekedar bertegur sapa saja aku tidak pernah. Aku hanya kenal dia anak IPA kelas 12B namnya Bae Jinyoung. Banyak anak-anak memanggilnya baejin aneh. Karena dia anaknya sangat introvert. Bahkan jika ada tugas kelompok baejin tidak mau mengerjakannya berkelompok dan memilih untuk mengerjakannya sendiri. Jarak kelas kami hanya bersebelahan tapi jujur aku jarang sekali melihat dia keluar pada saat istirahat. Tampilan dia seperti L dalam film death note.

            Setiap hari baejin selalu menggunakan sweater berhoodie warna hitam dan memakai kupluk untuk menutupi wajahnya yang kecil. Tidak pernah aku melihat baejin mengobrol dengan orang lain. Dia benar-benar aneh dan sangat sangat introvert. Aku tidak pernah menyangka bahwa baejin akan diam-diam memperhatikanku. Dimanapun aku berada selalu ada baejin yang sedang melihat ke arah ku. Sampai pada akhirnya aku berpapasan dengan baejin di lorong belakang sekolah
            “yujin” baejin menarik tanganku yang berpapasan langsung dengannya
            “aawwwwww” aku teriak karena baejin menarik tanganku yang luka akibat aku sayat semalam
            “kau melakukan nya lagi eohhh” tanyanya datar
            “melakukan apa?” tanyaku bingung
            “ini apa” baejin menggulung blazerku dan dia dengan santai melihat banyaknya luka sayatan di tanagn kiri ku
            “kau ini apa-apaan sih” aku kesal dan merapihkan kembali blazerku
            “berhenti melukai dirimu sendiri, jika kau ada masalah ceritakan pada orang lain, jika kau bingung ingin cerita pada siapa datang lah padaku” ucap baejin lalu pergi meninggalkanku

            Aku bingung kenapa tiba-tiba baejin bisa melakukan itu padaku. Dan kenapa juga aku bisa berpapasana dengan baejin siang itu. Dari banyak jalan menuju perpustakaan kenapa aku harus melewati lorong belakang dan bertemu baejin. Dan kenapa juga baejin bisa tahu tentang penyakitku saat ini. Ini kali pertama aku berbicara dengan baejin. Selama satu tahun aku bersekolah disini baru kali ini aku berbicara dan mendengar suara baejin

            Keadaan semakin buruk ketika kanker ibu semakin parah. Ibu harus segera di operasi karena kankernya sudah menyebar keseluruh tubuhnya. Tapi yooju belum mempunyai uang, setiap malam aku selalu melihat yooju menangis di kamarnya sambil terus berdoa untuk kesembuhan ibu. Aku tidak membantu apa-apa, setiap kali ada masalah baru maka akan aada satu luka di tubuhku. Ibu dan yooju tidak pernah tahu tentang ini. Aku tidak ingin menambah beban mereka. Sesekali aku mencoba mencari tahu tentang kebiasaan buruk ku di internet.
            Aku merasa seperti aku memiliki depresi tetapi aku tidak mau jika benar aku mengidap depresi saat ini. Aku sama sekali tidak bisa mengontrol diriku ketika aku merasa tertekan atau ada masalah baru. Pasti dengan mudah aku akan melukai diriku sendiri. Semenjak ibu sakit aku tidak pernah lagi bercerita dengan teman-teman ku atau yuri. Aku tidak ingin mereka menjadi sedih dan menganggapku ini seperti orang yang sedang membutuhkan bantuan. Yujin di sekolah tetaplah yujin yang ceria. Mungkin hal ini menjadi salah satu factor aku jadi seperti ini. Tidak ada orang yang aku percaya untuk mendengarkanku bercerita.

            Sebenarnya aku sedikit memikirkan tentang perkataan baejin yang rela menjadi tempat curhatku. Tapi rasanya aneh jika aku tidak pernah kenal dia secara tiba-tiba bercerita tentang semua masalahku. Aku takut baejin memiliki niatan buruk padaku. Karena sebagian orang bukannya dengan tulus ingin membantuku tetapi mereka hanya penasaran dengan ceritaku.

            “yujin kau sudah pulang” ucap ibu dari ruang makan yang sedang menjahit
            “iya” jawabku lalu langsung pergi ke kamar. Sebenarnya aku ingin mengobrol dengan ibu seperti dulu tapi rasanya semua rasa itu tidak pernah muncul kembali. Ibu tidak pernah memberitahuku tentang penyakitnya, mungkin ibu tahu dengan kepergian ayah saja sudah membuatku seperti ini apalagi ditambah dengan keadaan ibu sekarang
           
            Dari pulang sekolah hingga malam, seperti biasa aku tetap di kamar, hari ini jadwal check-up ibu. Yooju izin pulang cepat agar bisa menemani ibu, selama ibu sakit aku tidak pernah menemani ibu sekalipun untuk check-up. Aku lebih memilih berdiam di kamar seharian di banding menemani ibu karena aku pasti tidak akan kuat menerima kenyataan bahwa hidupku akan benar-benar hancur sebentar lagi

            Sepulang dari check-up yooju masuk ke kamar ku yang sangat berantakan. Dan yooju memberitahu tentang keadaan terkini kondisi ibu
            “yujin mau sampai kapan kau seperti ini, kondisi ibu semakin memburuk. Biu selalu sedih setiap kali kau menghindar darinya, ibu memiliki 2 orang putri jadi ibu membutuhkan dukungan dari 2 orang putri nya. Jangan sampai kita kehilangan ibu, aku tahu kau sangat sayang pada ibu maka dari itu tolong tunjukkan rasa sayang itu pada ibu” yooju mengelus kepalaku
            “lebih baik kau keluar sekarang kaka, aku tidak ingin di ganggu” ucapku seraya menghempas tangan yooju dari kepalaku

            Yooju pun keluar dari kamar ku dan aku langsung menutup pintu kamarku dengan keras dan mengunci pintu. Ibu yang mendengar hentakan itu pun kaget. Saat ini aku benar benar tidak bisa lagi mengendalikan tubuh dan fikiranku. Aku ambil cutter dari meja belajarku, aku menangis histeris dan teriak. Aku benar-benar kacau saat itu, yang ada di fikiran ku saat itu adalah aku ingin memotong urat nadi di tangan kiri ku. Rasanya ingin ku copot plester luka yang menutupi nadi ku. Ku gores berkali kali tangan kiri ku sampai darah berceceran di lantai. Berkali-kali pula aku menangis teriak karena sakit

            Ibu yang mendengar suara tangisanku menghampiri ku dikamar, ibu mencoba membuka pintu kamar ku yang terkunci. Aku lihat gagang pintu ku yang terus bergerak pertanda orang dari luar yang ingin mencoba masuk
            “yujin-ahhhh buka pintunya nak” ibu terus mencoba membuka pintu kamarku yang terkunci
            “yujin buka pintunya sayang, ibu akan dobrak jika kau tidak mau buka ya” dengan kekuatan paruh ibu, ibu pun mendobrak pintu kamarku dan akhirnya terbuka. Ibu kaget bukan kepalang melihat aku yang sudah berantakan. Kamarku penuh dengan bercak darah yang mengalir dari tanganku. Ibu yang melihat kejadian itu langsung memeluk ku erat sambil menangis
            “yujin ibu mohon jangan lakukan itu, ibu dan yooju sangat sayang padamu nak” ibu tak henti-henti memeluk ku sambil menangis dan menghapus darah yang ada di tangan ku
            “aku ingin menyusul ayah bu” aku terus menangis di dalam pelukan ibu
            “tidak, kita akan disini, ayah sudah bahagia disana” ibu

            Pagi ini aku tidak masuk sekolah ibu membawaku ke rumah sakit untuk mengobati luka dan membawaku ke psikiater. Ibu merasa aku memiliki depresi sehingga ibu ingin aku di periksa oleh ahlinya. Setelah selesai mengobati luka di tangan aku, aku segera pindah ke ruang psikiater. Di dalam ruangan hanya ada aku dan seorang dokter cantic, sedangkan ibu diminta untuk menunggu di luar.
            “hai coba perkenalkan namamu” tanya dokter yang tepat berada di depan ku
            “namaku Ahn Yujin aku siswa SMA kelas 12” jawabku singkat sesuai permintaan dokter
            “lalu itu tanganmu kenapa?” tanya nya
            “aku melakukan self-harm” aku menunduk malu menjawab pertanyaan dokter barusan
            “coba tuliskan semua keluh kesah mu, semua yang kau rasakan di dalam buku ini. Anggap buku ini menjadi tempat curhat mu” dokter itu memberikan sebuah buku diary dan pulpen kepadaku. Aku mencoba menulis seuatu di buku tetapi tidak bisa yang ada aku hanya lah menggambar sesuatu yang kulihat saat itu dan sampai akhirnya aku menyerah
            “aku tidak bisa dok, ketika aku ada masalah aku hanya bisa melukai diriku sendiri, ini aku rasakan ketika aku memiliki masalah atau sedang merasakan tertekan” ucap ku
            “baiklah aku tidak memaksamu, aku akan memberikan diagnosis tentang kondisi mu saat ini dan aku akan buat kan resep obatuntuk bisa mengontrol dirimu sendiri” dokter menuliskan beberapa resep obat dan menuliskan diagnosis tentang diriku. Setelah menunggu sekitar 20 menit dokter bicara pada ibuku dan giliran ku menunggu di luar karena aku tidak suka dengan pemandangan di dalam
            “hallo ibu saya sudah membuat resep obat untuk yujin, sebenarnya ini adalah obat depresi jika yujin sedang merasa tertekan atau berada dalam situasi yang sulit yujin harus meminum obat ini, gunanya untuk mencegah dirinya melakukan self-harm lagi. Dan saat ini yujin sudah masuk dalam kategori depresi dan stereotypic self injury. Diamana ketika dia meras tertekan atau ada masalah dia akan otomatis melukai dirinya sendiri, Karena tidak ada orang lain yang bisa menajdi tempat dia bercerita. Yang dibutuhkan yujin saat ini adalah dukungan dan kasih sayang yang cukup dari orang terdekat” dokter memberikan surat diagnosa itu kepada ibu
            “baik terimakasih dok, jika yujin masih seperti ini terus saya akan kembali kesini” ucap ibu

            Mulai saat ini setiap kali aku merasa tertekan aku akan meminum obat anti depresi tetapi aku bosan karena setiap kali aku berada dirumah maka aku akan terus meminum obat itu. Yang ada aku akan mati overdosis karena terlalu banyak mengkonsumsi obat. Aku pun sedikit demi sedikit mulai melupakan obat tersebut dan menaruhnya di laci lemari baju ku yang paling dalam

            Ternyata setelah aku melepas obat itu, penyakit self injury yang aku derita kembali lagi. Setiap aku mendengar ibu merasa kesakitan aku akan otomatis menggoreskan cutter di tangan kiri ku. Ketika aku emndengar bahwa yooju mengalami kesulitan di pekerjaannya maka akan ada luka baru di bagian tubuh lainnya

            Kejadian seperti ini pun terus di perhatikan oleh baejin. Sampai akhirnya dia mengirimkan surat di meja ku untuk mengajaku bertemu dengan nya sepulang sekolah di pinggir sungai han. Karena aku penasaran dengan maksud dan tujuan baejin mengajak ku bertemu, aku pun menyusulnya kesana. Aku telat 15 menit dari waktu janjian. Tapi tak apalah toh ini bukan keinginann ku untuk bertemu dengannya
            “aku fikir kau tak datang” baejin membuka kupluk hoodie nya
            “ada apa kau mengajak ku kesini” tanya ku jutek
            “kau pasti masih melakukannya ya” ucap baejin yang sangat sangat dingin. Pantas saja tidak ada orang yang mau berteman dengannya
            “iya aku positif depresi, aku sudah pernah minum obat tetapi sekarang aku sudah melepaskannya. Aku takut mati konyol karena overdosis “ pandanganku kosong melihat tenang nya air danau yang mengalir
            “coba kau buka blazermu” Baejin
            “tidak mau” aku merekatkan blazer ku agar tidak di buka oleh baejin
            “pasti di tangan kiri mu banyak sekali luka, aku sudah pernah bilang padamu jika kau ada masalah ceritakan semuanya padaku, berhenti untuk menyakiti dirimu, kasihan kulitmu jadi rusak, lalu rambut mu jadi habis karena kau sering menjambaknya hingga rontok”baejin tersenyum padaku, baru kali ini aku melihat anak yang paling introvert bisa selembut ini padaku
            “kau adalah orang yang paling introvert di sekolah, bahkan banyak yang tidak ingin berteman dengan mu karena kau aneh. Tapi kenapa kau bisa memperhatikanku sampai seperti ini. Bahkan kau adalah orang yang tahu jika aku sering melakukan self-injury” akhirnya aku bisa mengobrol dengan baejin secara lepas
            “aku diam bukan berarti aku tidak perduli dengan keadaan sekitar. Aku tau kau suka sekali menyakiti dirimu sendiri, aku tahu yuri adalah anak yang kurang kasih sayang karena kedua orang tua nya bekerja, aku tahu chaewon yang pendiam karena orang tuanya yang kasar padanya, aku tahu semua tentang anak-anak di sekolah tetapi aku lebih memilih diam” tidak ku sangka baejin akan bercerita sepanjang ini dengan ku
            “kau tau itu semua, padahal kau tidak pernah berbicara dengan mereka sekali pun. Apa kau seorang cenayang?” tanya ku polos
            “bukan aku bukan cenayang tapi aku ini hantu hihihihi” baejin menakut-nakuti ku dan berakhir dengan senda gurau

            Aku menghabiskan sore ku bersama baejin di tepi sungai han. Aku sama sekali tidak melihat ponsel, sudah banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari ibu. Aku tahu ibu pasti khawatir padaku saat ini, terlebih ibu sudah tahu kondisi ku yang sebenarnya. Aku sedikit merasa lega ketika bercerita semuanya pada baejin. Ternyata dokter bilang benar jika salah satu obat untuk menyembuhkan sakit ku adalah dengan terbiasa terbuka dengan orang lain

            Baejin yang sudah tahu tentang hidupku mencoba untuk berusaha menyembuhkanku dengan berbagi cerita kepada yuri, chaewon dan beberapa teman kelasku
            “hai teman aku boleh bergabung” ucap baejin kaku yang menghampiri kerumunan teman-teman ku yang sedang istirahat latihan paduan suara
            “heiii anak aneh ingin apa kau kemari” ucap salah satu anak dari kerumunan itu
            “iya mau apa kau, bukannya kau bisa hidup tanpa teman-teman ya hahahaha” semua anak menertawakan baejin kecuali yuri dan chaewon
            “ada apa baejin kau kemari” tanya yuri
            “aku tau kalian semua teman baik nya yujin kan?, kalian sayang pada yujin?” baejin mencoba mengakrabkan diri dengan orang yang tidak pernah mengobrol dengannya
            “kita semua sayang pada yujin dia anak yang ceria, dia anak yang bisa membuat kami tertawa, tidak sepertimu yang aneh” cacian demi cacian terus menghampiri baejin
            “kalau kalian sayang pada yujin, tolong kita sama-sama bantu yujin, yujin sedang membutuhkan bantuan kita saat ini” baejin
            “bantuan apa? Selama ini yujin biasa saja dan tidak pernanh meminta apapun dari kami, iya kan” ucap juwon
            “jangan percaya kata anak aneh itu bisa saja dia bohong karena ingin menipu kita” semua anak tidak ada yang percaya dengan kata kata baejin, karena baejin di anggap aneh oleh mereka
            “aku serius yujin sedang sakit dia sering melukai dirinya sendiri, jika kalian tidak percaya buktikan sendiri, kalau kalian melihat ada luka di kanan kiri yujin berarti semua ucapan ku benar” ucap baejin lalu pergi meninggalkan mereka

            Chaewon dan yuri yang mendengar langsung bingung. Mereka antara percaya atau tidak dengan ucapan baejin. Karena chaewon dan yuri termasuk teman dekat yujin, mereka mumutuskan untuk segera mencari tahu tentang kebenaran ucapan baejin barusan. Yuri yang memiliki tubuh lebih kecil di banding aku, meminta tolong aku untuk mengambilkan buku di perpustakaan yang berada di paling atas rak. Ketika aku sedang mengambil buku, blazer aku sedikit turun ke bawah dan betapa terkejutnya yuri ketika melihat pembulu nadi ku yang di tutupi plester luka bertuliskan “Fvck” dan beberapa goresan luka juga menghiasi tangan ku

            “ini yuri” aku memberikan buku buku sains untuk yuri
            “eoohhh iya” yuri masih dengan ekspresi kagetnya menerima buku sambil terdiam
            “kau kenapa yuri” tanyaku bingung karena melihat yuri tiba-tiba terdiam
            “eeoohhhh yaaa, aku tidak apa, terimakasih ya yujin aku langsung ke kelas byeee” jawab nya kaget lalu pergi meninggalkan ku
           
            Yuri aneh kenapa dia tiba-tiba seperti itu, apa ada yang aneh dengan ku, atau aku ada salah dengan dia?. Padahal baru kemarin aku pergi ke toko buku bersama dia dan chaewon. Atau jangan-jangan yuri melihat plester luka ini, aku harap ini hanya perasaan ku saja. Selepas dari perpustakaan yuri langsung menhampiri teman-teman paduan suara

            “teman-teman ternyata benar apa kata baejin kalau yujin suka melukai dirinya sendiri” yuri yang tergesa-gesa dari perpustakaan, sedangkan nafasnya masih tersengal akibat dia lari
            “kau tahu dari mana yuri?” tanya chaewon
            “aku tadi melihatnya sendiri, aku lihat di tangan kiri yujin penuh dengan goresan seperti pisau atau cutter dan di urat nadinya terdapat plester luca dengan tulisan fvck” yuri
            “oke kalau begitu kita harus bantu yujin sekarang” ucap junwo

            Mereka teman-teman baik ku yang sudah tahu tentang kondisi ku pun akhirnya mendatangi baejin dan meminta maaf pada baejin karena mereka telah jahat pada baejin. Mereka menganggap omongan baejin hanyalah omong kosong, tapi kenyataannya baejin benar
            “baejin” teriak junwo dan baejin hanya sekali menoleh lalu kembali lagi pada aktifitasnya
            “baejin maafkan kami yang telah jahat padamu, sekarang kami percaya bahwa yujin benar-benar membutuhkan bantuan kami. Ayo kita sembuhkan yujin bersama” junwo
            “sekarang kalian baru percaya kan pada ku. Aku ingin kita semua membuat butterfly project” baejin
            “butterfly project, apa itu” Tanya yuri
            “project untuk orang seperti yujin. Dimana kita harus menggambar kupu-kupu di pergelangan kiri dan masing-masing kupu-kupu harus di beri nama. Tolong gambar seperti ini” baejin menunjukkan pergelangan tangan kirinya yang sudah hampir penuh dengan gambar kupu-kupu dengan namanya. Dan disalah satu kupu-kupu itu terdapat nama yujin
            “lalu fungsinya apa” chaewon menambahkan
            “ketika yujin ingin melakukan self-harm maka dia akan melukai si kupu-kupu yang berarti yujin telah melukai orang yang namanya ada di gambar kupu-kupu tersebut. Jika yujin sayang dengan orang tersebut maka yujin tidak akan melukai dirinya sendiri. Karena maksud dari project ini adalah saat yujin melukai dirinya = yujin melukai satu orang yang dia sayang” mereka semua kaget mendengar penjelasan baejin. Bagaimana mungkin orang se-introvert baejin bisa memiliki pemikiran seperti ini. Dari mana dia tahu tentang semua ini padahal dia saja tidak pernah bertukar informasi dengan orang lain
            “waaaawww kau hebat baejin, darimana kau bisa tau tentang project ini” junwo yang sebelumnya sering mencaci baejin sekarang berbalik memuji baejin
            “kita lakukan ini besok, tunjukkan pada yujin agar dia bisa berhenti melukai dirinya sendiri dan sembuh” baejin tersenyum yang membuat semua anak-anak heran

            Butterfly project dilakukan semua teman-teman ku sudah menggambar kupu-kupu yang sudah di beri nama orang tersayang mereka, termasuk keluarga dan teman sekolah. Aku yang saat itu sedang menggambar di taman sekolah tiba-tiba di kejutkan oleh teman-teman ku yang datang sambil menunjukkan tangan kiri mereka yang cantic. Aku bingung apa maksud mereka
            “yujin stop self-harm, love yourself” ucap yuri seraya mengeluarkan air mata
            “gambar kupu-kupu di tangan mu dan beri nama mereka dengan orang tersayang mu” chaewon tersenyum manis
            “ketika kau ingin melukai dirimu sendiri = kau melukai satu orang yang kau sayang” junwo
            “kita semua sayang padamu yujin, jika ada masalah ceritakan semuanya pada kami” yuri masih terisak
            “tuhan menciptakan seseorang tidak pernah sia-sia, termasuk kau” baejin senyum hangat
            “kalian” aku hanya bisa terdiam sambil menangis haru. Ternyata semua orang di sekitar ku sangat perduli padaku. Aku tidak menyangka mereka akan seperti ini. Tak lama yuri, chaewon dan yain memeluk ku dan kami menangis haru bersama mereka ternyata sangat sayang padaku

            Satu hal yang tidak pernah aku syukuri adalah aku memiliki teman-teman yang sangat berharga. Aku selalu mengeluh hidupku buruk, berantakan dan tidak pernah berwarna. Sampai aku lupa kalau aku memiliki orang-orang yang tulus mencintaiku. Baejin, orang yang kita anggap paling aneh ternyata bisa mengubah hidup ku  yang kelam. Sekarang aku mulai bisa menerima keadaan ku, aku mulai kembali lagi sayang pada ibu dan yooju. Ibu menjadi lebih survive dengan kanker payudaranya. Semakin hari kondisi ibu semakin membaik setelah di operasi. Yooju mendapatkan pinjaman uang dari tempat dia bekerja dan uang nya di gunakan untuk biaya operasi ibu.
            Teman-teman ku selalu aktif menanyakan keadan ibu dan yooju, mereka selalu sigap memberikan bantuan jika aku memiliki kesulitan. Baejin yang tadinya sangat pendiam sekarang mulai bisa bersosialisasi dan baejin menjadi lebih sering berkumpul dengan teman-teman ku. Aku menjadi lebih senang dengan hidupku saat ini. Semuanya terasa indah, kini saat nya akau mewujudkan mimpi ayah untuk menjadi anak yang pintar. Kata-kata yang selalu aku ingat adalah “tuhan tidak pernah menciptakan seseorang dengan sia-sia” itu menjadi alasan ku untuk terus semangat hidup bersama dengan kupu-kupu cantik ini


-        The end -

No comments:

Post a Comment